Tuesday, October 8, 2013

Maiko

Andrei B.
Sudah hampir 2 jam saya berdiri di pinggiran jalan, tujuannya apalagi kalo selain untuk hitchhiking, tadi memang ada beberapa mobil yang lewat, namun tujuan mereka hanyalah di dalam kota saja. Saya merapatkan lagi sweater putih saya dari hembusan angin kencang awal musim panas. Jam sudah menunjukan pukul 2 siang. Saya harus mendapatkan tumpangan sebelum hari berganti malam, karena saya gak punya budget untuk bermalam di Nagoya.

Saya mengangkat semangat karton besar yang sudah saya tulis Kyoto, dengan tangan satu lagi menandakan jempol yang saya miringkan pertanda mau nebeng. Tapi mungkin ini bukan hari baik saya, ini rekor terlama saya dalam mendapatkan tumpangan. Terpikir untuk berjalan ke arah stasiun terdekat, sampai sebuah mobil berhenti. Lelaki Jepang bermobil van menepi, ia membuka kaca mobilnya. Saya ambil inisiatif untuk bertanya duluan dengan hanya menyebutkan kota tujuan saya, sembari menunjuk-nunjuk karton besar saya.

“Kyoto?” Mata saya berbinar-binar

Lelaki yang tampaknya berusia paruh baya itu, menjawabnya dengan bahasa Ibunya yang panjang lebar, Jelas saya langsung roaming..

Saya cuma bisa melongo, lalu menjelaskannya dengan bahasa Inggris kalo saya gak ngerti dia ngomong apa.
Selanjutnya si sopir, mengetahui kacaunya bahasa Jepang saya, dan ketidakmapuannya pula menggunakan bahasa Inggris, detik berlikutnya si sopir langsung tancap gas, meninggalkan saya. Mengepulkan harapan saya dapet transport gratis, tega nian.

Inilah kelemahan mendasar sebagai turis di negara yang masyarakatnya jarang mampu berbahasa Inggris. Bisa di maklumi tindakan si lelaki tadi, karena seperti yang sering saya bilang, sopir yang terbiasa memberikan tumpangan itu agendanya juga nyari temen ngobrol sepanjang perjalanan.

Ough, seharusnya tadi saya langsung naik saja, peduli amat! Saya mengutuk-ngutuk diri, mengingat kesempatan emas yang terbuang, bayangan membeli tiket mahal ke Kyoto kembali menghantui.. membuat saya kali ini lebih gigih angkat karton tinggi-tinggi.

Mobil sedan berkaca gelap menepi, thank god!. Saya menunjukan karton saya. Sopir di belakang kemudi hanya memberikan isyarat kedip lampu, jujur saja ada perasaan aneh. Lantaran biasanya saya mengukur sifat si sopir dalam perbincangan pertama sebelum saya naik ke mobilnya.

Nah ini jangankan ia membuka kaca mobilnya, kacanya saja gelap, agak sulit melihat si sopir.

Terbayang membeli tiket mahal, saya tanpa pikir panjang langsung masuk ke dalam mobil, menutup rapat pintu mobil, dan lalu berpaling kepada si sopir ingin mengucapkan terima kasih.

“Ariga.....” saya tercekat, melihat sopir disebelah saya dengan konde besar di kepalanya dan bedak tebal di wajahnya dengan baju berbalut kimono berwarna cerah. Geisha!


Saya sampai melonjak kaget menemui impian terburuk saya, bertemu Geisha! Hampir saja reflek tas ransel saya melayang ke muka berbedak tebalnya. Saya berusaha ambil napas panjang, menghadapi ketakutan yang nyaris menjadi Phobia. Ya jujur saja, saya selalu serem kalo liat Geisha dengan riasan menornya, gak heran selama di Jepang gak ada satupun saya punya photo Geisha.

“Well, since I can’t speak Japan. So better I lift down now” Ucap saya gemetar tanpa memandang, kali ini saya mau gak mau, harus turun! Harga Mati! Dan berharap si Geisha itu tau kalo saya bukanlah temen seperjalanan yang cocok untuknya.

Ceklek.. ceklek.. gagang pintu mobil tidak kunjung terbuka. Saya berpaling pada Geisha gugup.

“Don’t worry I can speak English fluently” si Geisha menyatakan kemampuan berbahasa Inggris fasihnya seraya menyeringai. Berani bertaruh kalo ia tahu kalau saya benar-benar ketakutan saat itu.

Dan Bruuummmm! Geisha menginjak penuh pedal gasnya.

Mampus lah!

