Saya bermalam di salah satu rumah teman asli keturunan Aceh bernama Darul Mahdi, salah satu pria ramah dengan prestasi akademis terdepan di univ. Syiah Kuala. Darul dengan senang hati mengajak saya keliling kota dan menceritakan banyak sejarah negeri rencong hingga menemani saya ke pulau Weh menikmati pantai cantik dan pergi ke titik Nol kilometer, hingga menyelam di surga bawah lautnya di Iboih. Benar-benar pengalaman yang menyenangkan. Sepulangnya dari pulau Weh, keesokan paginya cuaca memang tengah mendung. Saya di jemput Oleh Lulu di pagi hari yang basah oleh gerimis yang mulai turun. Dara Aceh dengan senyum manis itu yang mengenalkan saya pada kuliner Aceh di pagi hari. Adalah kelezatan nasi gurih Pak Rasyid yang berada di sekitar mesjid raya Baiturrahman yang benar-benar menggugah selera berikut teh tarik yang melengkapi pagi itu. Kami bertukar cerita, alih-alih bercerita tentang bencana besar Tsunami yang orang-orang luar aceh selalu bertanya, ia bercerita tentang i...