Sunday, September 21, 2008

Ketika aku meninggalkan mu

Andrei B.
Semester akhir nanti, tidaklah segairah waktu awal2 nya, karena semester ini adalah semester akhir kami, yang berarti perpisahan. Saya berjalan merenung di koridor kampus, banyak hal yang harus diselesaikan saat itu, di depan perpustakaan saya melihat Julls keluar, segera saya hampiri, menyentuh lembut pundaknya. Ia nya hanya menatap lalu, melanjutkan langkahnya namun tetap mensejajari langkah kaki saya.

“Masih marah?” tanya saya

Julls diam mematung, hanya angin semilir yang meningkahi diam emas nya

“Kalo saya ada salah, ngomong dong!, mang nya saya paranormal bisa nebak alasan seminggu terakhir ini kamu bawaan nya manyun terus, ngambek ga jelas!”

Julls berhenti, menarik napas nya dalam. “Kamu kenapa gak mau ngelanjutin internship ke Inggris? Saya kan udah jamin kamu bakal dapet internship disana!”

Giliran saya yang narik napas dalam, sekalipun saya penggemar tim sepak bola Liverpol, belum tentu bisa merubah banyak hal yang sudah saya rencanakan.

“Udah berapa kali sih saya bilang alasannya!”

Julls melengos sebal, dan langsung menjauh dengan meninggalkan tatapan sinis nya.

****

Dan seminggu berikutnya saya sama sekali gak menemukan Julls, walau teman2 nya bilang melihatnya, Ough! Berarti dia menghindar selama ini!, dan dalam seminggu itu pula saya tak henti2 nya di hantui kebimbangan.

Siang itu, selepas membantu menggarap proyek terakhir Ling. Saya menyempatkan diri lewat ke gedung asrama Julls, berhenti disana beberapa saat, ketika saya berniat pergi pulang ke rumah, dari jauh saya melihat Ling mengisyaratkan sesuatu, kemudian ia bergegas naik ke asrama bertingkat Julls. Ngapain dia?

Selanjutnya di stasiun Lyon, Ling mengedikkan alisnya seraya memperlihatkan hasil jepretannya barusan. Dan ada yang menarik disana, benar dugaan, Julls memang menghindari saya. Sigh! Saya hanya mesem2 liat hasil jepretan foto Ling, terlebih ketika melihat jepretan2 foto yang lain, ada foto saya lagi tidur, lagi ngantuk di kelas, sampai lagi mojok ama Julls (Shit! Balas dendam dia, jadi ikut2an kayak saya! Ngambil foto dan moment orang diam2)


****

Di dalam kamar saya, selepas ngadu main scrabble ama Leonard. Pikiran ini makin berkecamuk, hari2 terakhir di Perancis makin dekat. Dan malam itu di Balcony flat rumah, Coline si sulung yang baru saja menyelesaikan internshipnya di TV Arte, mengangsurkan kopi susu panas untuk saya dan ikut duduk di sofa kulit.

“Lagi ada masalah Rei?”

Saya cuma senyum memaksa

“Masalah Julls?!”

Saya menyambut pertanyaannya dengan diam, Coline menaruh kopi nya dan menatap lekat saya yang masih menerawang.

“Kamu mencintainya?”

Deg!

“Rei…kalo kamu tidak mencintainya lebih baik kamu diam untuk selamanya…, jangan sekalipun kasih harapan, jadinya kamu bimbang seperti ini, jangan pernah merasa siap akan cinta kalo kamu sejatinya gak siap. Lebih baik sekarang kamu lupakan dia, daripada nanti ada yang tersakiti”

Coline meninggalkan saya yang masih diam bahasa.

****

Selanjutnya hari2 saya tidak lagi lewat di depan asrama Julls, saya larut dalam kesibukan tugas akhir. Saya mendapatkan tantangan dari dosen untuk membuat road movie alias film traveling sebagai tugas akhir lantaran hobby saya yang suka jalan. Dan nyesel juga begitu saya mulai mengedit film2 yang pernah saya ambil sewaktu traveling dengan Julls, malah mengingatkan saya pada kebersamaan kami dulu. Oough!

Sewaktu mengedit film di Lab kampus, Ling berkali2 menggoda saya melihat di stock film saya, yang banyak menshoot adegan Julls, sewaktu traveling, sewaktu Julls menggambar, bahkan sampai menyiapkan breakfast. Dan siapa sangka hal yang dilihatnya ini membuat ke isengan nya kumat. Tunggu saja…

****

Kini sudah 2 mingguan saya tidak bertemu Julls, begini lebih baik, benar kata Coline, kalo tidak sanggup lebih baik lupakan.

