Friday, March 14, 2008

Akan saya beritahu pada anda

Andrei B.
Sebenernya saya agak sungkan juga menceritakan pengalaman di kamar saya itu, saat semua orang yang disayangi ngumpul semua di sana. Karena setelah kejadian di postingan terakhir itu, ada banyak hal yang bikin saya pribadi dan mungkin yang baca geleng2 kepala. Betapa tidak selepas acara main X-Box. Tiba2 Ling mempunyai ide konyol yang bagi saya melanggar privasi seseorang, tapi lagi2 siapa yang bisa menolak ajakan dari nya?

Ini permainan emang western banget namun tak jarang juga saya menjumpai teman2 di indo melakukannya, tapi masih dalam bentuk yang wajar, tapi ini kan di Eropa.

Nama permainannya “Truth or Dare”, sejenis permainan dengan botol yang di putar jika kepala botol menunjuk seseorang, maka ia harus menjawab jujur pertanyaan dari si pemutar botol atau melakukan tantangan yang di ajukan. Ada catatan khusus juga bahwa jika sudah melakukan truth sampe 3 kali maka pilihan dare adalah wajib bagi yang tertunjuk. *Sigh*

Jadilah permainan penuh pelanggaran privasi itu dimainkan, lima orang. Saya, Leonard, Ling, Anne dan Julls. Dalam hal ini yang paling kesenengan adalah Leonard, di kepalanya sudah muncul tanduk setan.

Permainan dimulai, pemutar pertama jatuh pada Leonard, Leonard tampak berharap banyak, dan penunjuk jatuh pada Ling. Dan ia memilih Truth, Hmm,,,Leonard tampak berpikir membuat pertanyaan.

“Apakah saat ini kamu mencintai seseorang?”

“Iya” Ling menjawab tegas

“Kalo begitu siapa?”

Ling menggoyangkan telunjuknya “Ingat Cuma satu pertanyaan!”

“Aarrggggh” Leonard tampak kecewa salah taktik

Giliran Anne memutar dan itu menunjuk ke saya, agak cemas saya ketika memilih Truth.

“Apa yang kamu suka dari saya?” Anne mengangkat alisnya

Hmm…apa ya? Selama ini bersama Anne saya merasakan kehangatan sebagai seorang sahabat, semenjak hari2 kita di Belanda dulu. Yaah mungkin itu jawabannya, namun bodohnya saya menjawab dengan tidak terang.

“saya suka kehangatan mu Anne”

“Hah?” Ling dan Julls membelalak tak percaya

“Edaan kakak saya sudah merasakan kehangatan Anne? Luar biasa!” Leonard makin memperkeruh suasana.

“Oh God!, bukan…maksud saya…”

Omongan saya terhenti, ketika Anne mengatakan tidak ada klarifikasi setelah jawaban. Oough! Ini bukan sekedar permainan, tapi sudah adu diplomasi ternyata.

Giliran saya kali ini, entah kenapa saya lebih berharap kepala botol itu menunjuk ke Leonard saja, tapi begitu kepala botol berhenti, malah menunjuk ke arah Ling lagi. Ooh tidak! Apa pertanyaan saya kali ini?

“Hmm…Ling…apa kamu menyukai Eduardo” hanya itu yang bisa saya tanyakan, agar memperjelas sikap saja kedepannya.

“Iya gue menyukai nya, dan belum tentu mencintainya, jadi kemungkinan bisa terjadi” Ling diplomatis menjawab sambil melirik Julls, bikin suasana tambah panas

Kali ini giliran Ling, semua orang menahan napasnya, siapa yang tidak kenal Ling dengan banyak tipu daya nya? lagipula sesi ini benar2 panas sekali maklum putaran ini adalah keharusan melakukan “Dare” saya akan habis kali ini kalau botol itu menunjuk ke saya, dan putaran itu pun jatuh pada Julls. Ling menatap Julls, demikian pula sebaliknya. Entah kenapa yang deg2 an itu malah saya. Karena berani bertaruh Ling dalam permainan Dare ini pasti akan melibatkan saya.

