Skip to main content

Agar kamu Saling Mengenal...

Layar monitor di depan gue menerangkan bahwa pesawat ini akan landing kurang dari 1 jam ke depan, dari jendela udah bisa dilihat pemandangan negara Jerman di luar batas kota dengan pabrik2 dan beberapa ranch/ peternakan nya, sumpah gue saat itu gugup abis. Gue takut kejadiannya kayak di singapur dulu, waktu masuk imigrasian dan di tanya macam2, klo di Singapur masih mending klo di tolak masuk tapi klo di Jerman? Masa gue harus balik lagi naik pesawat dan terbang 12 jam kembali? Oouugh! Membayangkannya saja gue harus menelan ludah beberapa kali. Beberapa penumpang yang ada disana tampak sumringah, kesenengan akan mendarat. Gue masih juga belum berenti keringat dingin. Tepat jam 7 pagi, pesawat mendarat gerbang pintu pesawat udah dibuka, beberapa penumpang udah turun, Dinda dan Alifa si pramugari/a yang ngeliat gue, langsung merangkul dan memeluk gue bersahabat. Seolah memberikan motivasi.

Serrrr! Udara dingin 10 derajat celcius menyambut gue yang lansung bersedekap tangan gigil. Begitu turun dari tangga pesawat. Tiba2 seseorang polisi bandara berbadan gorilla menghampiri gue, tampangnya sangar gak kepalang!

“Sorry Mister, stop for a while!”

Mampus Gue!

Berikutnya polisi bandara itu langsung pengen liat pasport gue. Gue buru2 mencari2 di tas pinggang gue dengan gerakan gemeteran. Beberapa penumpang yang udah turun dan berada di shuttle bus memandang gue. Tampang mereka seolah bilang: Udah gebukin aja Pak!

Polisi bandara mulai misuh2 pake bahasa jerman, ketika gue gak kunjung ngedapetin Pasport. Duuh mana nih Pasport?, gue mulai ngeluarin semua isi di tas pinggang gue, sewaktu gue jongkok dan mengeluarkan semua isi ke tanah, si Polisi tambah misuh sambil mundur beberapa langkah seraya mengambil walkie talkienya, penonton yang liat tambah banyak. Alifa dan dinda turun dari pesawat.

Gila! Kemana Pasport gue?. Gue gemetar seolah siap di eksekusi tembak mati.

Dinda yang udah berdiri disamping gue, langsung senyum kecut sambil tangannya masuk ke saku kemeja gue di dada kanan, mengambil pasport yang terselip disana. Gue menghela napas sejadinya, si polisi langsung meriksa pasport. Gue menatap Alifa kecut, si Dinda cuma senyum prihatin memandang gue, lalu Dinda bertanya dan menerangkan ke polisi bandara dengan bahasa jerman fasihnya, dan dalam sekejap gue udah di persilahkan masuk ke shuttle bus. Gue gugup merapikan barang yang tercecer di tanah di bantu Alifa. Bergegas gue langsung ngabur ke arah shuttle bus, dengan kegugupan luar biasa.

Sebelum gue naik, masih bisa gue rasa cengkraman tangan seseorang di pundak. Aduuh apa lagi ini? (kebayang di gebukin polisi bandara tadi), pas gue berbalik lemas, bisa gue liat Dinda dan Alifa disana yang ternyata mengikuti dari belakang. Dan mereka berdua pasti jelas betul melihat wajah pucat pasi gue pas gue berbalik tadi. Alifa tampak gak tega melepas gue pergi di telan ganas nya Eropa. Dinda langsung menuliskan sesuatu dengan pena di tangan gue, nomer kontaknya selama di Jerman.

“Hubungi aku kalo ada apa-apa” Dinda berbisik cemas.

Si polisi bandara mulai misuh2 lagi, gara2 gue gak masuk ke shuttle bus. Gue mengambil napas dalam2 membiarkan angin dingin masuk ke pori2, menghembuskan pelan dan menatap sekeliling. Gue tersenyum sekarang. Dinda lagi2 menatap cemas gue, seolah melepas kekasih ke medan pertempuran. Dan gue cuma bisa mengelus kepala Dinda, dan naik ke Bus. Masih berdiri di pintu Bus yang kini menutup, namun dalam kaca tebal pintu bus yang terhalang gue masih bisa menangkap senyum Alifa dan mulut Dinda yang menyuruh ku berucap sesuatu, ya...gue hampir lupa mengucapkan nya:

Bismillah!

Dan Bus pun berjalan memisahkan persahabatan singkat kami, gue melambai manis. Dan menatap ke depan dengan miris.

Eropa gue datang bukan karena saya si sombong yang banyak uang, hanya pria biasa dari kampung biasa yang ingin mengenal dunia karena mimpi2 nya dan karena kalimat suci-Nya yang mengatakan:

“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu ber bangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal

Seperti saya mengenal Dinda dan Alifa yang berbeda bangsa, dan entah siapa lagi yang akan saya kenal dan temui nantinya? (Semoga ketemu Michael Ballack!) :)

Comments

  1. Kenapa juga tuh police meriksa ditangga pesawat..? ngga sopan banget bukannya sudah ada pegawai imigrasi yg tugasnya liat2 paspor orang uh...ikutan sebel nih.

    Kenapa gugup Drei..kan nga ada yg salah selama kita punya paspor dan visa lengkap ngga ada yg bisa memulangkan kita kan...asal lu ngga bawa yg macem2 lho hihi...(bawa diri aja susah ngapain bawa macam2 ya..)

    Salut ya...Tuhan masih mengirimkan orang2 baik disekitarmu tuh...bersyukur ya dikasih kemudahan-kemudahan...

    ReplyDelete
  2. @widie: iya saya juga kaget bukan kepalang, serasa jd kayak anggota sindikat teroris. ternyata eropa memberikan kesan pertama yg berbeda kepada saya.

    benar, saya bersyukur dikelilingi orang2 baik, seperti malaikat kiriman Tuhan. :)

    @Putlie: Iya cuma michael ballack yg gue tau :)

    ReplyDelete
  3. itulah... harus lo syukuri masih ada org baik di sekitar lo...
    ngeri baca pengalaman lo ini.
    ternyata pengalaman2 nekad gw pergi ke kampung org tuh gada apa2nya...

    ReplyDelete
  4. wah..ternyata dulu pengamanannya udah ketat gitu..denger2 dari temen yang juga pernah ke eropa,,emang orang2 wajah indonesia kayak kita itu sering di cap tampang teroris bang n tki..makanya pemeriksaan lebih ketat..pernah teman saiah juga dikira tki ilegal waktu dia pergi ke eropa..yah..haha

    ReplyDelete
  5. "Eropa gue datang bukan karena saya si sombong yang banyak uang, hanya pria biasa dari kampung biasa yang ingin mengenal dunia karena mimpi2 nya"

    suka sekali kalimat ini!

    ReplyDelete

Post a Comment

Baca dulu baru komentar, ok? :)