Saturday, May 3, 2008

"Grays"

Andrei B.
Rencana nya kami akan bangun pada pagi2 buta, agar kita bisa berkemas pergi, melanjutkan petualangan, nyatanya kita baru bangun sekitar pukul 6, Sudah terang. Buru2 kami mengemas secepatnya sebelum ada pihak yang berwenang datang, Julls agak menggerutu lantaran tidurnya sama sekali belum puas.

“Udah cuci muka dulu sana! Muka lo jelek Julls kalo bangun tidur!” ucap saya melihat Julls belum juga bangun

“Aah yang bener?” Julls buru2 menyapu wajah nya pake tangan dan mencari air mineral untuk cuci muka, Hihihi siasat untuk bikin bangun Julls berhasil (gak sadar juga dia kalo foto dia bangun tidur juga berhasil saya jepret :p). Segera setelah itu saya merapikan tenda, sementara Julls mengeluarkan bekal sisa roti. Kami berlanjut menyandangkan ransel dan pergi berjalan kembali seraya menikmati sarapan sekedar.

Pagi dingin itu, masih menyisakan kabut menyelimuti gunung chamonix nun jauh di selatan. Dan sekali lagi kami berdiri di tepi Jalan, mencari tumpangan menuju ke utara. kali ini lebih mudah, dan sepertinya lebih aman. Kami mendapatkan tumpangan seorang pria dan wanita berumur sekitar 40 tahunan (perkiraan Julls) bernama Arnie dan Lynn yang menaiki mobil Pugeot biru tua, sepasang Perancis itu boleh dibilang ramah. Dalam, perjalanan kami ditawari makanan pasta yang masih hangat, rencananya sepasang baya ini akan pergi ke kota kecil Chiela, 4 jam dari laussane, jelas kita seneng banget karena perjalanan itu menuju ke utara.

“Jadi kalian ini, sepasang kekasih yang melakukan traveling bersama?” Ucap Arnie dalam satu kesempatan

Sebenernya kemaren kami sudah sepakat untuk bilang ke orang2 kalo kami ini sepasang kekasih untuk menghindari hal2 yang seperti kejadian hitching kemaren. Tapi untuk sepasang baya ini gak perlu ngaku2 lah kayaknya.

“Bukan! Kami hanya partner traveling saja!” ucap saya tegas, Julls langsung mendelik kan matanya ke arah saya.

“Eh anu maksudnya, saya menyukai partner saya ini, tapi entah mengapa sampai sekarang ia tidak mau menjadikan saya pacarnya” keluh saya pura2, yang langsung di sambut ketawa Arnie dan Lynn, sedang Julls hanya diam setelah sebelumnya memandang judes ke saya.

Singkat cerita, kami kini sudah tiba di desa kecil sebelum kota Chiela saya lupa apa nama desa itu, Kami memang harus berhenti disini karena Arnie akan berbelok menuju ke barat, jadi dari tempat kami turun itu, kami harus cari tumpangan lain untuk terus ke utara.

Kami melanjutkan perjalanan siang itu menikmati desa kecil yang terlihat sepi, bahkan memasuki pedestrian pun hanya beberapa orang saja yang kami jumpai, Jujur saja desa itu membuat saya merasa tidak nyaman, apa lagi saat itu Julls tidak banyak bercakap. Saya ajak ngomong pun ia nya hanya menjawab sekedarnya. Sampai saya menemukan kantor pos kecil, saya inisiatif untuk mengirimkan kartu pos buat seseorang nun jauh di sana, yaaa...gara2 malam sebelumnya Julls mengingatkan saya pada cinta pertama saya, si gadis kota hujan, saya jadi ingin sekali mengirimkan kartu pos ini ke rumahnya.

Julls hanya mengangguk lemah, mengiyakan niat saya untuk mengirim kartu pos, Julls duduk di tangga batu dekat kantor pos, sedang saya masuk untuk membeli kartu pos, berikutnya saya sudah keluar lagi, duduk disamping Julls, asyik memikirkan kalimat2 untuk si gadis kota hujan. tanpa terasa kalimat demi kalimat tertulis di kartu pos putih dengan gambar depannya pemandangan swiss yang jatuh pada senja hari.

Dear F,

Hmm...aku bingung harus mulai dari mana kartu pos ini ditulis, sudah lama yaa kita gak surat2 an lagi. Padahal berhubungan dengan mu lewat surat dulu lebih mengasyikan, tiap akhir minggu menanti tukang pos yang mengantar surat mu, mendapati surat mu yang selalu bersampul biru, warna kesukaan mu.

Gak heran sampai sekarang aku masih mengutuk keberadaan handphone dengan sms yang membuat dunia muda kita tidak lagi berwarna, kamu mengertikan maksudnya? F...sudah lama kita gak ketemu, sudah lama sekali, semakin aku mengingat mu setiap hari, aku jadi lupa bagaimana kamu tersenyum, bagaimana wajahmu yang memerah saat aku mendapatimu tengah menatapku diam2, dan hampir lupa rasa hangatnya balasan genggaman tanganmu.

Semoga kalimat yang aku tulis tidak terasa konyol, jika demikan bakar saja kartu pos ini, sudah cukup aku melewati hidup kekonyolan tanpa kamu.

Kangen kamu,
Andrei

Seeph!, saya langsung memandangi kartu pos yang berisi tulisan saya yang super rapat2, biar ngepas. Di samping saya Julls masih berwajah muram, ia nya hanya mengeluarkan sketch book nya. Perasaan saya jadi gak enak, saya langsung duduk satu tingkat di tangga batu di atas nya, mengurut bahunya. sambil iseng menawarkan rambutnya yang saya kepang dua. Julls hanya mengangguk, akhirnya saya sibuk mengepang rambut lurus nya. Sambil menyenandungkan lagu Norah Jones kesukaan nya lewat suara Falls saya. Sambil sesekali menoleh heran melihat gadis gimbal yang bersepeda mini, gak Matching ama badan besar nya. Sesekali gadis itu melambai ke arah kami, dan terkadang ia menyanyi2 gak jelas.

Selesai mengepang rambut Julls, saya bergegas memasuki kantor pos, mengirimkan isyarat hati.

Selepas keluar dari kantor pos saya melihat Julls yang di deketin cewek bongsor bergimbal tadi, gaya nya seolah mengintimidasi Julls, sedang Julls sendiri hanya diam, sama seperti ekpresi nya sebelumnya.

Ada apa dengan Julls ya?” Saya berjalan mendekati Julls, dan menyapa cewek bongsor, yang langsung jejeritan gak jelas lalu mengambil sepeda mini nya. Dan mengayuh kencang meninggalkan kami.

..............


“Banyak orang aneh juga di Eropa sini”. Hampir sama dengan ke anehan Julls saat itu, hanya diam. Dan ketika saya duduk disampingnya, menanyai nya. Ia hanya menjawab sekedar

“Saya cuma lelah...” ucap Julls datar seraya merebahkan kepalanya ke bahu saya.

Saat itu saya merasa hari itu, betul2 hari yang sendu...

Andrei B. / Author & Editor

Saat ini bekerja sebagai senior copywriter di perusahaan Consulting Creative di Jakarta

Coprights @ 2016, Blogger Template Designed By Templateism | Re-design By Andrei