Senin, 29 April 2013

Alasan sederhana tentang Bali

Andrei B.

Banjarmasin, Warung kopi di sekitaran Kayu Tangi.
Beberapa negara sudah saya jelajahi, kota-kota di Indonesia pun juga tak kalah pernah disambangi. Tapi Jujur saja saya belum pernah ke Bali.

Hal itu yang saya utarakan pada teman ngopi pagi, yang kebetulan bertemu.

Saya bercerita, bahwa teman di Jogja mengajak untuk pergi ke Bali, menyaksikan teman-teman kami berkompetisi tari latin disana.

“Kalo gitu pas banget kan ini bisa jadi perjalanan pertama kamu kesana, kamu harus liat Bali, kamu harus tau kenapa turis-turis asing mengidolakan pulau dewata” Ucapnya bersemangat.

Saya cuma bisa tersenyum simpul.

“Kamu mau dengar alasan konyol kenapa saya sampai sekarang gak kesana?”

Teman saya membenarkan posisi duduknya, mencoba mendengarkan seksama. Angin semilir meniup dari jendela warung kopi.

“Yang saya tau dari kecil, Bali itu tempat bulan madu, jadi saya gak akan mau kesana dulu kalo belum dapat pasangan.”

Teman keturunan Arab di depan mengernyikan dahinya, lalu kembali menyimak, saya tahu ia berusaha menahan tawanya.

Saya lanjut menceritakan alasan saya.

“Nah, kalo nanti saya udah ke Bali.. Tar saya bulan madu kemana??!”

Meledaklah tawa si Arab dan tentu saja saya gak kalah terkekeh.

Saya menyeruput kopi di meja, lalu menerawang ke jendela. Lalu mengucap pelan.

“Kamu tau gak, romantisme masa lalu itu.. kalo saya masih terus jaga, akan menimbulkan euforia menyenangkan jika nanti saya ke Bali, bulan madu.”

Si Arab menggelengkan kepalanya, gak habis pikir. Ia lalu melirik jamnya, sudah waktunya ia pergi menemui calon istri mengantarkannya kerja. Sebelum ia beranjak meninggalkan warung kopi. Saya menanyainya penasaran.

“Eh ya, memangnya ntar kamu bulan madu mau kemana?”

“Seolah terkejut dengan pertanyaan saya, si Arab lagi-lagi menggeleng kecil sambil menahan tawanya, lalu ia pergi meninggalkan warung kopi.

“Ya kalo bulan madu pergi ke Bali lah” teriaknya dari luar, lalu meluncur dengan sepeda motor bebek tuanya.

Tuh kan.

Saya kembali menerawang, kopi di meja sudah tidak lagi mengepul.

....

....

Njiss.. si Arab lupa bayar lagi.


Waiting Room, Gate 12. Bandara Juanda, Surabaya.
Saya membenarkan posisi duduk saya, tidak sampai 2 jam saya sudah harus naik pesawat lagi. Dari Banjarmasin tadi, saya diharuskan transit ke Surabaya dulu. Saya menyandangkan tas ransel kecil saya seiring dengan panggilan untuk boarding. Saya memasangkan kacamata hitam harga 35 ribu merek Rayban KW super (kata yang jual)

Benda wajib kalo pergi kesana.

Pergi ke Bali.
*




Bandara Ngurah rai, Denpasar. Bali
Saya termangu di pojokan, hilir mudik turis lokal dan luar memenuhi sempitnya ruangan kedatangan, kala itu Airport Ngurah Rai sedang melakukan renovasi besar-besaran. Beberapa sopir taxi bahkan ojek tampak menawarkan jasa angkutan, saya menampik. Saya ingin beradaptasi dulu, membaui udara Denpasar seolah Aroma pantai dan pesta-pesta menjadi udara di kotanya.

Saya datang ke Bali sendiri, tidak berpasangan, belum juga beristri, janji diri untuk ke Bali hanya untuk bulan madu, kalah oleh gairah bertualang dan tentu saja ucapan sahabat yang membuat saya bersegera mengemas tas ransel yang mulai berdebu di pojokan kamar.

“Permisi?”

Seorang perempuan dengan kaos oblong, berjins biru muda serta kacamata hitam besar yang menutupi hampir setengah wajahnya tiba-tiba bertanya.

“Ya?”  Saya yang tadi ingin menyalakan rokok, urung demi melihat perempuan berambut panjang itu yang sudah berdiri disamping saya.

“Bisa tolong antarkan saya ke Jalan Poppies 2, Kuta?”

“Heh?”

“Berapa tarip ngojek kesana?”

....

GILA!!! Tampang Oke gini disangka tukang Ojek?!!!

Kirain tadi mau kenalan..

Crap!
**

Well, tahu tidak, kenapa saya akhirnya memutuskan ke Bali? Saya pernah bertekad tidak akan ke Bali sebelum saya mendapatkan pasangan untuk bulan madu.

Namun tiba-tiba seorang sahabat berandai..

"Rei, kalau itu tekadmu, mungkin kamu seumur-umur tidak akan pernah bisa ke Bali.."

"Heh? Kok gitu?"

"Bagaimana Jika pasanganmu itu ternyata adanya di Bali?"

.....

Masuk akal.

***

Si Perempuan membenarkan ranselnya, dilihat dari tampilannya sepertinya ia berasal dari kota besar, dan melihat bingungnya ia saat ini, sepertinya ini mungkin pengalaman pertama traveling solonya.

“Eh, kamu traveling sendiri?” tanya saya sembari menyalakan rokok. Perempuan itu menoleh, setelah ia menyeka keringatnya, gerah.

“Iya.. biasalah anak muda, harus sering traveling, biar bisa eksis di FB dan Path” Jawab si cewek sekenanya. Lalu ia duduk mengeluarkan buku di dalam tasnya, buat kipas-kipas. Lalu kembali mengedarkan pandangannya nyari angkutan.

Saya melirik, membaca judul buku yang ia baca, wah buku traveling.

“Kamu suka baca?”

Si Perempuan berhenti ngipas, lalu melirik buku di tangannya.. dan mengangguk.

“Iya tahun depan rencananya mau ke Eropa, makanya suka baca buku pengalaman orang-orang”

“Oooh”

“Well, saya mau ketemu temen saya yang lagi lomba latin dance di hotel daerah Kuta, mungkin mau gabung menonton?” Saya mematikan rokok yang masih setengah, lalu bersiap meninggalkannya.

Tanpa basa-basi si cewek langsung menghampiri saya, ikut berjalan bersisian.

“Naik taksi aja ya biar adem, kalo berdua kan bisa patungan” Ucapnya masih sibuk ngipas.

Saya tersenyum, lalu kami keluar airport.. berencana menuju Kuta.

“Nama kamu siapa?”

“Saya Arinda, kamu?”

“Panggil aja Rei”

....

Nama kamu kayak penulis buku ini aja.

“Oooh”

....

....

Sial... buku gw di jadiin Kipas!

Andrei B. / Author & Editor

Saat ini bekerja sebagai senior copywriter di perusahaan Consulting Creative di Jakarta

Coprights @ 2016, Blogger Template Designed By Templateism | Re-design By Andrei