Film Indonesia seperti yang saya sebutkan di atas, bisa dikatakan terbawa trend, mereka membuat film atas nama keuntungan semata tanpa mengindahkan nilai estetik film yang mereka buat, jangan heran jika membuat film bagi mereka hanyalah pekerjaan semata, buat film atas nama pasar(kreatifitas dipasung) ---> Eksistensi----> Uang.
Film maker yang berkerja macam itu tentu saja tidak bisa dikatakan membawa andil dalam kemajuan kualitas perfilman nasional. Memang jarang sekali film bagus (yang notabene membawa idealis sekaligus acapkali melawan arus/di luar trend) membawa kesuksesan secara finansial. Ini banyak dilihat dari film2 bagus yang terabai secara apresiasi ketika tayang di layar lebar.
Salah satunya adalah Fiksi, film yang di sutradarai film maker muda Mouly Surya ini, bagi saya termasuk film yang mengatas namakan mutu, dalam satu kesempatan ketika mewawancarai nya untuk buletin Montase dengan juga salah satu produser film fiksi Rama Adi, ia mengatakan sesuatu yang valid: Untuk apa membuat film mengikuti trend jika toh belum ada jaminan bahwa film itu akan meledak di pasaran, lebih baik buat film sesuai dengan apa yang kita inginkan (untuk di sampaikan pada penonton/ bebas berkreasi tanpa ada tekanan dari pihak produser, yang berkepentingan). Film fiksi secara nilai jual (financial gain) mungkin kalah dengan film yang beredar pada waktu yg bersamaan, namun untuk kualitas film ini yang terdepan (pemenang FFI 2008 untuk film terbaik)
Adalah UPI salah satu sutradara muda berbakat yang berdiri atas nama jaminan mutu film maker handal Indonesia dalam membuat film2 baik (Realita cinta dan Rock n Roll.,Radit dan Jani) yang pada 5 november, waktu yang dipilih Upi untuk premiere film terbarunya serigala terakhir.Berikut adalah sinopsis film serigala terakhir:
Disebuah pinggiran Jakarta dengan sekelompok remaja laki-laki tumbuh dan menjalin persahabatan yang kuat. Mereka adalah Ale (Fathir Muchtar), Jarot (Vino G. Bastian), Lukman (Dion Wiyoko), Sadat (Ali Syakieb), dan Jago (Dallas Pratama). Ale adalah sosok yang paling menonjol diantara mereka. Jiwa pemimpinnya sangat kentara sekali. Sementara Jarot adalah sosok yang paling tidak banyak omong dan tertutup.
Suatu peristiwa dalam sebuah pertandingan sepak bola yang berakhir dengan keributan. Pada saat itu Ale tampak terdesak karena lawannya menggunakan pisau. Mereka semua berusaha membantu Ale. Sampai akhirnya Jarotlah yang berhasil melumpuhkan lawan dan tanpa diduganya pisau itu tertancap ditubuh lawan, rubuh bersimbahkan darah, dan mati. Seketika semua diam dan kemudian kabur meninggalkan Jarot seorang diri yang berdiri terpana tidak percaya.
Persahabatan yang sudah mereka jalin eratpun teruji. Jarot harus mengalami pengalaman pahit di penjara seorang diri. Tidak ada seorang sahabatpun yang memperdulikannya. Perasaan sakit hati dan terkhianati mengubah Jarot menjadi lelaki yang keras. Keputusannya setelah keluar dari penjara untuk bergabung di kelompok Naga Hitam membuatnya jadi berseberangan dengan kelompok Ale. Karena kelompok Naga Hitam adalah musuh besar kelompok Ale.
Bagi saya secara pribadi, lepas dari unsur subyektifitas. Upi merupakan film maker bertangan dingin, membuat film yang tidak hanya memberikan estetika yang apik di filmnya namun ianya mampu "menyulap" pemain filmnya untuk berakting maksimal (terbukti 2 aktor filmnya Radit dan Jani, Vino Bastian dan Fahrani mendapat anugerah pemain film terbaik pria dan wanita dalam FFI 2008) bahkan film ini (Radit dan Jani) di minta screening dalam Udine film Festival di Italy 2009. Tidak heran film terbarunya sangat dinatikan penggemar film2 bermutu tanah air, kejutan apalagi yang akan Upi tampilkan di film ber-genre Gangster movie ini? Nantikan saja film ini yang akan screening beberapa hari kedepan. 5 November 2009. Catch the movie Guys!
PERTAMAX
ReplyDeleteSiap siap mengantri di bioskop nih Ndrei. Hehehehe.
Anyway kapan film travellous dibuat nih, kalo butuh figuran atau kuli selama pembuatannya di Eropa sono, dont hesitate to call me yah, Ndrei (lmao)
hei.. kemana aja? lama ngga nulis drei.. :)
ReplyDeletehalo Rei! digambarnya kayak film asing. tadinya saya kirain film luar. baru setelah baca judulnya berbhs indo. duh..saya ketinggalan sekali utk film2 produksi negara sendiri. laskar pelangi aja belum ada kesempatan buat nonton.
ReplyDeleteahh,,mesti nunggu lama nih buat nonton di bali...
ReplyDeletepenasaran sih sama filmnya. tapi billboard serigala terakhir yg saya liat di radio dalam ini kok terkesan ngikutin twilight yah.. :D
ReplyDeletenice posting
ReplyDeletehmmm.... film indonesia ya... *diam dulu*
ReplyDeleteak mlh lbh pgn nntn this is it ndreii. .
ReplyDelete*lhooo. .
d smg g kluar2 thu film. huh. .
ak mlh lbh pgn nntn this is it ndreii. .
ReplyDelete*lhooo. .
d smg g kluar2 thu film. huh. .
thx for sharing
ReplyDeletewah, ini nih, ketinggalan.. sampe ga tau ada film2 begini...
ReplyDeleteaku ga tau sih, gimana film yang b'mutu.. tapi aku suka film2 indonesia sekarang (kecuali yang horor2-porno-ga jelas itu),alur ceritanya rata2 simpel tapi jelas,hehe