Sudah hampir 2 jam saya berdiri di pinggiran jalan, tujuannya apalagi kalo selain untuk hitchhiking, tadi memang ada beberapa mobil yang lewat, namun tujuan mereka hanyalah di dalam kota saja. Saya merapatkan lagi sweater putih saya dari hembusan angin kencang awal musim panas. Jam sudah menunjukan pukul 2 siang. Saya harus mendapatkan tumpangan sebelum hari berganti malam, karena saya gak punya budget untuk bermalam di Nagoya. Saya mengangkat semangat karton besar yang sudah saya tulis Kyoto, dengan tangan satu lagi menandakan jempol yang saya miringkan pertanda mau nebeng. Tapi mungkin ini bukan hari baik saya, ini rekor terlama saya dalam mendapatkan tumpangan. Terpikir untuk berjalan ke arah stasiun terdekat, sampai sebuah mobil berhenti. Lelaki Jepang bermobil van menepi, ia membuka kaca mobilnya. Saya ambil inisiatif untuk bertanya duluan dengan hanya menyebutkan kota tujuan saya, sembari menunjuk-nunjuk karton besar saya. “Kyoto?” Mata saya berbinar-binar Lelaki yang tampa...