Wednesday, July 25, 2012

As time goes by

Andrei B.
(Prequel TraveLove; "Bertemu itu kesempatan bersama itu pilihan")

Kita berjanji akan bertemu di salah satu kantin kantormu, maaf merepotkanmu untuk menjemputku di halte busway Karet, karena aku benar-benar bingung di tengah rimba gedung pencakar langit.

Kita singgah di penjual otak-otak di bawah jembatan, padahal kita akan berencana makan siang, tapi kamu masih sempat saja membeli seporsi otak-otak.
Ada apa dengan otakmu? Ups..


Ini pertama kali melihatmu memakai baju kantor, mengikat rambut indahmu dalam busana kerja yang saya taksir berharga sebulan jatah ongkos hidup di Jogja.


kamu membawa saya dalam kantin yang membuat saya jengah, bukan kantin dalam bayangan saya yang berupa warung yang biasa ada di Jogja, ini adalah ruangan bak restoran terbaik untuk skala Jogja, ada pria penyaji laik nya Chef profesional yang melayani, ada keharuman makanan mewah yang saya cium, juga pengunjung yang memakai dasi, pengunjung berkerah putih profesional kerja, hanya saya yang datang dengan kaos putih dibalut jaket jeans butut yang berusia sama dengan keponakan saya yg sudah menginjak 1,4 tahun.


Kepercayaan saya tambah jatuh, karena sebelum datang memenuhi janji pun kau menyiratkan sesuatu tentang hubungan kita yang mungkin akan sulit.


Tiga hari yang lalu, Kota Bandung.

Menautkan janji denganmu, menikmati kota di malam kala, untuk pelarian manis dari rutinitas yang jenuh. Menemanimu makan di atas ketinggian kota kembang sembari ikut menyenandungkan lagu-lagu kesukaanmu dari pianis yang mengiringi makan malam kita, lengkap dengan pemandangan gemerlap lampu kota dan ribuan bintang kala kita menatap ke atas bersama.


Kata aku: "kamu harus menyanyi di depan sana, agar semua orang tau betapa indah suara kamu."


Kata kamu: "suaraku biasa, hanya mungkin terdengar bagus di telinga kamu yang tidak memiliki perbendaharaan musik yang banyak". Bahkan untuk tau lagu "you light of my life" kesukaan mu saja aku tidak tahu. tapi kamu berjanji nanti akan nyanyi lagu itu, khusus buat aku. Itu katamu sembari merapatkan badanmu yang mulai dingin, selepas itu entah siapa yang memulai ketika jemari kita sudah bertautan. Ada sesuatu yang berdesir disana.


Malam yang akan selalu kita ingat, berbaring bukan karena lelah, bukan juga karena napsu. Jangan kan untuk membelai kamu, untuk menautkan kembali jemari kita pun gemetarnya bukan main. Sampai heningnya malam itu kamu memenuhi janji mu, menyanyikan lagu kesukaan mu, lagu "you light of my life", penuh hayat hingga aku tau kamu berbohong, suara kamu tidak biasa, saat itu aku pun ingin lagu itu menjadi lagu kesukaanku


You light up my life

You give me hope

To carry on

You light up my days

and fill my nights with song


Dan di tengah nyanyianmu tiba2 kamu menunduk, menyembunyikan rona wajahmu yang memerah, karena aku terlalu lama menatap wajahmu yang menawan, sampai akhirnya aku pun berani memelukmu, diam disana, biarlah lirik lagu yang tak sempat kamu nyanyikan itu diselesaikan oleh perasaan hati. Karena aku tau, kamu dan aku mungkin belum sanggup menyanyikan lirik berikutnya:


Rollin' at sea, adrift on the water

Could it be finally I'm turning for home?

Finally, a chance to say hey,

I love You

Never again to be alone


Bandung Hari ke 2

kamu ingin pulang, membuat aku jengah tentang sesuatu yang mungkin salah. Hingga kamu pun mengatakan ketakutanmu, tentang perasaanmu yang mungkin salah. Sampai akhirnya aku berhasil membuat kamu lupa dengan mengajakmu menikmati Mall yang dinamai dengan satu kota impian kamu, Paris Van Java. untuk sementara ini ayo menikmatii paris yang satu ini, dan genggaman tangan kita pun tidak lagi gemetar gugup, bahkan kita pun menikmati riang kebersamaan saat itu yang membuat penduduk Bandung menatap kita iri.


Yaa melupakan sejenak perasaan yang menghantui, apakah kita tengah terhanyut? ataukah ini sebuah pertanda baik?


Sampai malam menjelang ketika sahabat menjumpai kita di tempat kuliner yang membuat kamu tercengang dengan gunungan keju kesukaanmu, kamu pun lupa kalau kamu harus segera pulang, ataukah... kamu memang sengaja lupa? tidak ingin pulang secepat itu. :)

Malam itu, akan selalu kita ingat betul, malam yang membuat umur dewasa kita menjadi muda kembali, saat kita bertemu kembali dengan kata Cinta, mengucap pada bisikan manis, dengan kalimat pendek-pendek yang tertahan oleh panasnya wajah yang memerah malu.


Seorang pengembara itu akhirnya menemukan "rumah" nya. Dimana dia tahu kemana dia nanti harus pulang...


Kembali, di Jakarta, Kantin megah di gedung perkantoran

Lagi-lagi melihat angka nominal di menu saja sudah membuat hati ini berpikir untuk bagaimana nanti mencari ongkos pulang? Kita kali ini duduk di sudut ruangan, siang sesak itu jauh dari kata panas, pendingin ruangan malah membuat suasana hati yang dingin makin beku, apalagi selepas kita menyudahi makan siang hari itu. Tidak ada lagi kegiatan merokok selepas makan.

karena semenjak mengenalmu bagiku candu terberatku adalah kamu.


