Surat itu saya temukan
di buku harian tempat dimana biasa saya menuliskan catatan perjalanan, surat
berwarna merah menyala. Ia pasti menyelipkannya diam-diam. Itu pun saya ketahui dua tahun kemudian, ketika saya
memutuskan untuk pensiun dalam dunia penulisan dan petualangan.
Surat merah dari si gadis lincah.
Didalamnya ada fotonya,
memegang tulisan yang selesai ia buat.
Saat itu, saya memang
sedang dalam tahap istirahat dari kegiatan menulis maupun jalan-jalan, ada
sebuah kesadaran melihat teman-teman seusia saya yang menjalani fase berumah
tangga dan berkarier. Sedang saya? Saya masih saja berkutat dengan catatan
perjalanan dan berselimutkan atap penjuru negeri kala itu.
Sebelum berangkat ke
kantor, saya menyempatkan diri mencari surat tersebut dan lalu membawanya ke
kantor. Niat saya membacanya di kantor, selalu terhalang oleh pekerjaan yang
menumpuk, belum lagi omelan dan instruksi atasan yang kadang membuat stamina
saya terjun bebas.
Sebut saja si Boss, selaku atasan tempat saya bekerja di bidang advertising yang galaknya minta
ampun. Kadang menjadi copywriter di
suatu perusahaan kerja di Yogyakarta bisa dibilang menuntut kita berkerja
dibawah tekanan deadline yang luar
biasa ketat.
Kenyataan bahwa
seharusnya surat berwarna merah tersebut saya buka tadi pagi, masih bertahan di tempatnya,
di sudut meja diantara tugas-tugas ber-label deadline. Saya urung membukanya tadi pagi, begitu atasan saya,
memergoki saya yang sumringah bersiap membaca surat darinya.
Saya sendiri jujur
saja, bukan ini keinginan saya menjalani hidup... bekerja di bawah tekanan.
Sementara insting petualangan saya masih membara.
Beranda facebook yang
memuat kabar kelahiran anak dari teman-teman saya ataupun status engaged yang berubah menjadi married, seolah menjadi hantu-hantu masa
depan dan tali temali yang kencang mengikat saya dibalik meja kerja.
“Kalo hidup kamu gak
mapan? Jangan ngimpi buat ngelamar anak orang? Mau kamu kasih makan apa? Ransel?” Ucap Boss yang tahu latar
belakang saya.
Berbagai undangan
talkshow, menjadi pembicara, sampai penerbit yang terus menagih buku terbaru lewat email, selalu
sukses saya pindahkan dari inbox ke trash.
Yah... sudah cukup.
Jam menunjukkan pukul 6 sore, kantor sudah mulai sepi. Boss mendapati saya yang masih di ruang kerja. Ia
mengangguk dan menghampiri saya sembari tersenyum.
“Nah, begini kan lebih
oke, face the reality! Kerja keras,
gak usah banyak mimpi tinggi-tinggi! Dengar ya Rei, saya tahu kamu sudah banyak
keliling negara, sedang saya ini paling banter juga pergi ke Bali, tapi lihat
saya sekarang? Saya jadi Boss, dan saya yakin duit saya lebih banyak dari kamu,
yang hobby nya buang-buang uang buat jalan-jalan. Gak guna!”
Si Boss menepuk bahu
saya, sambil berucap:
“Oh ya, gak ada uang
lembur loh, walau kamu kerja sampe larut malam pun”
Saya mengangguk-angguk,
dan bernapas lega ketika boss pergi meninggalkan ruangan kerja, saya memeriksa
internet download manager saya.
“Yeaah tinggal 10 menit
lagi Miyabi beraksi”.
*
Ektase itu bernama masa lalu
Hujan turun sesaat saya
membuka jendela kamar kost, lagu-lagu love
song memories menjadi pengantar yang
pas untuk rebah menghilangkan penat.
Buru-buru saya bangun,
tersadar jika saya melupakan sesuatu. Yaah surat darinya. Dari Ling.
Saya masih menatap
surat tersebut, yang lusuh dimakan waktu.
“Hai ganteng, apa
kabar! (percayalah Rei, saya membiarkan panggilan ganteng ini karena sebelumnya
saya tidak berhasil menahan muntah, sayang jika dihapus, sudah memakan korban!)
Saya tidak bisa menahan
senyum. Entah mengapa, membaca paragraph pertama darinya saja sudah membawa
saya terbang jauh, ke dunia yang penuh dengan hal yang tak tentu namun
menyenangkan di dalamnya.
