Thursday, April 17, 2008

1st time hitch in europe

Andrei B.
Mudah sebenernya untuk melakukan hitch di negara Eropa, karena sudah jadi semacam budaya, tidak jarang di saat dalam perjalanan melintasi kota2 di Eropa banyak dari backpacker yang berdiri di pinggir jalan sambil membawa tulisan di karton nama kota tujuan mereka, seraya mengacungkan jempol horizontal mereka sebagai penanda.

Hari ini kami akan melakukannya, Julls agak ragu2, baginya ini jelas pengalaman pertamanya, bagi saya pribadi ini bukanlah yang pertama kalinya dulu saya pernah melakukannya di jaman SMA dulu, waktu bersama temen sesama pecinta alam.

Walau tujuan kita adalah ke negara Jerman namun, tulisan di karton yang kami bawa tidaklah bertuliskan nama kota di Jerman itu, jadi yang ditulis adalah kota2 besar yang berada pada jalur tujuan kami, dimulai dari kota yang terdekat, begitu seterusnya sampai menuju kota bersangkutan. Tujuan kami adalah menuju desa kecil bernama Montjoe yang berada di timur Jerman, hampir berbatasan dengan negara Belanda. Kali ini saya pun berdiri di pinggir jalan dengan mengangkat karton bertuliskan kota Bern, menuju Jantung Swiss dulu barulah terus ke utara lewat selatan Jerman menuju Montjoe.

Sigh! Sudah setengah jam saya berdiri di tengah lalu lalang mobil2 dan truck2 barang yang lewat, tapi gak ada satupun yang berenti, di belakang saya Julls dengan topi khas nya duduk termangu di rindang pohon. Sesekali ia nya tersenyum melihat polah saya yang mulai stress, namun tetap setia memasang senyum manis ke mobil2 yang lewat. Arrggh, apa gue harus pasang paha, biar ada yang mau berenti? (yang ada sopir yang ngeliat pada muntah kali :p)

Kali ini Julls mendekati saya dan melakukan sign Hitch sendiri, berdiri lebih dekat dengan bibir jalan, memang beberapa sopir memberi perhatian lebih, namun sayang tujuan nya kebanyakan berbeda, But Hey, at least they give the attentions :D

Benar saja, kurang dari 15 menit Julls sudah berhasil menemukan mobil yang mau mengangkut kami, tidak sampai Bern, tapi dia akan memberi tumpangan sampai Laussane (kota sebelum Bern). Great! Saya memanggul ransel saya semangat menuju ke arah mobil sedan yang dikendarai seorang pria muda. Fiuuh emang kalo cewek lebih ampuh menggaet hati para sopir2 pria :p

“Hebat kamu Julls, padahal pengalaman pertama kamu tuh” bisik saya yang di sambut kedipan mata Julls. Saya duduk di bagian belakang mobil dan Julls di depannya di samping supir, percakapan berlanjut si sopir bernama Jim baru saja dari perjalanan jauh, dari kota Novara di Utara Italia, kampungnya. Untuk mengunjungi kekasih yang berada di Lausanne, yang tengah kuliah disana, semula ia keberatan wanita yang ia cintai itu pindah, jauh darinya. Namun demi sang kekasih tercinta ia rela jauh2 menemui tiap akhir pekan. Sound familiar, eh? :p. Tidak heran Julls cepat ngakrab, berbagi kisah bersama Jim di depan, saya di belakang hanya terpaku sebagai pendengar, Julls tampak sangat excited kalo ada orang udah ngomong masalah cinta2 an gini. Saya memandang keluar jendela mobil, menatap langit Jam 2 siang, jujur saja sesampainya di Lausanne atau Bern sekalipun kita belum tau akan nginep dimana? Kalo ada tempat yang available untuk tidur, entah di taman, atau di hutan sekalipun gak masalah, namun kalo gak memungkinkan juga, kita udah punya daftar nama2 hostel2 murah khusus Backpacker.

Mobil menepi ke pinggiran, ke tempat yang di penuhi padang ilalang, kami beristirahat sejenak setelah 3 jam perjalanan, Jim menawarkan bekal makanannya, satu kotak besar Spaghetinya, Kami sekedar mencicipi saja, karena di ransel Julls kami masih punya bekal roti dan satu botol besar air mineral. Kami bercakap makna dalam sore yang menawan, Julls duduk menyilangkan kedua kakinya di atas kap depan mobil tua Jim, masih melanjutkan obrolan nya tadi, sedang saya sibuk mencari spot2 menarik untuk di foto. Saya menatap dari jauh, melihat Julls dan Jim yang bercakap sesekali di iringi gelak tawa keduanya, “Seru amat, ngomongin apa aja sih?”

Perjalanan dilanjutkan, saya tertidur lelap di kursi belakang, gara2 tadi malam, saya ngobrol larut dengan rekan sesama volunteer bahas agenda kerja. Saya sendiri gak ingat betul berapa lama tadi tertidur, yang jelas saat itu Julls pun juga terlelap tidur, Jim menengok kebelakang, ke arah saya, buru2 saya pura2 tidur lelap. Dan tampak jelas di tempat saya sekarang, Tangan Jim bergerak mengelus pipi Julls, sesekali merapikan rambut Julls yang tertiup angin. Oh Tuhan! Apa yang sedang ia lakukan?. Saya mulai merinding, serba salah mau mengambil sikap kayak gimana dulu. Namun saat itu hanya sekejap yang dilakukan Jim pada Julls, tidak ada lagi kelanjutan akan aksi nya. Julls sendiri gak sadar ia tertidur kelelahan. Apa Jim terbawa suasana? Ataukah…?

Di kursi belakang saya hanya bisa salah tingkah.
kalo sampe macem2 alamat keluar jurus pitung inih!

Andrei B. / Author & Editor

Saat ini bekerja sebagai senior copywriter di perusahaan Consulting Creative di Jakarta

Coprights @ 2016, Blogger Template Designed By Templateism | Re-design By Andrei