Tuesday, April 15, 2008

Agenda...agenda...

Andrei B.
Hari ke empat di kota ini masih sama dari hari2 sebelumnya, pengarahan2 dan terjun ke lapangan melihat bagaimana negara tersebut mengkampanyekan budaya hijau. Hari itu perhatian saya tidak begitu fokus dengan program2 yang ada, padahal agendanya hari ini saya akan bertemu beberapa pejabat2 penting UE pada bidang lingkungan. Pikiran saya jauh melayang ke kampus di Lyon. Yaah bisa ditebak saya kangen banget!, jauh dari kota Lyon membuat ada yang hilang dalam diri saya. Padahal baru semingguan saya meninggalkan kota itu, itu yang saya keluhkan pada Julls dua hari lalu pada satu kesempatan ketika kami On Line. Kadang kalo saya tanya tentang kabar Ling pada Julls pun, ia nya hanya menggeleng pada isyarat icon di MSN. Kabar menyenangkan nya saat itu, diluar dugaan Julls akan menyusul saya ke Swiss, katanya ia punya kakek dan nenek disana, jadi sekalian pengen nengokin. Dan sore nanti ia rencananya akan datang

Siang itu saya menuju kantor perwakilan UN, dan bertemu banyak official2 penting yang akan mengarahkan kami untuk agenda2 mereka di kawasan barat Eropa. Dan setelah penjelasan itu, saya dapat kabar dari salah satu official disana untuk bertemu salah satu pejabat negara saya. Deg! Siapa gerangan?

Sebenernya sih saya rada segan mengisahkan kisah2 selama jadi volunteer disini, takut saya salah omong, karena mau gak mau ini erat kaitannya pada masalah politik, kepentingan, paradigma, pandangan subyektif dan lain2. Di ruang tamu itu, saya menemui salah satu pejabat penting negara kita, nama beliau Bp. Abdurrahman mattaliti, asli baru kali ini saya ngobrol 4 mata ama salah satu pejabat mentereng negara kita.

Walau awal2 pembicaraan yang ada hanyalah obrolan2 segan dari saya namun setelah ia menyodorkan rokok kreteknya pada saya dan menawarkan kopi barulah suasana jadi cair (memang bener rokok itu simbol ke akraban, lagipula kapan lagi saya ngerasain rokok pejabat? :p), jadilah obrolan saya lebih berani, udah ngomongin dari Irak sampai Amerika, saya serasa jadi kayak Rosiana Silalahi di liputan 6, mewawancarai orang penting, dan beliau ini boleh dibilang sangat2 bagus sekali pandangan nya tentang konstelasi politik dunia, beliau ini tau bukan cuma dari kulitnya aja, makanya kalo pertanyaan saya sudah pada “Motifnya apa?” maka tanpa segan beliau langsung membawa saya pada histori suatu negara, pada komparasi literasi yang puluhan, dan menyimpulkannya dengan cantik. What a brilliant mind!

Dalam perjalanan pulang ke “Wisma” Volunteer, saya minta untuk di turunkan pada salah satu rumah museum benda2 antik di sudut kota Swiss, disana lah nanti saya akan menemui Julls. Rumah yang berisi perabotan antik itu benar2 memiliki cita rasa kelas atas, mulai dari ruang tamunya sampai dapurnya. Baru saja saya sampai pada ruang tengah rumah tersebut (saya benar2 lupa apa sebutan untuk nama rumah tersebut, maaf) Perempuan berbaju hitam sudah menyapa saya dengan senyuman manis, yang karena senyuman itulah buat saya jatuh cinta pertama kali pada pandangan pertama, Julls setengah berlari mendekati saya seolah gak perduli di kiri-kanannya ada barang2 mewah (dengan label: pecah berarti membeli). Kami langsung ber tele tubbies ria, padahal baru kepisah seminggu tapi rasanya kayak udah ga ketemu tahunan, apalagi kalo kita udah pulang ke negara masing2 tuh :p

Sebener nya setelah acara saling menanyakan kabar, saya kepengen sekali nanya gimana kabar Ling, tapi jujur gak enak banget lah, bisa merusak suasana. Jadilah hari itu kami menghabiskan waktu menikmati barang2 mewah furniture rumah itu, dan menunggu Julls yang selalu menggambar, serta makan siang yang terlambat.



