Selasa, 20 Oktober 2009

Serigala Terakhir- The Movie

Andrei B.
Film merupakan media komunal dan cangkokan dari berbagai teknologi dan unsur-unsur kesenian. Ia cangkokan dari perkembangan teknologi fotografi dan rekaman suara. Juga komunal berbagai kesenian baik seni rupa, teater, sastra, arsitektur hingga musik. Maka kemampuan bertumbuh film sangatlah bergantung pada tradisi bagaimana unsur-unsur cangkokan teknologi dan unsur seni dari film -yang dalam masyarakat masing-masing berkembang pesat- dicangkok dan dihimpun. Dengan demikian tidak tertinggal dan mampu bersaing dengan teknologi media, dan seni lainnya.

Berbicara mengenai film Indonesia, tentu saja cukup melalui sejarah yang panjang setelah konon mengalami mati suri. Kini, tak bisa di pungkiri perfilman Indonesia mengalami kemajuan secara kuantitas dengan baik, pertumbuhan film nasional meningkat signifikan yang disambut dengan cukup baik oleh penonton Indonesia. Namun hal ini tentu saja bukanlah parameter jika kita berbicara kesuksesan film Indonesia, Intensitas produksi bukanlah ukuran nya, karena mutu (baca: kualitas) film Indonesia lah yang kini di pertanyakan. Apakah film Indonesia yang kini acapkali selalu mengikuti trend bisa dikatakan memiliki kualitas yang baik? Bisa saja, namun hanya segelintir sekali yang bisa di kategorikan demikian.

Film Indonesia seperti yang saya sebutkan di atas, bisa dikatakan terbawa trend, mereka membuat film atas nama keuntungan semata tanpa mengindahkan nilai estetik film yang mereka buat, jangan heran jika membuat film bagi mereka hanyalah pekerjaan semata, buat film atas nama pasar(kreatifitas dipasung) ---> Eksistensi----> Uang.

Film maker yang berkerja macam itu tentu saja tidak bisa dikatakan membawa andil dalam kemajuan kualitas perfilman nasional. Memang jarang sekali film bagus (yang notabene membawa idealis sekaligus acapkali melawan arus/di luar trend) membawa kesuksesan secara finansial. Ini banyak dilihat dari film2 bagus yang terabai secara apresiasi ketika tayang di layar lebar.

Salah satunya adalah Fiksi, film yang di sutradarai film maker muda Mouly Surya ini, bagi saya termasuk film yang mengatas namakan mutu, dalam satu kesempatan ketika mewawancarai nya untuk buletin Montase dengan juga salah satu produser film fiksi Rama Adi, ia mengatakan sesuatu yang valid: Untuk apa membuat film mengikuti trend jika toh belum ada jaminan bahwa film itu akan meledak di pasaran, lebih baik buat film sesuai dengan apa yang kita inginkan (untuk di sampaikan pada penonton/ bebas berkreasi tanpa ada tekanan dari pihak produser, yang berkepentingan). Film fiksi secara nilai jual (financial gain) mungkin kalah dengan film yang beredar pada waktu yg bersamaan, namun untuk kualitas film ini yang terdepan (pemenang FFI 2008 untuk film terbaik)

Adalah UPI salah satu sutradara muda berbakat yang berdiri atas nama jaminan mutu film maker handal Indonesia dalam membuat film2 baik (Realita cinta dan Rock n Roll.,Radit dan Jani) yang pada 5 november, waktu yang dipilih Upi untuk premiere film terbarunya serigala terakhir.

Berikut adalah sinopsis film serigala terakhir:
Disebuah pinggiran Jakarta dengan sekelompok remaja laki-laki tumbuh dan menjalin persahabatan yang kuat. Mereka adalah Ale (Fathir Muchtar), Jarot (Vino G. Bastian), Lukman (Dion Wiyoko), Sadat (Ali Syakieb), dan Jago (Dallas Pratama). Ale adalah sosok yang paling menonjol diantara mereka. Jiwa pemimpinnya sangat kentara sekali. Sementara Jarot adalah sosok yang paling tidak banyak omong dan tertutup.

Suatu peristiwa dalam sebuah pertandingan sepak bola yang berakhir dengan keributan. Pada saat itu Ale tampak terdesak karena lawannya menggunakan pisau. Mereka semua berusaha membantu Ale. Sampai akhirnya Jarotlah yang berhasil melumpuhkan lawan dan tanpa diduganya pisau itu tertancap ditubuh lawan, rubuh bersimbahkan darah, dan mati. Seketika semua diam dan kemudian kabur meninggalkan Jarot seorang diri yang berdiri terpana tidak percaya.

Persahabatan yang sudah mereka jalin eratpun teruji. Jarot harus mengalami pengalaman pahit di penjara seorang diri. Tidak ada seorang sahabatpun yang memperdulikannya. Perasaan sakit hati dan terkhianati mengubah Jarot menjadi lelaki yang keras. Keputusannya setelah keluar dari penjara untuk bergabung di kelompok Naga Hitam membuatnya jadi berseberangan dengan kelompok Ale. Karena kelompok Naga Hitam adalah musuh besar kelompok Ale.

Intrik demi intrik pun semakin rumit. Terlebih lagi ketika Jarot menjalin cinta lamanya kembali secara diam-diam dengan Aisya (Fanny Fabriana), adik Ale. Keputusan Jarot ini dianggap membahayakan bagi kedua kelompok yang berseteru.

Bagi saya secara pribadi, lepas dari unsur subyektifitas. Upi merupakan film maker bertangan dingin, membuat film yang tidak hanya memberikan estetika yang apik di filmnya namun ianya mampu "menyulap" pemain filmnya untuk berakting maksimal (terbukti 2 aktor filmnya Radit dan Jani, Vino Bastian dan Fahrani mendapat anugerah pemain film terbaik pria dan wanita dalam FFI 2008) bahkan film ini (Radit dan Jani) di minta screening dalam Udine film Festival di Italy 2009. Tidak heran film terbarunya sangat dinatikan penggemar film2 bermutu tanah air, kejutan apalagi yang akan Upi tampilkan di film ber-genre Gangster movie ini? Nantikan saja film ini yang akan screening beberapa hari kedepan. 5 November 2009. Catch the movie Guys!

Andrei B. / Author & Editor

Saat ini bekerja sebagai senior copywriter di perusahaan Consulting Creative di Jakarta

Coprights @ 2016, Blogger Template Designed By Templateism | Re-design By Andrei