Saturday, May 10, 2008

Memiliki akhir...

Andrei B.
Akhirnya hari itu datang juga,
saat dimana saya harus tetap menegakkan kepala
walau air mata tidak kunjung berhenti mengalir,
inilah periode berat dalam hidup saya.

Di hari itu, saya seolah kembali masa lalu, seolah si gadis kota hujan berdiri di sudut kota Lyon. ketika sesuatu darinya yang saya temui terpajang di ruang informasi mahasiswa. Surat dari mu F.

Jujur ini adalah hal istimewa yang saya dapati sepanjang kehidupan saya di negara yang jauuh sekali darimu. Dengan perasaan yang tidak menentu saya membuka surat dari mu yang masih bersampul biru. Dan perlu waktu cukup lama untuk membaca dan mengerti semua nya. Kabarmu yang sudah mendapati kartu pos yang aku kirim, dan curahan hati mu yang sangat jelas terbaca. Dimulai dari cerita mu beberapa tahun silam, tentang awal kedekatan kita yang tidak biasa, saat aku menemukan dompet mu yang jatuh tak jauh dari tempat mu duduk, dan aku yang langsung mengembalikan padamu dengan kegugupan yang luar biasa karena sebelumnya aku sudah jatuh cinta pada mu pada pandangan pertama. Saat itulah pertama kalinya kita bercakap, dan siapa sangka di surat ini ia mengatakan padaku, bahwa saat itu ia memang sengaja menjatuhkan dompetnya dekat dengan ku, agar kiranya kita tak perlu lagi saling mencuri pandang dari kejauhan. Karena terlalu lama menunggu saat dimana aku berani berbicara padamu.

Dan paragraph suratmu berikutnya tentang kenangan kita, dan hal2 tolol kita.
Kenangan kita saat pergi ke pasar malam dengan karnaval dadakan nya, saat dimana genggaman tangan mu terlepas dan kamu menghilang di keramaian, aku yang kalut mencari mu kesana kemari, karena masa itu HP belum merakyat, sampai aku inisiatif nekat ke atas panggung hiburan untuk bilang ke pembawa acara/MC bahwa aku kehilangan mu, dan aku yang di kerjain MC nya untuk tetep stay di panggung, dan si MC yang memanggilmu dari atas panggung. Dan aku masih ingat bagaimana aku menyumpahi mu dalam hati saat kamu saat itu malah angkat tangan begitu namamu dipanggil dan mau saja tatkala kamu di suruh naik ke atas panggung untuk dipertemukan dengan ku, tidak berpikirkah kau F kalau hal itu bisa jadi tertawaan orang2 yang mulai memenuhi tepian panggung hiburan? Benar saja, di atas panggung itu sang MC menjadikan kita bulan2 an, mengatakan ketidak percayaan nya kalo kita hanya sahabat, malah ia nya mengatakan kalo kita ini pasangan yang kawin lari yang di sambut riuh tertawa orang yang menonton, kita berdua hanya tertunduk malu, lucunya tangan kita saling bergenggaman seperti anak SD yang ketakutan.

Dalam baris2 kalimat itu, aku sejenak berhenti merenung. Karena ada hal manis yang terlewat olehmu, hal yang membuatku teramat menyukaimu saat itu, saat dimana alasan aku pindah ke kota Bogor dan tidak langsung kuliah karena aku harus menjalani terapi kaki ku yang masih berjalan pincang, karena kecelakaan. Bersama dengan mu, juga merupakan proses penyembuhan bagiku, tanpa kamu sadari setiap bersama mu aku berusaha bagaimana berjalan supaya tidak terlihat pincang, melelahkan memang berpura2 berjalan sewajarnya saat sebenarnya kaki ini masih belum terbiasa berjalan sempurna. Sampai di minggu pagi saat kamu menelpon ku untuk datang dengan membawa sepatu, siapa sangka kamu malah mengajakku lari pagi yang aku pikir sebelumnya kamu mau ngajak aku pergi ke kondangan.

Aku masih ingat betapa kalutnya aku ketika kamu mulai mengajakku berlari, Akhirnya aku hanya berlari kecil, itupun terasa sekali pincangnya. Aku hanya berharap kamu tidak menyadarinya, sampai beberapa orang melihat ke anehan ku berlari, sumpah malu sekali rasanya. Sampai kamu membisikkan padaku

“Sakit kah?”

Saya menggeleng, tidak sama sekali. “tapi saya sakit disini”, menunjukkan dada, betapa saya malu saat itu.
kamu memandang saya yang tertunduk malu.

“Terima kasih Rei, kamu mau berkorban buat saya, untuk melewati pagi cerah ini, untuk berlari bersama dengan mengorbankan perasaan malu mu, sungguh saya sangat tersanjung atas hal ini, tidak ada alasan bagi saya mengatakan hal yang sama seperti yang lain, bagiku kamu sesuatu buat saya”

Saat itu saya hanya tertunduk menahan air mata yang jatuh, dulu... ketika kaki saya cidera, saya menyalahkan rencana Tuhan untuk saya, namun ternyata karena hal itulah saya jadi bertemu dengan nya, si gadis kota hujan. Jika sakit itu harus lebih dulu saya rasa untuk mendapatkan moment seperti saat itu, demi Tuhan saya rela berkorban lebih.
Ternyata Tuhan tahu, hanya menunggu.

Dan paragraph suratmu berikutnya tentang perpisahan kita
Tentang perpisahan kita di stasiun kecil, tentang kejadian sendu yang mungkin ketika kita beranjak dewasa, kita akan menertawakan saat itu, saat dimana tangisan mu yang tidak mau aku pergi dan nanar nya mataku pertanda aku pun berat meninggalkan mu, sampai waktu yang kini mendewasakan kita, ternyata sampai saat ini pun entah mengapa kita tidak mampu menertawakan hal bodoh itu. Bahkan mungkin kita sepakat, kita memang harus menangis, karena kamu hanya perlu menamparku hanya untuk menyadarkan, jika kamu membutuhkan ikatan yang bernama cinta dari mulutku yang tak kunjung terucap.

Paragraph surat terakhir mu tentang JAWABAN
Paragraph yang akan mengakhiri segalanya, saat kamu mengatakan bagaimana kegelisahan seorang Ibu yang menginginkan buah hatinya bahagia dalam ikatan suci, Hal yang menyadarkan mu bukan saja tentang usia kita yang beranjak dewasa, tapi juga bahwa manusia itu tidak bisa hidup dari masa lalu, karena ada hal yang harus ditunaikan sebagai seorang manusia, kehidupan duniawi dan akhirat nya, bersama seseorang yang memang ditakdirkan berpasang-pasangan.
Terima kasihmu untuk ku, untuk kenangan masa lalu yang Indah sekaligus Ironi. Serta kalimat akhirmu mu yang menutup surat bersampul biru, yang membuat aku menangis;

Maaf jika aku mendahului mu Rei”, tutup mu di akhir surat.

*

Untuk F, untuk impian mu yang ingin jadi penulis dan ingin memiliki buku sendiri, dari saat itu hingga hari ini, saya belajar menulis untuk mu, untuk mencoba mewujudkan salah satu impian mu.

Mendoakanmu bahagia dan mensyukuri pernah menemukanmu

Andrei B. / Author & Editor

Saat ini bekerja sebagai senior copywriter di perusahaan Consulting Creative di Jakarta

Coprights @ 2016, Blogger Template Designed By Templateism | Re-design By Andrei