Paragraph awal itu
hanya hiburan, saya seharusnya sudah menduganya.. karena paragraph berikut
surat itu membuat saya terdiam lama.
Baru membaca setengah surat
tersebut, memaksa saya untuk kembali mengingat-ingat kejadian dua tahun
berselang. Lalu tertegun menemukan kebenaran dari isi surat tersebut.
Ia
ternyata tidak bergurau...
Ini akan menjawab
segala pertanyaan yang menghantui kami, menghantui saya dan Jules. Tentang hilangnya
kabar Ling. Nomer handphone-nya sudah tidak lagi aktif, dan ketika Jules
menanyai kampusnya tentang keberadaan Ling di Australia, ia sudah tidak
lagi melanjutkan kuliahnya. Bahkan Eduardo
kekasihnya pun ternyata sudah lama tidak lagi bersama dengannya. Putus!
Entah mengapa saat itu
perasaan saya nggak enak...
Jules, menyarankan untuk menjenguk keberadaan Ling di kota tinggalnya, dengan memperhitungkan jika kami sama-sama tinggal di Asia, tentunya lebih terjangkau dan dekat. Cih, dia kira, Asia itu seperti Eropa apa?
Saat itu saya cuma bisa beralasan jika saya tidak tahu alamat rumahnya.
Jules, menyarankan untuk menjenguk keberadaan Ling di kota tinggalnya, dengan memperhitungkan jika kami sama-sama tinggal di Asia, tentunya lebih terjangkau dan dekat. Cih, dia kira, Asia itu seperti Eropa apa?
Saat itu saya cuma bisa beralasan jika saya tidak tahu alamat rumahnya.
Tiba-tiba saya teringat sesuatu, lalu bergegas membuka
kembali inbox email pribadi. Dan benar, balasan dari Jules beberapa bulan yang
lalu masih tersimpan, seolah menjawab kebimbangan saya.
Alamat rumah yang sempat ia tanyakan di administrasi kampus di Australia, Alamat rumah si gadis lincah. Ling.
Alamat rumah yang sempat ia tanyakan di administrasi kampus di Australia, Alamat rumah si gadis lincah. Ling.
...
Saya mengesampingkan jauh, hasrat untuk menemui Ling. Namun dengan ditemukannya surat merah dan informasi alamat rumahnya dari Jules. Mau tidak mau menggugah memori saya beberapa tahun lalu, tentang masa muda kami, tentang indahnya persahabatan, serta isi surat merah ini yang kembali meniupkan aroma perjalanan dengan penuh sukacita.
Saya mengesampingkan jauh, hasrat untuk menemui Ling. Namun dengan ditemukannya surat merah dan informasi alamat rumahnya dari Jules. Mau tidak mau menggugah memori saya beberapa tahun lalu, tentang masa muda kami, tentang indahnya persahabatan, serta isi surat merah ini yang kembali meniupkan aroma perjalanan dengan penuh sukacita.
Kota Yogya masih hujan,
di sudut kamar masih tergeletak berkas-berkas kantor yang harus segera di selesaikan...
seolah kembali menyeret saya pada kenyataan.
Saya menghela napas
panjang, dan mengangkat berkas yang menumpuk, mulai mencicil pekerjaan.
Berusaha sebisa mungkin
menjadi pribadi waras dengan mengerjakan tugas-tugas kantor, masih di iringi Golden Love Song.
Dan lagu lama Peter
Cetera mengalun menjadi dilema.
".. If you leave me now,
You'll take away the biggest part of me.
Baby please don't go.
And if you leave now
you'll take away the very heart of me"
**
Seminggu kemudian
Suara Boss seolah
tercekat mendengar keinginan saya.
“Apa kamu bilang? Kamu
pikir saya bakal kasih ijin kamu pergi seenaknya aja?!”
“Saya gak minta ijin
Pak... saya mau berhenti kerja, resign.”
Si Bos tergugu, seolah
hilang akal.
“Kamu mau kemana?”
“Cina daratan” ucap
saya mantap. Sembari mengeluarkan surat pengunduran diri.
Sebelum saya pergi
meninggalkan ruangan kerjanya, si Bos menghampiri saya, setelah mengeluarkan
sesuatu dari laci meja kerjanya.
“Tolong ini di tanda
tangani saja, titipan dari putri saya”
Si Bos mengeluarkan
buku Travellous.
Saya mematung.
Si Bos setengah membisik
“Putri saya bilang, twitter dia tolong di folbek”
....
....
Yogya tiba-tiba hujan lagi.
....
Yogya tiba-tiba hujan lagi.