*

“Karena ini akan memakan perjalanan waktu yang panjang, ada baiknya kita saling mengobrol, tenang saja saya gak akan ngegigit kok. Hihihiihi”

Cekikikan terakhirnya itu bikin bulu kuduk saya merinding. Setelah saya berhasil mencerna kalimatnya, ada perasaan gugup untuk bertanya.

“Hey bukankah menuju Kyoto hanya memerlukan waktu sekitar 2 jam?” Tanya saya yang hanya sanggup menatap lurus ke depan, gak berani liat kesamping.

Perasaan saya mengatakan kalau Geisha di sebelah saya sedang tersenyum licik. “Hihihihi! kata siapa kita langsung akan ke Kyoto? Kita akan ke Hikone dulu. 2 jam kesana! Hihihihi!"

“Hah?! Kalo emang gak kesana kenapa kamu ngasih tumpangan? Katanya tadi mau ke Kyoto?! Udah deeeh saya turun disini aja!” Makin cemas saja saya, apalagi sekarang tau, kalo dia hobi ketawa kayak kuntilanak.

“Taruhan deh, sampai malam kamu berdiri disana, nunggu tumpangan ke Kyoto juga gak akan dapat-dapat, Jam segini jamnya orang sibuk ngantor, kecuali kalau weekend. Terlebih kalo kamu ngarep tumpangan mobil-mobil jasa layanan, peraturan perusahaan mereka gak akan ngizinin orang asing buat numpang.” Jelas Geisha panjang lebar, sambil sesekali merapikan sasakan kondenya.

Saya lemas, ingin menyandarkan tubuh kebelakang, namun gagal. Lantaran badan ini tegang alami, self defense lantaran ketakutan.

Saya memberanikan diri menatap Geisha kesebelah, reflek mengiba supaya anak Banjar satu ini jangan diculik. Si Geisha berpaling, kembali cekikikan.

“Hihihihi”

Cih, saya membuang muka, berasa saya lagi dipermainkan ketakutan saya.

“Nanti sesampainya di Hikone, itu hanya memerlukan waktu 1 jam saja kok menuju Kyoto. Sudahlaah kamu temani aku dulu, nanti kamu baru saya antar”

“Temani kemana? Melayani Yakuza?!” Cibir saya pedas, gak mau kalah menindas.

“Iya bener, tau aja kamu!” Ucap Geisha kalem.

.....

Saya meneguk ludah.

Totally Crap!

Geisha satu ini rupanya juga sekaligus pembalap. Kecepatan mengemudinya benar-benar liar, tampaknya ia terburu-buru. Simalakama saya sebagai penumpang, antara ingin menyampaikan kekhawatiran, juga di sisi lain ada perasaan senang, karena dengan begini perjalanan akan cepat sampai dan saya akan segera berpisah dari kutukan hari ini.

Sepanjang perjalanan saya disuguhkan pemandangan yang indah, desa-desa kecil di pinggiran yang asri. Orang Jepang suka sekali dengan keindahan taman-taman depan rumahnya.

Gak heran pemandangan di desa lebih bagus, selain mereka punya ruang lebih untuk membuat taman kreasinya juga lantaran sekaligus dikelilingi dengan hijaunya pohon-pohon dan anak sungai yang mengalir tak jauh dari desa mereka.

Di sisi kiri, di jendela saya seolah melihat mimpi indah, di sisi kanan melihat si Geisha saya seperti ngeliat mimpi terburuk saya. Heu..

Geisha bernama Maiko, sesekali membenarkan make up tebalnya ketika mobil berhenti di lampu merah. Beberapa saat kemudian ketika memasuki kota kecil saat ia diharuskan mengemudi pelan, ia membuka cerita.

Ketergesaannya saat itu lantaran ia terlambat berkumpul bersama teman Geisha lainnya yang sudah disewa sebagai penghibur melayani tamu-tamu. Dan tentu saja agensinya marah besar. Dan Maiko berjanji akan secepatnya menyusul tepat waktu menuju kota Hikone. Gak heran dari tadi telepon genggamnya gak kunjung diam, dan entah sudah berapa kali ia meminta maaf kepada lawan bicaranya.

Kurang dari dua Jam, kami memasuki kota Hikone. Sama dengan kota kecil lainnya tampak begitu asri dan bersih.

“Kemana kita? Ke gedung pertunjukan?”

Tanpa melepaskan pandangan matanya yang cemas, sekaligus ingin buru-buru. Ia hanya menunjuk ke atas bukit.

“Kita kesana”

Mata saya mengikuti arah telunjuknya. Dan saya terkesima. Nun di bukit sana, saya melihat kemegahan sebuah kastil. Itu adalah Hikone-Jo Castle.

