Skip to main content

Posts

If truth waits to be found 2

Temannya itu bernama Toji, mahasiswa perfiliman di Ritsumeikan University, pemuda yang sangat ramah, ia sendiri keturunan Jepang dan Amerika, dengan postur jangkung dan tampang mix race nya, perempuan mana saja pasti akan luluh kalo deket dia. Pertama kali saya menduga ia kekasihnya Tsumi, namun ternyata bukan. Padahal mereka cocok, Tsumi dengan wajah manisnya sudah pasti jadi idola  kalau dia jadi artis JAV Toji tinggal di flat berlantai 3, dimana di flat tersebut mayoritas yang tinggal kamarnya banyak diisi mahasiswa dan mahasiswi di universitas yang sama. Sore itu saya asyik ngobrol tentang film, terlebih membahas film yang baru saja selesai ia buat. Tsumi mengetuk kamar Toji mengajak kami bersantai di cafe seberang. Sesampainya di cafe, Tsumi menghubungi teman-temannya untuk nanti bertemu. Sore itu saya benar-benar senang, ketemu teman baru, berbicara banyak hal yang menyenangkan, membuat rencana malam ini yang akan panjang dan tak ada kata tidur,  like o...
Recent posts

If truth waits to be found

Udara dingin menggigit pada bulan pertengahan November, adalah kesalahan terbesar bagi petualang yang tak tahan dingin untuk melancong ke negara yang memiliki musim dingin di penghujung tahun. Jaket parasut beli di pasar malam tak kuasa melindungi pemiliknya yang bukan hanya kedinginan tapi juga kelelahan menyandang ransel yang hanya berukuran 30 liter. Tentu saja faktor umur juga nggak bisa dibohongi. Udara di kota Guilin saat itu, benar-benar lebih dingin daripada saat saya pergi ke Jepang di awal tahun. Saya menyusuri pedestrian kota yang ramai, melewati taman kota yang ramai oleh sekumpulan orang dewasa yang tengah melakukan gerak taichi, disudut taman lain tampak beberapa orang tua yang asyik bermain catur, dan penjual kacang bergerobak tak henti-hentinya menawarkan dagangannya pada orang-orang yang lewat, daun-daun di pepohonan taman mulai berjatuhan. Melewati taman kota, dikejauhan saya melihat dua pagoda kembar yang menjulang ditengah-tengah sungai. Bangunan pago...

A lady who always painting the sky

Surat itu saya temukan di buku harian tempat dimana biasa saya menuliskan catatan perjalanan, surat berwarna merah menyala.  Ia pasti menyelipkannya diam-diam.  Itu pun saya ketahui dua tahun kemudian, ketika saya memutuskan untuk pensiun dalam dunia penulisan dan petualangan.  Surat merah dari si gadis lincah. Didalamnya ada fotonya, memegang tulisan yang selesai ia buat. Saat itu, saya memang sedang dalam tahap istirahat dari kegiatan menulis maupun jalan-jalan, ada sebuah kesadaran melihat teman-teman seusia saya yang menjalani fase berumah tangga dan berkarier. Sedang saya? Saya masih saja berkutat dengan catatan perjalanan dan berselimutkan atap penjuru negeri kala itu. Sebelum berangkat ke kantor, saya menyempatkan diri mencari surat tersebut dan lalu membawanya ke kantor. Niat saya membacanya di kantor, selalu terhalang oleh pekerjaan yang menumpuk, belum lagi omelan dan instruksi atasan yang kadang membuat stamina saya terjun bebas. Sebut sa...

Pada negeri yang telah teruji

Saya bermalam di salah satu rumah teman asli keturunan Aceh bernama  Darul Mahdi, salah satu pria ramah dengan prestasi akademis terdepan di univ. Syiah Kuala. Darul dengan senang hati mengajak saya keliling kota dan menceritakan banyak sejarah negeri rencong hingga menemani saya ke pulau Weh menikmati pantai cantik dan pergi ke titik Nol kilometer, hingga menyelam di surga bawah lautnya di Iboih. Benar-benar pengalaman yang menyenangkan. Sepulangnya dari pulau Weh, keesokan paginya cuaca memang tengah mendung. Saya di jemput Oleh Lulu di pagi hari yang basah oleh gerimis yang mulai turun. Dara Aceh dengan senyum manis itu yang mengenalkan saya pada kuliner Aceh di pagi hari. Adalah kelezatan nasi gurih Pak Rasyid yang berada di sekitar mesjid raya Baiturrahman yang benar-benar menggugah selera berikut teh tarik yang melengkapi pagi itu. Kami bertukar cerita, alih-alih bercerita tentang bencana besar Tsunami yang orang-orang luar aceh selalu bertanya, ia bercerita tentang i...

