Surat itu saya temukan di buku harian tempat dimana biasa saya menuliskan catatan perjalanan, surat berwarna merah menyala. Ia pasti menyelipkannya diam-diam. Itu pun saya ketahui dua tahun kemudian, ketika saya memutuskan untuk pensiun dalam dunia penulisan dan petualangan. Surat merah dari si gadis lincah. Didalamnya ada fotonya, memegang tulisan yang selesai ia buat. Saat itu, saya memang sedang dalam tahap istirahat dari kegiatan menulis maupun jalan-jalan, ada sebuah kesadaran melihat teman-teman seusia saya yang menjalani fase berumah tangga dan berkarier. Sedang saya? Saya masih saja berkutat dengan catatan perjalanan dan berselimutkan atap penjuru negeri kala itu. Sebelum berangkat ke kantor, saya menyempatkan diri mencari surat tersebut dan lalu membawanya ke kantor. Niat saya membacanya di kantor, selalu terhalang oleh pekerjaan yang menumpuk, belum lagi omelan dan instruksi atasan yang kadang membuat stamina saya terjun bebas. Sebut sa...