Sudah berlalu 3 jam dari kedatangan. Dada masih aja naik turun gak karuan, gugup!. Akhirnya dengan bijak gue memutuskan untuk duduk di ruang tunggu, diam disana, beradaptasi dulu. Memulai bercakap dengan orang sekitar untuk lebih menguasai diri dalam keadaan shock culture. Waktu terus berjalan dari pagi, siang lalu menuju sore yang kelabu. Dan perut gue sekarang lapar... Gue masih inget, dengan cemilan2 yang di kasih rombongan haji sewaktu transit di Brunei kmaren. Roti yang sudah mulai mengering dan selai nanas mini. Gue mengoleskan di tengah keramaian. Mengunyah lamat2 biar kerasa kenyang. Tinggal bikin Susu Energen, gue mengeluarkan gelas plastik. Di kafe sebelah, gue melihat harga secangkir kopi saja seharga 4 euro. Kalo air panas nya aja berapa ya?, gue nekat bertanya sambil nenteng gelas plastik yang sudah berisi energen. Pria gemuk klimis penjaga cafe yang gue tanya langsung ngelongo, seolah2 baru kali ini ada pelanggan yang nanya, “berapa harga secangkir air panas?”. Dip...