Sunday, May 30, 2010

Hit the road together

Andrei B.
Travellous Ver.2 adalah buku yang menceritakan hal-hal yang terlewat yang tidak diceritakan di Travellous, dikarenakan pembagian porsi cerita. Agar imbang antara porsi penceritaan cerita petualangan saya, cerita kehidupan kampus dan juga cerita saya, Jules dan Ling. Nah dikarenakan banyak banget yang belum terceritakan, dan tidak sedikit pembaca yang masih ingin tau cerita2 saya selama disana bersama Jules dan Ling, terbersitlah ide untuk menuangkannya kembali dalam bentuk buku baru yang sedang dalam progress untuk direalisasikan.

Berikut bagian cerita dalam Travellous Ver. 2:

Siapa yang gak tau grup musik pearl Jam, band yang digawangi Eddie Vedder ini sukses ngebuat seisi kelas, pada heboh lantaran rencana show mereka nanti ke Belgium. Beberapa dari kami yang menggemari grup rock satu itu jelas memiliki antusiasme luar biasa. Jauh-jauh hari sebagian besar sudah mengagendakan akan touring rame-rame ke kota Antwerp dari kota Lyon. Apalagi konsernya berlangsung di Sportpaleis building pada Sabtu sore sampai malam menjelang.

Jonathan si pria flamboyan bermata biru, awalnya hanya mencibir, baginya musik rock ga level buat dirinya yang emang berasal dari Austria tempat seniman klasikal macam Mozart lahir. Namun begitu melihat si Rily, gadis pujaannya tiba-tiba ikut ambil bagian dalam touring kala itu, jelas naluri awas nya berkerja lantaran saingannya tidak sedikit untuk mendapatkan si gadis Jerman berotak pintar itu.

Ben si rambut ala punk bertindak selaku penggagas melontarkan wacana, dengan apa nanti mereka akan pergi, mengingat saat itu status seisi kelas adalah mahasiswa tamu dari beberapa negara yang kalo di garis bawahi adalah kumpulan orang-orang kere.

Saya dengan jumawa melontarkan ide untuk sama-sama nyarter bis untuk pergi ke tempat konser, namun disambut tatapan wajah seisi kelas seolah mengatakan: “Yeaah right, lu pikir disini bisa nyarter bis kota kayak mau nonton persija? Mahal Gila!”

Ling yang baru keluar dari Lab. Editing dan ikut menyimak pembicaraan, ikut ambil suara, “Gimana kalo kita semua pergi dengan hitch hike?”

Lama terdiam, sampai Miena si Cewek Iran berujar, kemungkinan untuk bisa sampai tepat waktu pasti akan terkendala kalo memakai cara seperti itu. Apalagi rombongan yang berangkat kalo di jumlahkan bisa sampai 10 orang jelas gak mungkin ada yang mau ngasih tumpangan kalo sampai sebanyak itu.

Rily yang pada dasarnya kurang suka dengan Miena, mulai mencoba mengambil posisi berseberangan.

“Yaa jadi hitchhiker emang khusus buat orang-orang bermental tangguh kok, wajar lah kalo kamu pesimis.” Rily menutup kalimatnya seraya melirik ke arah Miena.

“Lo pikir gw takut? Gak bisa jadi hitchhiker? Ayo kita buktiin! Kita bagi saja beberapa kelompok. Untuk ngebuktiin!” Miena mulai panas, sampai dua kali ia harus merapikan Jilbabnya yang tertarik akibat jidatnya yang mengernyit gemas.

“Udahlah jangan konyol, ngapain juga capek-capek hitchiker, pake kartu pelajar aja kita naik kereta, pesan jauh hari juga murah kok” Mike menengahi yang disambut anggukan rekan lain. Hanya Ling yang keluar dari kerumunan sambil menepuk jidatnya.

Siapa sangka ternyata Ling sudah mengatur skenario, ia berencana ingin sekali menjadi seorang hitchhiker, terinspirasi dari cerita Jules dengan saya waktu itu, melakukan perjalanan ke utara.

Makanya demi melancarkan niatnya, ia jelas tidak mungkin mengambil keputusan mandiri hingga di iyakan serempak. Untuk itu tadi dia melontarkan wacana, karena ia tahu kalo Miena yang realistis akan mengatakan persis seperti yang dikatakannya, hingga Rily yang suka kompetisi dan menganggap Miena rival abadinya pasti akan mengatakan sebaliknya, sampai nanti akan ada tantangan, dan dibulatkan lah tekad bertanding ala hitchhiker menuju Antwerp oleh anak-anak kelas karena mereka bisa membuka lagi pasar taruhan siapa yang akan menang, Rily atau Miena. Sayang si Ben menggagalkan rencana besar Ling yang menengahi dengan kepala dingin.

