Tuesday, July 24, 2012

Di pelukan kaki gunung Fuji

Andrei B.

Dingin angin membuat saya harus merapatkan lagi jaket kesayangan, ransel tua saya menggayut erat di pundak tatkala berjalan menuju halte bis, bis yang saya tunggu mejemput tepat pada waktunya, saya bergegas, lantaran bis tersebut tentu saja memiliki penghangat udara.
Perjalanan 2 jam, kembali membawa saya menuju tempat yang lebih dingin. Benar saja selepas turun dari bis, angin yang lebih dingin meriap masuk di sela jaket yang sepertinya masih belum mampu meredam dingin yang makin menggigit.

Saya meraba kepala saya yang tiba-tiba basah dan terasa dingin. Ketika saya menatap langit-langit, angin kencang itu meniupkan bulir-bulir salju dari ketinggian gunung yang memukau banyak pendaki. Gunung yang sakral, dimana orang sini menyebutnya: Fuji San.


Kawaguchi ko 5th station. 17.00
Musim ini memang belum waktunya untuk mendaki gunung Fuji. Di area 5th station ini sebenernya akan sangat ramai sekali dengan toko-toko dan penginapan yang menyambut para pendaki di musim panas. Sayangnya saya datang sebulan sebelum musim itu tiba. Alhasil toko-toko dan penginapan tutup. Nyaris seperti tak berpenghuni kota ini. Sementara bis yang saya tumpangi tadi adalah bis terakhir menuju kaki gunung. Pantas saja di bis tadi hanya saya dan kakek yang pergi kesini.

Saya mulai mengutuk diri, kenapa sebelumnya tidak mencari info tentang kota ini, saya menggosok jemari saya untuk kesekian kalinya, uap dari helaan napas saya makin lama makin menipis, pertanda kehangatan tubuh saya pun mulai berkurang. Saya mengedarkan pandangan mencari-cari tempat penginapan yang buka, lalu berjalan mengitari sudut-sudut kota, namun yang ada, hanya papan penunjuk di tiap pintu bertuliskan: Closed dan papan kayu yang memalangi jendela agar badai salju tak menggedor.

Ketika penutup kepala berbahan wol saya sudah mulai basah oleh bulir salju, seseorang melambai dari loteng rumah, mengisyaratkan mendekat. Ternyata itu adalah kakek yang tadi satu bis sama saya. Ia berteriak dari loteng rumahnya, mencoba mengalahkan deru angin dingin.

Saya hanya mengangkat bahu, karena selain suaranya tidak jelas, saya juga kurang menguasai bahasa Jepang. Melihat ketidak sepahaman dengan apa yang dibicarakan, kakek tadi hanya menghela napas seraya menggeleng, lalu ia turun.

Terdengar bunyi palang kayu yang di geser dari dalam, pelan-pelan pintu rumah kakek itu bergeser. Yang membukakan pintu itu bukan kakek tua tadi, tapi seorang pemuda yang lalu mempersilahkan masuk, didengar dari ajakannya, pemuda ini tampaknya bisa berbahasa Inggris
walau dengan aksen yang terdengar aneh.

“Kamu itu bodoh atau apa? Mau naik gunung dengan cuaca yang masih se ekstrim ini? Dasar bodoh!” Itu kata si kakek tadi yang di terjemahkan oleh si pemuda. Saya menatap ke pemuda sambil cemberut, seharusnya kalo jadi penerjemah gak perlu kali segamblang itu di terjemahkan, berikut dengan ungkapan bodoh itu. Huh.

Saya lalu mengambil alih percakapan dengan bertanya atas kesediaannya menampung saya semalam saja, lagi-lagi si kakek itu mengeluh. Lalu berujar dan di terjemahkan lagi oleh pemuda kaku di sampingnya

“Huh merepotkan saja... Dasar Bodoh!”

Damn, gw penasaran apa kakek itu benar-benar mengucapkan kalimat Bodoh itu?

Berikutnya, saya di ajak ke loteng atas yang gelap, lalu pemuda tadi menunjuk lantai pojok, penanda kalo disanalah saya bisa tidur, saya menaruh ransel saya, lalu menggerak-gerakan kan bahu saya menghilangkan pegal. Sambil memperhatikan pemuda tadi yang membuka tirai, agar cahaya bisa masuk.

Saya kembali bertanya, apakah ia hanya berdua tinggal disini? Pemuda kaku itu mengangguk. Ia menjelaskan kembali dengan Inggris patah-patahnya jika ia adalah cucu dari kakek itu.

“Orang tua kamu?”

Si pemuda tidak menjawab, ia hanya membersihkan embun dari kaca jendela dengan telapak dan punggung tangannya.

“Hey, apakah kamu bermaksud mendaki gunung Fuji?” Ia malah balik bertanya.

Saya mengangkat bahu... “entahlah.. saya hanya penasaran saja, bisa saja kalo memungkinkan. Bayangkan saya sudah sedekat ini dengan atap Fuji, tinggal membutuhkan waktu 4 jam untuk ke puncaknya.. ini bisa menjadi cerita yang menarik untuk diceritakan sekembali dari Jepang” Ucap saya bersemangat.

Pemuda tadi tiba-tiba saja meranggut, ada nada kesal mendengar omongan saya tadi. Diluar dugaan ia mengumpat seraya menahan emosinya.

“Dasar Bodoh!”