Handphone yang berdering memecah keheningan kita, aku yang menerima telpon, dan pria klimis yang duduk di meja sebelah memanfaatkan celah untuk berkenalan denganmu, dengan dalih membicarakan bisnis. Aku yang kini sudah duduk kembali dan memulai percakapan kembali denganmu pun, lagi-lagi di potong oleh pria klimis dengan maksud pembicaraan yang serius. Demi langit dan bumi kalo saja ini bukan di tempat makan elite sudah saya gampar pria tak bersantun ini.


Bahkan ketika ia meminta nomer HP mu untuk pembicaraan bisnis lebih lanjut pun, si Pria sama sekali mengacuhkan keberadaan pasangan si lawan bicaranya saat itu. Mungkin dia pikir saya sopirnya.


saya berani bertaruh ini hanya sekedar akal bulus. Namun untuk mengucap maksud itu saja, lidah ini terasa kelu. karena seperti tersadar bahwa ini bukan dunia saya, dunia yang membicarakan investasi, uang, bahkan untuk berada disitu saja sudah terasa jengah nya. Saat itu entah mengapa harga diri saya jatuh ke bumi. Dan pria itu pun mengakhiri pembicaraannya setelah mengantongi nomer mu, dan beranjak pergi berpamitan dengan mu, tidak denganku, menoleh untukku saja tidak.

Andai kamu tahu Bung, kalau saja kamu menyapa ku saat itu, mungkin aku akan memberitahumu kalau uang 50 ribuan di saku celanamu terjatuh.


Ah, sudahlah... mungkin ini jawaban Tuhan untuk nanti aku ongkos pulang ke Yogya. Hmm..


Kamu: Maybe I just one of chapter in ur life Rei? Maybe Im not belong to u...


Jujur mendengar kalimatmu saja, aku sudah bisa menebak kalimat ragu ini pasti yang akan keluar.


Bahkan untuk aku berada atas nama Tuhan jika aku benar-benar mencintaimu pun, kamu tetap bersikukuh, walau jelas terlihat untuk menggeleng tidak pun kamu terasa berat. Ada hal besar yang kamu sembunyikan.


Akhirnya kamu berani berbicara terbuka, tentang segalanya.


Tentang umur, tentang kewajiban masa depan karena kita tak lagi muda, tidak lagi mengucapkan kata pacaran. kamu perlu mengucapkan masalah ini lantaran kamu pun tau keseriusanku, bahwa dalam perjalanan cintaku hanya ketika bertemu denganmu saja aku berani bilang bahwa: kamu yang akan bersamaku kelak.


Maaf dariku yang mengetahui alasan klise namun masuk akal, mungkin aku menyiakan masa muda yang seharusnya berjuang untuk finansial masa depan, bukan lagi untuk bagaimana aku minggu depan harus mencari uang makan. Tahukah kawan, pria klimis yang tadi menjatuhkan harga diri saya ke tanah sekalipun kalah perihnya mengetahui kenyataan cinta yang dipilih untuk kaum sukses materi.


Masuk akal, kamu pun berjuang dari pagi sampai malam bukan untuk kamu lagi, tapi untuk masa depan jika kamu berkeluarga nanti.

Detik itupun aku memilih untuk mundur, namun saat perkataan di ujung lidah untuk disampaikan, aku tersadar ini cara Tuhan untuk membangunkanku. Untuk lagi mengingat impian yang terlupakan. Tentang gambaran masa depan yang pernah di impikan, berjuang menaklukan ibukota.


Sejenak menarik napas, menatapnya dan mengatakan:


"Saya, memang belum bisa berbuat banyak, Hari ini Jakarta mengalahkan saya, tapi maukah kamu percaya dengan saya? Dengan jalan laki-laki yang saya pilih ini, saya akan kembali lagi untuk menjadi besar, untuk menjadi harapan masa depan kita."


Itu yang bisa aku ucap ketika kamu berpikir aku akan menyerah, dan kali ini aku menatap senyuman haru mu. Dan entah mengapa kantin yang megah itu terasa sangat biasa bagiku saat kamu keluar dengan senyum menawan ditatap banyak pasang mata, dengan menggamit lengan aku, menggamit seorang pria biasa yang berjaket jeans kumalnya, seolah berjalan bersama seorang yang kelak akan mengubah dunia.


Saat itu saya bersumpah, akan mewujudkan impian besar yang pernah kamu khayalkan di kota kembang, saat aku yang tengah mengetik di laptop, dan kamu yang tiba-tiba duduk dipangkuanku, dan ikut mengetikkan lirik lagu Adam Sandler yang kamu gubah di sana:


I wanna make you smile whenever you are sad

Carry you around when your arthritis is bad

I'll get your medicine when your tummy aches

Give you my coat when you are cold

Even let you hold the remote control, when we watch TV together

I could be the woman who grow old with you

I wanna grow old with you...


Belum sempat aku menghapus air mata yang tiba2 jatuh ketika membaca tulisan yang kamu ketik dibalik punggungmu, kamu saat itu sudah berbalik, menyilangkan tanganmu dileherku, lalu menyentuhkan dahimu di dahiku, seraya memejamkan matamu, seolah berdoa, semoga Tuhan mendengarkan Impian kita.

Andrei B. / Author & Editor

Saat ini bekerja sebagai senior copywriter di perusahaan Consulting Creative di Jakarta

Coprights @ 2016, Blogger Template Designed By Templateism | Re-design By Andrei