“Arrggh nyaris saja tadi rencana hitchhiker sekelas berhasil!” gerutu Ling pelan.

Bulu kuduk saya langsung merinding, bagaimana nggak, anak ini tadi hampir berhasil atas niatnya mengontrol seisi kelas sesuai apa yang ia kehendaki tanpa disadari yang lain. Jangan-jangan kalo saja ia mau, bisa saja ia menggerakkan revolusi Perancis berikutnya. Sadis!

Sepulangnya dari kampus, Ling masih saja berwajah muram, jelas sekali niatnya untuk pergi ke Antwerp ala hitchhiker bener-bener ingin diwujudkannya. Sampai ia berhenti tepat disamping saya yang asyik mendownload dari wi-fi kampus.

“Rei...”

“Gak mau, gw udah capek! Cukuplah pengalaman gw jadi hitch hiker selama gw backpackeran ama Jules”

“Heh? Emangnya gw mau nanyain itu apa? Yeee orang juga mau nanya lo lagi ngapain kok” Ling mendekati monitor laptop saya.

“Oooh sorry salah sangka, ini nih gw lagi download lagu-lagu lawas, gw mau tukeran ama Jonathan dia katanya mau kasih koleksi lengkapnya seniman-seniman musik tempo dulu negaranya, asal di barter ama musisi jadul Indonesia juga”

Ling membaca tersendat nama file downloadan saya “Bandung lautan as..”

“Ooh bukan yang itu!!!” Saya memotong cepat.

“Tapi yang ini” Saya menunjukan file yang lain, mencoba jumawa agar tak hilang harga diri.

“Obbie Messakh, semut-semut merah” Bantu saya ketika Ling mencoba membacanya. Hehehe! Ni lagu jaman dulu sakti banget, gak ada gak yang kenal lagu ini. Saya mencoba melantunkan lirik-liriknya.

Ling tiba-tiba membelokan pembicaraan, “Umm... kira-kira dari Lyon ke Antwerp berapa lama ya?”

Saya menghentikan hapalan lagu Obbie Mesakh, dan menatap gadis putih dengan gerak salah tingkahnya.

“Tuh kan! udah ketebak”

Ling langsung pasang muka cemberut, “Pilih kasih kamu!”

Ling langsung balik badan, pergi menjauh.

.....

.....

“Apaan sih? Gak jelas!”.

***

2 hari menjelang konser, anak-anak kelas sudah menanti dengan semangat, tujuan mereka pergi konser dengan kereta dengan diskon mahasiswa sudah fix, tiket sudah di tangan. Sedangkan saya...
......
......

Jam masih menunjukkan pukul 7 pagi, saya menguap sembari membenarkan posisi tas gendong, hembusan udara akibat mobil yang bergerak cepat seolah menampar wajah kusut saya, sekaligus memainkan rambut sebahu Jules yang tengah menyemangati Ling yang tengah berdiri di pinggir jalan dengan antusias selangit mencoba menghentikan mobil yang mau memberikan tumpangan.

Ya benar, Ling dengan cerdiknya mengajak Jules untuk ber hitchhike nonton konser Pearl Jam, mana mungkin saya membiarkan 2 gadis ini ber hitchike tanpa kawalan pria. Arrggh seharusnya saya tau trick si gadis sejuta muslihat ini.

Hanya membutuhkan waktu 15 menitan tampak mobil Van mulai menepi, Ling jejeritan gak karuan memanggil Jules yang disambut lari kecil Jules yang sesekali di iringi dendangan lagu "our last summer" nya ABBA seolah menyambut perjalanan yang sepertinya bakal semanis lirik yang ia nyanyikan.

I can still recall our last summer
I still see it all
Walks along the Seine, laughing in the rain
Our last summer
Memories that remain

...We were living for the day, worries far away...

Jules seolah menularkan semangat keceriaan penghujung musim panas, saya mulai berjalan cepat mengikuti.
Saya menatap Jules yang menepuk bahu saya sembari mengedipkan matanya. dan Ling yang berteriak semangat

"Here we go Belgium!"
"Heh?" Si sopir mengedik kaget, u want going to North? Oh No! Coz I want going to south!
"HAAAh?!!" Saya dan Jules serempak kaget.
"Lo gak nanya dulu Ling?"
"Eh.. nggak... harus nanya dulu ya?" tanya Ling dengan wajah lugunya.

ARRRRGGGGH!



To be continue... ;)

Andrei B. / Author & Editor

Saat ini bekerja sebagai senior copywriter di perusahaan Consulting Creative di Jakarta

Coprights @ 2016, Blogger Template Designed By Templateism | Re-design By Andrei