Maiko

Sudah hampir 2 jam saya berdiri di pinggiran jalan, tujuannya apalagi kalo selain untuk hitchhiking, tadi memang ada beberapa mobil yang lewat, namun tujuan mereka hanyalah di dalam kota saja. Saya merapatkan lagi sweater putih saya dari hembusan angin kencang awal musim panas. Jam sudah menunjukan pukul 2 siang. Saya harus mendapatkan tumpangan sebelum hari berganti malam, karena saya gak punya budget untuk bermalam di Nagoya. Saya mengangkat semangat karton besar yang sudah saya tulis Kyoto, dengan tangan satu lagi menandakan jempol yang saya miringkan pertanda mau nebeng. Tapi mungkin ini bukan hari baik saya, ini rekor terlama saya dalam mendapatkan tumpangan. Terpikir untuk berjalan ke arah stasiun terdekat, sampai sebuah mobil berhenti. Lelaki Jepang bermobil van menepi, ia membuka kaca mobilnya. Saya ambil inisiatif untuk bertanya duluan dengan hanya menyebutkan kota tujuan saya, sembari menunjuk-nunjuk karton besar saya. “Kyoto?” Mata saya berbinar-binar Lelaki yang tampa...

Table of God

Ini bukan perkara banyak uang atau nggak, ini perkara seberapa besar kemauan kamu untuk pergi kesuatu tempat. Ini cerita tentang saya yang berpergian sendiri ke tempat para Nabi, pergi ke Arab saudi. Beberapa orang menyebutnya "lifetime journey." Saya datang ke Madinah, di saat waktu hampir menunjukan saat berbuka.. bergegas saya melangkahkan kaki menuju mesjid agung tersebut. Berbuka puasa di masjid nabawi. Saya terpukau melihat fenomena menarik. Banyak orang asli arab (penduduk) yang mebukakan puasa bagi pendatang yang berpuasa. Mereka berebut agar kita mau duduk di tempat mereka. Karena banyak sekali meja-meja yang disediakan sampai lesehan di dalam mesjid, mengingat tidak sedikit dermawan yang menyumbang. Orang Barat menyebutnya: "Table of God." Kita dilayani mereka dengan digandeng sampai tempat duduk, makanannya enak-enak, senyum, sapa dan peluk haru dimana2, bahkan surah al-fatihah yang dbaca sang Imam pun banjir air mata. Yang muda meminta...

Alasan sederhana tentang Bali

Banjarmasin, Warung kopi di sekitaran Kayu Tangi. Beberapa negara sudah saya jelajahi, kota-kota di Indonesia pun juga tak kalah pernah disambangi. Tapi Jujur saja saya belum pernah ke Bali. Hal itu yang saya utarakan pada teman ngopi pagi, yang kebetulan bertemu. Saya bercerita, bahwa teman di Jogja mengajak untuk pergi ke Bali, menyaksikan teman-teman kami berkompetisi tari latin disana. “Kalo gitu pas banget kan ini bisa jadi perjalanan pertama kamu kesana, kamu harus liat Bali, kamu harus tau kenapa turis-turis asing mengidolakan pulau dewata” Ucapnya bersemangat. Saya cuma bisa tersenyum simpul. “Kamu mau dengar alasan konyol kenapa saya sampai sekarang gak kesana?” Teman saya membenarkan posisi duduknya, mencoba mendengarkan seksama. Angin semilir meniup dari jendela warung kopi. “Yang saya tau dari kecil, Bali itu tempat bulan madu, jadi saya gak akan mau kesana dulu kalo belum dapat pasangan.” Teman keturunan Arab di depan mengernyikan dahiny...