Keterangan:
Gbr.1
: Keantikan rumah dengan atmosfer yang menenangkan. Gbr.2: Happy cava and pear cake.
Gbr.3: Biasa...siapa lagi...

Pada kesempatan itu juga Julls ngajakin saya untuk berkunjung di rumah keluarganya yang hanya beberapa blok dari rumah ini, tanpa pikir panjang saya langsung mengiyakan, Toh malam ini saya tidak ada agenda lagi.

Hanya dalam 30 menit berjalan kaki saya sudah berada di sebuah flat milik keluarga Julls, yang hanya ditempati oleh kakek dan nenek Julls. Sambutan keluarga mereka boleh dibilang hangat sekali, sudah 8 tahun mereka gak ketemu, melihat Julls tertawa senang dalam dekapan neneknya, sesekali tampak mereka menghapus air mata yang jatuh dalam keharuan dan kerinduan. Ada sesuatu yang menohok perasaan saya saat itu, yaaa saya kangen rumah.

Malam itu akhirnya saya kembali makan nasi! Hehehe! Bisa dipahami lantaran Kakek-nenek Julls dari Hongkong, naah pada kesempatan ini sih saya gak segan untuk memfoto makanan di hadapan saya ini, agar lebih jelas apa2 aja yang tersaji, Julls saya suruh membuat keterangan pada foto saya ini, tentu saja saya gak bilang kalo saya punya blog. Beeuuh bisa2 kebuka semua ntar aib dan rahasia perasaan saya kalo dia tau. :p


Malam itu Julls, menyarankan saya untuk bermalam, Sewaktu saya menghubungi official sana pun mereka gak keberatan, mereka hanya memberitahu kalo permintaan saya untuk di tempatkan sebagai volunteer lingkungan di desa kecil di Jerman sudah di approve. Yaa saya sengaja milih kota itu lantaran dulu saya cuma menghabiskan sehari berada di Jerman (waktu awal2 kedatangan ke Eropa) jadi saya belum puas menikmati seperti apa sih negara ini, syukurlah saya diberi kesempatan untuk pergi ke sana. Dan yaah dalam dua hari ke depan saya akan bertualang lagi menuju utara ke sebuah desa kecil di Jerman. Syukurnya bukan lagi kewajiban ikut dalam agenda2 volunteer selama beberapa hari ke depan di Swiss ini, kecuali pada agenda di kota kecil di Jerman nanti yang sudah saya pilih, karena saya punya rencana khusus dalam beberapa hari ke depan. Menjadi Real Backpacker!
Yaaa…petualangan saya masih akan panjang, dan lagi2 saya tidak berdaya menolak permintaan dari Julls tatkala ia nya memohon untuk ikut serta dalam perjalanan panjang saya nanti. Keputusan sudah disepakati, kami akan berkelana sebagai petualang sesungguhnya, tidak ada yang namanya naik Bis ato naik kereta, kita akan Hitch (istilah untuk numpang mobil2 yang lewat menuju arah yang sama), kita akan tidur di pinggir2 jalan, ato tidur di rumah orang2 yang mau menampung kami, sampai berjalan puluhan kilo hanya dengan sebuah peta. terdengar ekstrim, namun inilah esensi backpacker. Tunggu saja, banyak hal yang terjadi dalam petualangan kami nanti.

salam :)

Andrei B. / Author & Editor

Saat ini bekerja sebagai senior copywriter di perusahaan Consulting Creative di Jakarta

Coprights @ 2016, Blogger Template Designed By Templateism | Re-design By Andrei