Friday, December 26, 2014

Pada negeri yang telah teruji

Andrei B.
Saya bermalam di salah satu rumah teman asli keturunan Aceh bernama  Darul Mahdi, salah satu pria ramah dengan prestasi akademis terdepan di univ. Syiah Kuala.

Darul dengan senang hati mengajak saya keliling kota dan menceritakan banyak sejarah negeri rencong hingga menemani saya ke pulau Weh menikmati pantai cantik dan pergi ke titik Nol kilometer, hingga menyelam di surga bawah lautnya di Iboih. Benar-benar pengalaman yang menyenangkan.

Sepulangnya dari pulau Weh, keesokan paginya cuaca memang tengah mendung. Saya di jemput Oleh Lulu di pagi hari yang basah oleh gerimis yang mulai turun.

Dara Aceh dengan senyum manis itu yang mengenalkan saya pada kuliner Aceh di pagi hari. Adalah kelezatan nasi gurih Pak Rasyid yang berada di sekitar mesjid raya Baiturrahman yang benar-benar menggugah selera berikut teh tarik yang melengkapi pagi itu.

Kami bertukar cerita, alih-alih bercerita tentang bencana besar Tsunami yang orang-orang luar aceh selalu bertanya, ia bercerita tentang impiannya meraih gelar Master suatu saat nanti di benua Amerika. Dari tangannya yang terkepal dan semangat yang tak mampu ia sembunyikan ketika bercerita, saya yakin Lulu akan meraih impiannya tanpa kesulitan.

Thanks Lulu buat traktirannya. Nanti traktir saya lagi di benua Amerika ya :)

Setelah puas menikmati segelas kopi solong dan berpisah dengan Lulu. Saya segera menepikan becak bermotor, berminat menuju kampung Lampulo, kecamatan Kuta Alam, demi melihat jejak peristiwa bersejarah. Tsunami Aceh.

Saya meihat ramainya kapal penangkap ikan yang bersandar di pelabuhan Lampulo, terik panas kota banda Aceh jauh lebih panas dari Kota saya di Banjar, ini sudah kedua kalinya saya berganti kaos baju.

Becak yang saya tumpangi memasuki gang-gang perumahan penduduk hingga saya akhirnya tepat berdiri di di kapal bersejarah tersebut. Saya cukup terkesima melihat cukup besarnya kapal tersebut yang berada di atas puing-puing rumah penduduk. Kapal dengan berat sekitar 65 ton dan panjang badan kapal sekitar 25 meter.

.............

Air laut saat itu sudah mencapai leher orang dewasa. Keluarga Ibu Siah dan tetangga-tetangganya di desa lampulo sudah pasrah menjemput ajal. Bahkan ia melihat tetangganya sudah histeris melihat mayat-mayat yang hanyut diterjang tsunami.

Ucapan saling meminta maaf dan doa-doa pertanda ikhlas di ucap diantara deru bising arus tsunami.

Saat itu mereka meyakini terjadinya kiamat. Ditengah kepasrahan di terjang tsunami yang makin meninggi.. tiba-tiba sebuah bahtera datang.

Orang-orang berteriak “Ayo cepat naik kapal!“

Semua orang bersusah payah menaiki bahtera, tak sedikit yang gagal lalu hanyut dilibas arus. Mereka bertahan di atas kapal sembari merapal doa-doa.

Dan itulah kisah bahtera tak berawak.. penyelamat yang tiba-tiba datang dari tepi laut melintasi kota sejauh 3 KM. Untuk menyelamatkan 59 orang di desa Lampulo.

Saat air surut, yang tersisa di sekitar mereka hanyalah puing-puing reruntuhan, dan mesjid Baiturrahman di kejauhan yang sendirian tegak berdiri, di tengah sunyi kota banda Aceh yang hancur.

Tuhan menunjukkan kuasanya bagi umat yang mau belajar dari kejadian-kejadian.

Teman-teman,
Datanglah ke negeri ramah nan tabah, yang keyakinannya telah teruji oleh waktu dan bencana.
#Memperingati10tahunTsunami





Untuk Darul Mahdi dan Lulu, Terima kasih atas keramahan dan kebaikan kalian.
May The force be with you :)

Andrei B. / Author & Editor

Saat ini bekerja sebagai senior copywriter di perusahaan Consulting Creative di Jakarta

Coprights @ 2016, Blogger Template Designed By Templateism | Re-design By Andrei