Temannya itu bernama Toji, mahasiswa perfiliman di Ritsumeikan University, pemuda yang sangat ramah, ia sendiri keturunan Jepang dan Amerika, dengan postur jangkung dan tampang mix race nya, perempuan mana saja pasti akan luluh kalo deket dia. Pertama kali saya menduga ia kekasihnya Tsumi, namun ternyata bukan. Padahal mereka cocok, Tsumi dengan wajah manisnya sudah pasti jadi idola kalau dia jadi artis JAV
Toji tinggal di flat berlantai 3, dimana di flat tersebut mayoritas yang tinggal kamarnya banyak diisi mahasiswa dan mahasiswi di universitas yang sama.
Sore itu saya asyik ngobrol tentang film, terlebih membahas film yang baru saja selesai ia buat. Tsumi mengetuk kamar Toji mengajak kami bersantai di cafe seberang. Sesampainya di cafe, Tsumi menghubungi teman-temannya untuk nanti bertemu.
Sore itu saya benar-benar senang, ketemu teman baru, berbicara banyak hal yang menyenangkan, membuat rencana malam ini yang akan panjang dan tak ada kata tidur, like old times.
Tsumi mengangkat gelasnya, dan menyarankan untuk menghabiskan malam keramat bagi anak muda untuk pergi dugem, saya menggaruk kepala saya yang nggak gatal mendengar rencana Tsumi, bukannya nggak mau, tapi besok pagi hari, adalah hari kedatangan si gadis pendiam bermata bening indah, besok Jules datang ke Kyoto, langsung dari London.
Toji langsung menyesap tandas kopi hitamnya, ia tampaknya mengamini rencana Tsumi, ia bertekad untuk tidak tidur malam ini. "Ayo kita berpesta!"
Tsumi memekik kesenangan.
Saya lupa nama tempat dugemnya, namun sepertinya Toji dan Tsumi lumayan terkenal di club tersebut, banyak yang menyambut kedatangannya. Hinggar bingar dan dentuman musik yang dimainkan DJ benar-benar memekakkan telinga, terakhir saya dugem pun waktu dulu masih di Belanda, bersama teman-teman di tempat kerja serabutan dulu.
Tsumi yang sempat berganti pakaian, tampak makin manis diantara gemerlap lampu Clubbing, tak berselang lama teman-teman Tsumi dan Toji yang memang satu kampus datang berkumpul. Kami berpesta hingga larut malam, bahkan saya baru tau jika Toji juga berbakat menjadi seorang DJ, katanya ia dulu belajar waktu zaman SMU ketika dia stay di Amerika.
Ketika Toji beraksi makin menggila lah lantai clubbing dengan pekikan teman-temannya, apalagi Tsumi yang udah limbung kebanyakan minum.
Ketika Toji beraksi makin menggila lah lantai clubbing dengan pekikan teman-temannya, apalagi Tsumi yang udah limbung kebanyakan minum.
Malam itu, kami benar-benar larut seolah lupa jika kita nanti akan menua, kami berpesta laksana masa muda kami abadi.
****
Matahari bersinar hangat, melalui jendela kamar, saya terkapar tadi malam, kelelahan. Saya masih ingat jam 4 pagi tadi, kami baru pulang naik taksi, kami semua tegeletak tak berdaya di ruangan flat Toji beralaskan Tatami. Saya yang tidur menyamping, melihat kamar yang tadi malam penuh itu tampak kosong, rupanya teman-teman Toji yang tadi bermalam sudah pergi. Saya membalikkan badan dan mendapati Tsumi yang menatap saya sembari mengguncang bahu.
Mimpi apa gw semalam, dibangunin bidadari imut yang masih memakai baju pesta. Saya sendiri masih belum konsen begitu Tsumi mengumamkan sesuatu, dan barulah saya terkejut ketika ia menunjukkan jari manisnya ke seseorang yang duduk di balkon flat. Ada Jules!
Jules, sudah datang ke Kyoto! Tapi siapa yang jemput dia? Kenapa dia bisa tau saya di sini?
Saya mendatangi balkon, Jules tampak berbincang dengan Toji, asumsi saya pastilah ia dijemput Toji ketika HP saya terus berdering, sementara saya terkapar. Untung saja saya sempat bercerita tentang Jules pada Toji semalam.
"Enak ya tidurnya? Bisa ya ngelupan janjinya?" Jules berdiri dari duduknya dan mendekat. Setelah 2 tahun yang terlalui, setelah cerita-cerita kami yang terbaca banyak orang, sosok itu kini hadir kembali.
Masih dengan matanya yang selalu bikin saya terpesona, dan sapaan pertamanya yang menanyakan kabar dilatari matahari pagi. Sungguh ia masih menyimpan pesona yang sama.
Masih dengan matanya yang selalu bikin saya terpesona, dan sapaan pertamanya yang menanyakan kabar dilatari matahari pagi. Sungguh ia masih menyimpan pesona yang sama.
"Perutmu makin buncit Rei!"
Saya reflek menutup perut saya, dan tersadar kalo saya ternyata gak pakai baju.
Sigh! benar-benar pertemuan kembali yang tak terlupakan.