Dan sang jawara kelas itu pun memberikan tantangan yang bikin saya terpengarah.

“Julls, kamu harus mencium orang yang paling kamu sayangi di tempat ini” Ling berkata tegas

Deg!

Hening….. Julls tampak mencuri2 pandang ke arah saya, saya semakin panas dingin. Ling menyeringai bak algojo yang menemukan mangsa nya

Berikutnya Julls pun sudah mencium kening, semua orang bengong.

“Nah sudah cukup memberikan ciuman kepada orang yang saya sayangi kan?” Julls tersenyum manis, menatap makna ke Ling. Dan Ling hanya mengangguk kecil, seraya menahan suatu desiran perasaan. Karena saat itu saya melihat mata Ling tampak berkaca2, menahan haru. Setelah tadi Julls mencium keningnya. Aaah Indahnya!

Leonard tampak murung lalu membisik ke saya “Kak Rei baru tau aku kalo mereka itu lesbi ternyata”

Sigh! Dasar anak kecil!

Anak desa yang dibesarkan oleh mimpi dan kebanggan

Official 1: Dari CV yang Kamu lampirkan, kamu seolah ingin mengikuti jejak ayah mu?

Saya: Iya salah satunya, tapi sebenarnya bukan hanya mengikuti jejak langkah beliau, tapi melebihi nya

Official 2: Apa yang kamu banggakan dari ayahmu?

Saya: to much to describe, paling tidak dia menciptakan kebanggaan kepada anaknya akan pribadinya

Sang official lalu menampilkan slide photo dari proyektor! Dan saya baru sadar kalo saya sudah masuk ke area dimana privasi kita sudah habis di telanjangi, melebihi permainan Truth or Dare sekalipun. Dimulai dari data2 rinci saya yang pihak kampus belum tau, sampe photo2 yang banyak memberikan kenangan akan masa kecil saya. Photo ayah saya.

Slide photo yang menampilkan ayah saya duduk bersama perwakilan dari banyak negara dengan tag tulisan di depan meja nya “Indonesia”. Itulah orang kebanggan saya, yang kembali saya temui dalam sebuah slide photo besar sebagai duta PBB dari Indonesia pada konvensi bidang pangan/FAO, 16 tahun silam .
Official 1 (menyebutkan nama Ayah saya)
Saya: Yaa itulah pria yang membesarkan saya

…….

Official 2: Apa yang kamu lakukan kalo kamu pulang ke tanah air mu nanti?

Saya (menjawab singkat): Menanam banyak pohon!

Official 1: Bukannya anda lahir dan besar di Kalimantan tempat banyak hutan, salah satu paru2 dunia? Mengapa harus lagi menanam Pohon?

Saya: Anda harus benar2 berkunjung ke tempat saya, ke Kalimantan. Dan anda akan tau apa yang terjadi

Official 2: Maksud anda penebangan hutan yang tidak terkendali? Kalo begitu apa daya anda hanya menanam banyak pohon tapi toh juga akan ditebang?

Official 1 (ikut menambahkan di iringi tawanya): Paling tidak anda harus jadi gubernur di tempat anda, membuat regulasi yang ketat untuk merealisasikan impian anda

Saya (tegas): Jika anda bertanya apa mimpi saya yang harus terwujud sebelum saya menjalankan misi saya menanam banyak pohon, saya akan memberitahu anda

Official 1: Apa mimpi anda? Ingin jadi gubernur dulu?

Saya: Tidak! Saya ingin jadi Sekjen PBB.

…….

Andrei B. / Author & Editor

Saat ini bekerja sebagai senior copywriter di perusahaan Consulting Creative di Jakarta

Coprights @ 2016, Blogger Template Designed By Templateism | Re-design By Andrei