Geeez.. ternyata emang dia yang suka bilang bodoh.

Saya gak ngerti maksudnya apa. Perhatian saya teralihkan di jendela yang tadi tirainya dibuka. Saya mendekat, menatap gunung Fuji menjulang dengan salju abadi di puncaknya dalam senja yang mulai menyelimuti kota ini, dengan bulir-bulir salju yang berterbangan di tiup angin menghias langit biru kelabu dengan titik-titik putih. Saya tertegun.. lalu menopang dagu, ingin melebur dalam nuansa surealis nan menakjubkan.

“Orang tua saya ada di leher Fuji.. tertidur panjang disana” Pemuda tadi mengeluarkan jawaban yang sontak membuat saya tergugu tak tahu
harus berkomentar apa.

Ada jeda hening yang cukup lama, sampai ia kembali berucap...

“Datanglah lagi bulan depan yaa saat Fuji menjadi ramah...”

Akhirnya saya bisa memahami semuanya, reaksinya dan sikapnya tadi. Saya kembali menatap Gunung Fuji, ia bukan saja elok namun juga mematikan, tidak heran jika orang jepang mengagungkan ke sakralannya.

“Oh ya nama kamu siapa tadi?” Si pemuda ikut mendekat ke jendela, menatap gunung Fuji.

“Andrei, panggil saja Rei. Kalo kamu?”

Masih dengan matanya yang menatap khusyuk gunung Fuji, ia menjawab khidmat.

“Nama saya Naruto...”

hening
....

“Seriusan?”
....

“Gak laah cuma bercanda, dasar Bodoh!”

Cih

Malam benar-benar jatuh saat saya sudah mandi air hangat. Saya menanyakan pada pemuda yang ternyata bernama Ken, tempat makan malam di daerah sekitar sini. Gak enak kalo saya juga ikut numpang makan. Ken menyarankan saya untuk menuju ke sebuah kedai makan mie yang terkenal terletak di ujung kota. Hanya 15 menitan jalan kaki. Walau agak jauh dengan cuaca sedingin ini, dijamin worthed katanya.

Kini saya menembus dinginnya cuaca malam pegunungan Fuji, melalui rumah-rumah sepi dengan penerangan apa adanya.. sementara di langit ketika saya mendongak berwarna gelap dengan bulir salju yang berterbangan di tiup angin. Bayangan saya di kepala untuk mengalihkan rasa dingin cuma semangkuk mie panas, yang katanya jawara di seantero kota.

Entah karena pengaruh cuaca yang terlampau dingin, atau memang ketinggian tempat ini yang membuat oksigen tipis, atau mungkin juga perut saya yang sudah kelaparan, pelan-pelan jalan saya mulai melambat dan napas pun juga sudah tersengal. Semoga bukan faktor U.

Kedai itu tidak begitu besar, namun cahaya terang berwarna kekuningan di dalamnya membuat atmosfer terkesan hangat, pengunjung yang datang pun hanya beberapa. Bukan turis seperti saya tapi warga sekitar. Kata si koki, kalo musim panas tatkala pendaki banyak berdatangan, antrean untuk makan disini akan mengular sampai luar toko. Saya tersenyum dan jadi tak sabar mencicipi, apalagi mencium aropa sedap dari tungkunya.

Tapi sial, saya lupa menanyakan Ken sebelum berangkat kesini perihal harga semangkuk mie tersebut, yang ternyata kalo di rupiahkan mencapai 100 ribu, mahal gila!

Mana uang pas-pas an lagi, tapi nggak apa-apalah, masa iya nggak jadi makan dan balik lagi menembus dinginnya kota dengan perut kosong. Ah sudahlah.


Beberapa menit kemudian, semangkuk besar porsi mie dihidangkan, saya menelan ludah. Bak mussafir padang pasir melihat Oase. Ya Tuhan, enak betul tampaknya, aromanya yang meruap dari mangkuk kayu benar-benar bikin saya yakin kalo dalam hitungan detik ke depan saya akan menjadi kalap.

Itadakimasu! Pekik saya semangat!

Si Koki tersenyum melihat polah saya sambil menepuk pelan bahu saya, sambil berucap:
“Selamat menikmati, hidangan terbaik Mie Kuah BABI kami!”

“Pyuuuuuuhhhhh!!!!!!!!” sendokan pertama saya langsung muncrat!
%#$%^*

Saya langsung tergagap menatap sang koki, si koki tersenyum melihat saya berkaca-kaca, mungkin ia pikir saya terharu. Agama saya mengharamkan makan jenis ini, tidak kah ia tahu, kalo saya datang kesini melalui badai bulir-bulir salju, dan dingin yang sangat menggigit bagi si anak Banjar yang terbiasa panas ini.

Dan tidak kah kau tahu wahai Koki kalo harga semangkuk ini setara dengan 3 hari ongkos saya hidup di Jogja?

Saya menatap mangkuk mie yang seolah melambai merayu dan lalu bergantian menatap si Koki yang kini malah mengedipkan matanya sambil mengangkat jempol.

Saya tersenyum getir.. dengan sendok di tangan yang bergemetar...

Welcome to Japan Dude!

Andrei B. / Author & Editor

Saat ini bekerja sebagai senior copywriter di perusahaan Consulting Creative di Jakarta

Coprights @ 2016, Blogger Template Designed By Templateism | Re-design By Andrei