Dan sore itu Ling mengajak saya ke ruangan Lab. Kampus ada yang ingin ia perlihatkan ke saya. Dan saya langsung shock begitu Ling mencuri data2 film traveling saya dan mengedit semaunya, durasi nya sangat singkat, di film itu ia mengedit film2 traveling dan foto2 di komputer saya, menjadikan film romantis dengan lagu zaman dulu, menguatkan kesan romantisme, dengan gaya editan warna khas tahun 50 an. (walau ia masih amatiran ngedit, tapi cukup bagus juga) Tapi maksudnya dia buat ginian, buat apaan nih?

Ling melihat jam nya, ia nya tampak cemas lalu mengajak saya ke stasiun Lyon, Ling tampak membawa ransel, mau kemana si Ling?!

Sesampainya di stasiun, saya di suruh membawakan Ransel yang gak ada isinya terus di suruh berdiri di loket. Ia nya malah menyembunyikan diri dari kejauhan dan sejenak kemudian HP di tangan saya berbunyi, Ling menelpon.

“Maksud lo apaan sih? Saya celingak-celinguk nyari Ling yang menghilang, entah menelpon darimana.

“Rei denger ya, Film pendek yang barusan lo liat itu, gw kasih ke Julls atas nama lo pembuatnya, dan gw juga bilang ke dia, kalo hari ini kamu akan pulang ke Indonesia, meninggalkannya, meminta maap pada nya karena membuat nya menghindar dari lo!, dan mengucapkan terima kasih atas semua yang sudah terjadi”

“WHATT!!!!!!!!!!!!!” saya langsung sport jantung!

“Ling! Lo pikir kehidupan gw ini seperti cerita2 film yang bisa lo atur semau lo apa?! Gw juga punya privasi, begitu juga Julls! Apapun keputusan gw, lo ngapain ikut campur!!!, lo sinting!”

“Kalian harus ngomong Rei!”

Klik! Buru2 saya matikan HP, saya emosi sekali saat itu!, lagipula… saya menatap sekitar, Yaah Julls pun juga menyepakati hal ini, jika kami memang tidak perlu lagi bertemu untuk sesuatu yang mustahil akan terjadi.

Saya berbalik seraya membenarkan ransel kosong di bahu, ketika saya berbalik beberapa meter di dihadapan saya seseorang gadis dengan napas memburunya langsung berhenti di depan saya, Ada Julls 30 meter di depan saya diantara lalu lalang para penumpang kereta api.

“Julss…” Saya mati kata mendekatinya, melihat peluhnya yang memenuhi wajahnya dan ekspresi pilunya.

“Ka..kamu mau kemana Rei…” Julls memandang saya dengan mata berkaca2

“Aaaa…” Saya kehabisan kata, terlebih melihatnya datang ke stasiun ini dengan membawa ransel miliknya.

“Kamu..kamu jahat Rei, pergi gitu aja!, saya…”

Hanya hening yang menyelimuti, saya gugup bukan main dengan apa yang ia lakukan.

“Apa salah saya Rei…, apa salah saya?” Kali ini Julls menangis

“Bilang apa salah saya, sampai kamu ninggalin saya gini?!” Julls terduduk menutup wajahnya yang banjir air mata.

Saya hanya diam membisu, demi Tuhan saya sendiri juga tidak tau akan seperti ini jadinya. Saya mendekati Julls, menunduk, mencoba merasakan sakit hatinya.

“Bilang sesuatu Rei..” kali ini mata Julls yang basah menatap saya. Dari jauh Ling menatap sesal.

Diantara lalu lalang penumpang kereta api, senja yang menguning, dan angin yang berhembus, serta kenangan masa lalu yang merayap pelan, dari ucapan iseng ku tentang Jet ‘Aime padamu di awal kedekatan kita, sampai jernihnya danau lucerne yang memantulkan wajah kita berdua yang coba kamu photo. Dari semua kenangan yang perlahan mendekat, maaf hari itu saya belum bisa memberimu jawaban, sayangku...

Kita memang harus bicara.

Andrei B. / Author & Editor

Saat ini bekerja sebagai senior copywriter di perusahaan Consulting Creative di Jakarta

Coprights @ 2016, Blogger Template Designed By Templateism | Re-design By Andrei