Tuesday, March 25, 2008

Untitled ('cause confused how to describe all)

Andrei B.
Sejatinya menjadi volunteer itu bukanlah sebuah pekerjaan namun itulah kewajiban, kita menyumbangkan sesuatu untuk kemaslahatan umat. Memberikan sumbangsih kita terhadap dunia, menunjukkan kepedulian kita akan ketimpangan yang terjadi, pada ketertindasan, pada penderitaan perang, pada hak2 manusia yang dirampas dan terampas, dan untuk melihat segalanya ke depan untuk generasi berikutnya, pada ibu bumi yang sudah tua. Kawan, Jangan remehkan satu aksi kecil sekalipun, walau itu hanya mengembalikan anak burung yang jatuh dari sangkar di atas pohon pinus. Sesungguhnya bagi keyakinan saya tidak ada yang tidak diketahui Nya walau sehelai daun yang jatuh dari pohonnya.
(pada speech time, sehari sebelum keberangkatan ke Swiss)

Saya berangkat pada pukul 5 pagi bersama Marion, dan Jason. Marion sudah 2 tahun ini berkerja di PBB, di Jenewa tepatnya. Acara yang berlangsung hanya seminggu ini akan di isi dengan berbagai kegiatan, bertemu remaja seusia, bertukar pendapat dan melakukan aksi sosial bersama. Sudah 3 jam saya berada di mobil Van bermerek Volks wagen. Saya benar2 mengantuk sebenarnya, karena kemaren saya banyak melakukan kegiatan. Dari acara jalan bersama Julls, berlanjut menuju pesta malam di atas atap rumah home stay keluarga nya Ling dengan di temani Lilin sembari mengundang beberapa teman sekelas karena saat itu kebetulan week end. Lelah sekali rasanya, pagi tadi Julls membawakan bekal makanan untuk saya, sembari melepas kepergian, sedang Ling seperti biasa ia tidak kuasa bangun pagi2 buta. Ia hanya berpesan untuk membawakan coklat di Swiss nanti. Oouugh! Sahabat macam apa dia!

Dalam perjalanan tidak banyak percakapan, mungkin Jason dan Marion juga agak lelah atau jemu tiap semester nya melakukan perkerjaan yang sama. Mobil menembus perbukitan dan tebing yang terjal di sisi nya. Kita seolah melakukan perjalanan menemukan kota di balik pegunungan, saya membuka jendela kaca, angin sejuk dan bau pepohonan membuat angan saya melambung tinggi, seolah menembus panca2 indera. Ketika matahari mulai mengintip di balik perbukitan, dan mobil berkelok melintasi jembatan dengan sungai besar yang jernih, dengan pemandangan pepohonan yang tumbuh rapi, entah mengapa tiba2 saya mengerutkan kening, seolah berfikir bingung, dan lalu saya berkata dalam hati

“Pasti akan ada Rusa yang keluar di sisi kanan hutan!”

Benar saja tak lama kemudian, Rusa keluar dari semak, melompat tangkas dan membusungkan dada nya anggun, kami melewatinya. Lalu saya berkata lagi dalam hati: Marion akan menanyakan keadaan saya.

“Andrei are u ok?” Marion melihat kebelakang, melihat saya. Dan saya mengangguk. Saya mengerutkan kening, lalu saya bertanya: “Masih lama kah perjalanan ini?”

Saya lalu mengangkat jemari saya membentuk hitungan tiga jari, sesaat sebelum Marion melakukannya. Marion bingung dengan gelagat saya yang mampu menebak tindakannya persis. Selanjutnya saya tersandar lelah memilih memejamkan matanya. Demi Allah saya tidak percaya Reinkarnasi. Namun saya baru saja mengalami yang kata orang di sebut Dejavu. Hanya Tuhan yang tahu.
***
Saya dibangunkan oleh Jason, saya menguap jenak, mengucek2 mata saya yang terasa perih melihat sinar matahari jam 12 Siang.

Saya keluar dari mobil, merasakan hangat sinar matahari daerah Selatan, dan menebarkan pandangan ke segala penjuru. Mematung. Saya melihat teropong dan perlahan mendekatinya, mengamati dari lubang nya melihat apa yang masih samar nun di bawah sana yang berkilau bak permata.



Saya berlari kecil meninggalkan Jason dan Marion. Menuruni bukit, menerobos beberapa pohon. Dan suara injakan2 rating pohon yang patah berganti dengan gemericik air, dan burung2 yang terbang rendah. Saya berhenti, menatap apa yang saya lihat di mata saya. Dahulu kala semenjak saya kecil, sebelum tidur Ibu saya selalu membawakan saya buku2 dongeng Eropa, beliau selalu menyisihkan uang jatah ke pasar hanya untuk membeli buku2 dongeng di pasar Arum manis, untuk bisa baginya mengisahkan tentang Putri Tidur, tentang petualangan Tom Sawyer, tentang Alice in wonderland, tentang suatu desa dengan danau berkilau yang dilewati angsa putih, lalu kelinci dan rusa2 yang dilepas alami di hutan indah, dan bunga2 yang bermekaran rupa. Imajinasi masa kecil saya kembali terurai, bukan lagi sekedar awang2 namun kini semua terhampar nyata di depan saya. Saya berada di sebuah kota kecil yang sangat indah, kota yang selalu di imajinasikan jelas lewat cerita Ibu saya tiap malam nya menjelang tidur sewaktu kecil.

Saya berpaling ke arah Marion yang menyusul saya.“Inikah namanya Jenewa?”

Marion menggeleng “Kita masih di Perancis, di bagian selatan, hanya beberapa Kilo Meter dari negara Swiss”

Dan begitu Marion menyebut nama kota itu, ada rasa haru bercampur menyesal dengan gadis lincah itu. “Maaf saya mendahului mu”, saya menghirup napas dalam2 menatap pegunungan Chamonix yang anggun yang mengelilingi nya. Kini saya sudah berada di sebuah kota yang bagi Ling adalah kota indah di dataran Eropa. Kota itu bernama Annecy.

“Indah bukan? Jangan kuatir kita akan bermalam sehari di tempat ini Rei” Marion berkata sambil berlalu meninggalkan saya yang dipenuhi banyak tanya, dari Dejavu, dari dongeng masa kecil dan dari bisikan seorang sahabat. Memang sejujurnya ada benang merah dari kejadian2 aneh hari ini, bukankah segala yang terjadi tidak ada yang kebetulan?. Dan….Ya, saya mengerti apa benang merah semua ini.

Biarlah hanya saya yang tau dan menyesapi nya makna. Subhanallah!





Andrei B. / Author & Editor

Saat ini bekerja sebagai senior copywriter di perusahaan Consulting Creative di Jakarta

Coprights @ 2016, Blogger Template Designed By Templateism | Re-design By Andrei