Mobil makin dipacu kencang, menanjaki jalan berbukit. Lalu berhenti di sebuah parkiran yang tak jauh dari kafe kecil.

“Ayo kamu ikut aku!” Geisha setengah memerintah dengan wajah paniknya.

“Lah? Ngapain?” saya malah ikutan panik. Seolah tersihir saya ikut saja, mengikutinya dari belakang. Ia berjalan cepat, lantaran Kimononya gak memungkinkan baginya untuk berlari.

Kami memasuki area taman luas yang indah, taman yang tertata rapi dengan pemandangan Kastil Hikone-jo tak jauh di atasnya.

Begitu, sampai di sebuah bangunan yang mirip pendopo, terdengar petikan dari alat musik Shamisen. Seorang pria dengan setelan jas berbadan tegap, tampak menyambut Maiko dengan wajah kesal dan kata-kata bernada amarah, Maiko hanya menunduk-nunduk, lalu sebelum masuk kedalam pendopo. Ia menyuruh saya mendekat, saya ragu.

Saya cuma memandang ke lantai, ketakutan menatap Geisha yang kini di depan saya, dan gugup memandang pria besar dengan Tatto yang tampak di ujung setelan lengan jasnya.

“Nanti kita bertemu lagi jam 8 malam, di parkiran mobil ya, jangan kemana-mana”

“Lah? Terserah saya dong mau kemana-mana, toh ini kan urusan bisnis kamu” saya gak kalah berbisik, sesekali melirik ke pria bertatto, jaga jarak.

“Please, tunggu saya.
....

                                                                                   **
Saya menikmati Hikone Jo Castle, yang tepatnya berada di Prefecture Shiga, Kansai. Entah karena belum memasuki musim liburan atau gimana, tapi dibanding dengan obyek wisata lainnya, saya lihat jarang turis asing yang kesini, kebanyakan turis2 lokal.

Kastil megah ini benar2 memanjakan mata terletak di atas puncak perbukitan, menawarkan pemandangan kota Hikone yang sejuk.


Jalan menanjak menuju Kastil Hikone Jo


Hikone Jo Castle!


Jembatan yang juga pintu masuk Hikone jo Castle dari bagian belakang


Inside Hikone Jo Castle

Secara umum kastil ini menawarkan wisata sejarah, seperti halnya yang terdapat di Keraton Yogyakarta. Terdapat sejarah kastil itu sendiri, hingga benda-benda terkait sejarah seperti senjata2 dan foto2 jaman dulu. Kastil ini dibangun dalam kurun waktu 20 tahun lamanya, selesai pada tahun 1622. Bisa dibilang kastil ini masih orisinal tidak mengalami banyak rekontruksi, karena tidak mengalami kehancuran akibat perang maupun kebijakan pasca era feodal yang dimulai pada tahun 1868.

Di tahun tersebut saat era Meiji dimulai, banyak kastil yang di jadwalkan dibongkar. Namun hanya kastil ini yang tetap utuh karena titah Kaisar, tidak heran sampai hari ini kastil tersebut tetap menjadi salah satu kastil asli konstruksi tertua di Jepang, hingga masuk dalam Unesco World Heritage. 


Dalam hati saya bersyukur Maiko membawa saya kesini, ke kota kecil yang indah dan sejuk. Terlalu asyik menikmati keanggunan kastil Hikone Jo dan bekeliling di sekitar kotanya membuat saya lupa diri untuk temu janji kembali dengan Maiko. 

Saya memilih menunggu di kafe yang tak jauh dari parkiran mobilnya Maiko. Di dalam kafe tersebut hanya beberapa orang yang mulai memesan makan malam. Saya niat sebenernya cuma menunggu, walau perut ini sudah terasa lapar, pelayan kafe yang cukup mengerti bahasa Inggris mempersilahkan saya menunggu di kafe nya. Saya memesan segelas Ocha (teh).

Sudah satu jam saya menunggu tanpa hiburan, diluar langit sudah gelap, penanda beberapa saat kedepan kota ini akan di guyur hujan. 

Kafe temaram dengan lampu kuning memberikan kesan hangat, melihat orang2 di luar sana mulai bersedekap tangan mengusir dingin malam, tak sedikit orang2 mulai masuk ke kafe ini memesan minuman hangat. Termasuk seorang gadis berparas manis yang baru saja memesan minuman lalu berjalan ke meja saya. Rezeki emang gak kemana!

