Udara dingin menggigit pada bulan pertengahan November,
adalah kesalahan terbesar bagi petualang yang tak tahan dingin untuk melancong
ke negara yang memiliki musim dingin di penghujung tahun.
Jaket parasut beli di pasar malam tak kuasa melindungi
pemiliknya yang bukan hanya kedinginan tapi juga kelelahan menyandang ransel
yang hanya berukuran 30 liter. Tentu saja faktor umur juga nggak bisa
dibohongi.
Udara di kota Guilin saat itu, benar-benar lebih
dingin daripada saat saya pergi ke Jepang di awal tahun. Saya menyusuri
pedestrian kota yang ramai, melewati taman kota yang ramai oleh sekumpulan
orang dewasa yang tengah melakukan gerak taichi, disudut taman lain tampak
beberapa orang tua yang asyik bermain catur, dan penjual kacang bergerobak tak
henti-hentinya menawarkan dagangannya pada orang-orang yang lewat, daun-daun di
pepohonan taman mulai berjatuhan.
Melewati taman kota, dikejauhan saya melihat dua pagoda
kembar yang menjulang ditengah-tengah sungai.
Bangunan pagoda yang berada di tengah-tengah danau Shanlu
atau Shan Hu dalam bahasa China. Pagoda kembar ini unik dan indah. Pagoda kembar tersebut adalah pagoda
matahari yang terbuat dari tembaga dengan 9 menara dan tinggi 41 meter. Sedangkan satunya lagi disebut pagoda bulan yang terbuat dari kayu dengan 7 menara dan tinggi 35 meter.
Saya mengambil tempat terbaik untuk diam mengamati twin
pagoda tersebut, mencoba menikmati senja yang turun ditemani kacang rebus yang
tadi dibeli, udara memang tambah dingin, seharusnya saya langsung mencari hotel
yang sudah di booking saja tadi. Namun masalah traveling ke negeri yang masyarakatnya sedikit yang bisa berbahasa Inggris, tentu saja menjadi masalah klasik, tidak banyak orang
yang mengerti maksud saya.
Twin pagoda menyala indah, saya masih saja termenung di
tempat yang sama, kacang rebus habis tak bersisa. Sepasang kekasih mengagetkan
lamunan saya, mereka meminta bantuan untuk difoto berlatar twin pagoda.
Saya mengiyakan dan melengos sebal, dengan pose mereka yang
saling merangkul dan memeluk mesra. Enak ya Bro.. dingin-dingin gini pelukan, sigh!.
Saya hampir saja melupakan sesuatu hal, begitu mereka pamit
dan berterima kasih atas bantuan jepretan amatir saya. Karena mereka adalah
orang Cina yang mampu berbahasa Inggris. Buru-buru saya mengeluarkan secarik
kertas alamat hostel tempat saya akan menginap nanti, berharap jika pun mereka
tidak tahu tempatnya, mereka bisa bantu saya untuk menterjemahkannya kepada
orang lokal.
Luckily hostel tersebut malah bersebelahan dengan hotel tempat tinggal mereka. Aman kalo gitu.
Luckily hostel tersebut malah bersebelahan dengan hotel tempat tinggal mereka. Aman kalo gitu.
Sebelum kami beranjak pergi, sepasang kekasih tersebut
mengajak saya untuk mampir dulu ke kedai makan untuk santap malam. Mereka
ternyata adalah sepasang suami istri yang tengah melakukan honey moon trip.
Mereka sendiri berasal dari Hongkong.
Di kedai makan yang terletak dikeramaian taman kota, kami
menikmati salah satu makanan khas Guilin yaitu steam Ikan sungai Li yang
benar-benar lezat karena kelembutan daging dan gurih rasanya.
Lelaki bernama Wu menceritakan banyak tentang kota Guilin,
sebelum menikah ia memang sempat ke kota ini bersama teman kuliahnya, singkat
cerita kota ini didirikan oleh Kaisar Shihuangdi pada tahun 214 SM, Kota Guilin
berlokasi di bagian timur laut Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi, Tiongkok
barat daya.
Yang menarik dari perkenalan saya adalah ketika mengetahui
nama pasangannya tersebut bernama sama dengan si Gadis Lincah, Ling. Memang
bagi orang Cina nama Ling ini pasaran betul. Padahal nama gw juga pasaran
Di tengah perjalanan pulang menikmati malam, saya yang
berjalan agak menjauh dari mereka, beberapa kali ditawari perempuan-perempun
penghibur, walau sama-sama nggak ngerti bahasa masing-masing, namun tentu saja
saya gak bodo-bodo amat untuk tau maksud orang-orang yang mendekati saya walau
hanya dengan 1 kata yang terucap oleh mereka: SEX Mister.. SEX.
Crap!
Saya menempati hostel bernama Green Forest, satu ruangan
bersama beberapa backpacker yang datang dari Cina belahan lain.