Perempuan itu duduk, ada helaan nafas berat, ia lalu sibuk mengutak-atik HP nya setelah sebelumnya ia melempar senyum ke arah saya dan duduk tepat di seberang saya. Kami semeja. 

Belum sempat mengeluarkan sisir kecil dan merapikan rambut, perempuan manis itu sudah membuka percakapan. 

"Kamu suka kota ini?"

Wah bahasa Inggrisnya fasih!  Saya kegirangan, bisa mendapat teman ngobrol semanis ini.

"Ya saya suka kota ini, bersih, sejuk dan perempuannya manis2" Saya mengeluarkan rayuan kelapa. sembari mengulurkan tangan.. 

"Hai, saya Rei, kamu?"

Perempuan yang dimaksud mengangkat kepalanya dari HP yang sedari tadi ia pandang, lalu melongo, berikutnya ia ketawa terpingkal, hampir seisi kafe memandang kami. apalagi ketika ia mulai tertawa seperti kuntilanak.

Membutuhkan waktu 2 menit baru saya menutup wajah saya menahan malu, perempuan manis ini adalah Maiko si Geisha! 

Sigh

Menghilangkan malu saya kembali memasang tampang cool, seraya bertanya ketus.

"Lama amat sih kamu disana? Emang kamu jadi Geisha ngapain aja sih? Kamu ngelayanin para tamu2 ya?"
Saya mengangkat jari saya memberikan tanda kutip pada kata melayani. 

Maiko hanya tersenyum mendengar pertanyaan nakal saya, ia menjawab dengan santai.

"Jangan samakan Geisha itu dengan pelacur, walau tugas utamanya adalah menghibur para tamu, dimulai dari menari, memainkan alat musik, hingga harus memiliki seni tersendiri untuk menuangkan teh. Intinya Geisha itu adalah seorang entertainer, bahkan kami memiliki sekolah khusus untuk menjadi seorang Geisha yang memakan waktu 3 tahun lamanya."

Entah saat itu saya tertarik dengan penjelasannya atau takjub dengan keparasan wajah manisnya, saya hanya mengangguk sekedar, seraya memainkan HP saya untuk diam2 mengambil foto dirinya. :p

"Ngomong2 orang tua kamu gak masalah kamu menjadi Geisha?" Saya akhirnya bertanya setelah berhasil mengambil foto dirinya.



"Kamu tahu gak menjadi Geisha itu salah satu syaratnya adalah mampu menjaga identitas pribadinya, kerahasiaannya. Jadi bukan saja tamu yang saya layani yang tidak mengenal siapa dan dari mana asal saya, bahkan orang tua saya saja, gak tau kalo saya jadi Geisha" 

Saya menjadi tertarik dengan penjelasan singkat Maiko. 

"Jangan-jangan nama kamu sebenernya bukan Maiko yah?" tebak saya

Maiko menyelesaikan ketikan pesan di HP nya, lalu mengangguk sambil mengedipkan matanya. "Iya nama saya bukan Maiko, Maiko itu istilah untuk Geisha pemula"

Saya mengangguk, lalu meminta maaf kalo candaan saya tadi sudah lancang.

Maiko mencondongkan badannya, membisik "Enggak sepenuhnya salah kok, kadang seorang Maiko ada juga yang bisa sampai menjadi "teman tidur".  

Saya terkesima, terlebih ketika ia menjelaskannya sembari mengerling nakal matanya.

"Oooh... gitu.." saya agak terbata, sembari mengangkat gelas Ocha saya, dan menyesapnya, menghilangkan grogi. Padahal gelas saya udah kosong dari tadi. 

Maiko tersenyum, tidak ada lagi ketawa kuntilanaknya yang keluar, yang ada paras manisnya nampak makin menggoda ketika ia menopang dagunya lalu menatap sayu, seolah menantang keberanian saya.



Sementara itu di luar sana, hujan mulai turun.. orang2 merapatkan jaketnya, saya malah pengen buka baju 

Perjalanan akan dilanjutkan menuju Kyoto, memakan waktu 1 jam, dan saat itu saya punya firasat traveling kali ini, akan menjadi traveling yang tidak biasa.

Saya membalas pesan singkat dari HP saya, mengatakan pada seseorang di ujung belahan dunia lainnya untuk segera datang kemari, karena Jepang akan menjadi perjalanan yang tak kalah menariknya dengan perjalanan bersama kami dulu di Eropa. 

Untuk menyelesaikan masa muda kami yang belum habis.

Andrei B. / Author & Editor

Saat ini bekerja sebagai senior copywriter di perusahaan Consulting Creative di Jakarta

Coprights @ 2016, Blogger Template Designed By Templateism | Re-design By Andrei