Ada perasaan berdebar menyambut hari esok, saya sudah
menemukan kemana saya akan pergi selanjutnya,menuju kota berpanorama indah,
tempat dimana saya akan bertemu dengan jawaban, atau bisa saja nihil.
Selimut tebal dan kasur empuk belum mampu menutup mata saya
lelap, pikiran saya masih berkecamuk.
Dimulai dari surat berwarna merah darinya, yang meninggalkan petunjuk untuk melihat uang Yuan bernomimal 20. Saya tahu tempat itu, tempat yang konon jadi inspirasi untuk scenery film Avatar dan Starwars episode III. Yangshuo adalah nama kota kecil itu.
Dimulai dari surat berwarna merah darinya, yang meninggalkan petunjuk untuk melihat uang Yuan bernomimal 20. Saya tahu tempat itu, tempat yang konon jadi inspirasi untuk scenery film Avatar dan Starwars episode III.
Tiga tahun berselang setelah kedatangannya ke kota
Yogyakarta, kini saya berbalik mengunjunginya, ada rahasia yang terurai satu
persatu dan langkah kaki ini tidak serta merta dimulai dari kota ini, beberapa
minggu yang lalu saya masih membaui aroma kamarnya di flat menjulang kota
Hongkong. Entah dorongan dari mana yang membawa saya berakhir disini.
Mata gadis lincah itu, bahkan semyumannya betul-betul
mewarisi dari Ibunya, Ibu yang saya temui dan menjamu saya dengan teh hangat
dan kue tart telurnya. Perempuan berusia 65 tahun itu mulai bercerita banyak
tentangnya, tentang anaknya.
Membayangkan lagi kisah mereka saat itu, membuat mata ini kembali berbunga, saya memaksakan diri untuk tidur, sebelum perasaan ini kembali gundah.
Membayangkan lagi kisah mereka saat itu, membuat mata ini kembali berbunga, saya memaksakan diri untuk tidur, sebelum perasaan ini kembali gundah.
Bis yang saya tumpangi membawa saya berpergian 1,5 jam
perjalanan menuju kota Yangshuo, kota kecil ini terletak di wilayah Provinsi
Guangtxi, Yangshuo terletak di tepi sungai li, dan dikelilingi pegunungan
kapur/ karst.
Ada yang mengatakan jika Yangshuo adalah tempat paling
indah, hingga menjadi inspirasi bagi banyak lukisan-lukisan di Tiongkok.
Bis melewati julangan perbukitan karst, kabut masih belum
hilang, seolah masuk kedalam dunia lain, udara dingin masuk melewati ventilasi
udara menambah dingin bis yang bermuatan tidak lebih dari 10 penumpang.
Udara dingin ini membawa lamunan saya 2 tahun yang lalu, ke kota kecil di
Kawaguchi Ko, Jepang. Setelah urung menaiki gunung Fuji, lantaran saran dari
pemuda lokal, lalu berlanjut bersama gadis Geisha menuju Kyoto. Tanpa disadari
senyum saya terkembang mengingat saat-saat itu, pada masa indah di negara yang
tak akan ada puasnya untuk dijelajahi.
Kyoto, 2 tahun yang lalu.
Gadis Geisha yang memberi saya tumpangan itu bernama asli
Mutsumi, setelah menemaninya singggah di prefektur Shiga, kini kami sudah
sampai di Kyoto. Kota ini benar-benar favorit saya, persis seperti kota Yogya,
kota budaya dan kota pelajar. Tempat dimana pagi hingga malam selalu dihidupkan
oleh sukacita remaja kotanya.
"Eh Mutsumi bisa tolong carikan aku hostel murah di
Kyoto?" Tanya saya
Mutsumi mengalihkan pandangan matanya sebentar, seraya
tersenyum manis,
"Udah tenang aja, nggak usah nginep, kalo sama saya aman,
btw jangan panggil nama saya lengkap dong"
"Terus Mutsumi mau dipanggil apa?"
"Panggil aja Umi"
Saya mematung
.......
.......
Tiba-tiba saja terbayang Hadad Alwi berdendang bersama Sulis
menyanyikan namanya.
Tsumi (saya tulis saja demikian, daripada malah tiap ngetik
kebayang nyokap) menawarkan untuk stay di tempat temannya, ia bilang saya pasti
suka dengannya, lantaran teman prianya itu memiliki passion yang sama dalam
dunia film.
Mobil yang dikemudikan Tsumi, berbelok menuju sebuah flat bertingkat, aroma segar kota Kyoto saya hirup dalam-dalam, saya melempar jauh pemandangan indah kota. Bunyi lonceng sepeda dan semilir angin sore melayangkan imajinasi membayangkan petualangan alam yang menantang untuk dijelajahi.
Pesan di HP saya berbunyi, dan saya tersenyum membaca isinya. Setelah sekian tahun lamanya, besok saya akan berjumpa kembali dengannya, menyambut tantangan alam negeri Sakura. Bersama si Gadis bermata bening indah.


