Sabtu, 11 Oktober 2008

Adakah angin yang mampu membuat kita padam?

Andrei B.
“Je te prie de m’ excuser pour mes mots, attitudes. Bonne fete de fine du jeune 1429 H. Minal Aidin Wal Faidzin”

Maap lahir dan batin semuanya ya! Maap kalo saya ada salah kata atau ucap selama saya berinteraksi dengan para Blogger lain, semoga kedepannya kita menjadi manusia yang bisa belajar dari kesalahan masa lalu.

Seperti coklat, lebih nikmat kalo di nikmati pelan2, meleleh di mulut dan merasakan sensasi nikmatnya. Begitu juga blog ini, perlahan2 diceritakan untuk akhir kisah dari perjalanan yang panjang.

***

Dingin masih sejoli dalam udara yang berhembus diantara pohon2 dekat rumah home stay saya, di dalam perjalanan ke pusat kota bersama Leonard dan coline, sedang Jean dari kemaren belum pulang karena lagi ikutan Camp School di Selatan Perancis.

Sesampainya di kampus, kelabu mewarnai langit pagi. Dan benar saja tidak berapa lama kemudian rintik hujan mulai jatuh, padahal gedung utama masih lumayan jauh. Jadilah saya memilih berteduh sebentar di gedung timur, ada beberapa mahasiswa pula yang bernasib serupa.

Saya bersedekap, menahan dingin. Dengan kaos tipis gini mudah sekali masuk angin. Seseorang menepuk pundak saya.

“Hey, Andrei?”
“Ah, Eduardo?! Apa kabar?” saya terkejut melihat kehadiran Eduardo, gebetannya Ling, yang semester kemaren sudah menyelesaikan kuliahnya. Kesempatan untuk membuang rasa bosan bercakap dengannya mengingat hujan makin menderas. Kedatangan Eduardo kali ini ke kampus, untuk menemui Ling. Sudah 3 minggu mereka tidak ketemu, lantaran Eduardo pulang kampung ke Argentina.

…….

“Rei, Apa rencanamu setelah selesai dari sini?”
Saya mengangkat bahu, “Pulang mungkin, kamu sendiri?”
“Saya dapet tawaran kerja di luar Eropa, masih bergerak di bidang seni”
“Ooh jadi kesini kamu mau pamitan ama Ling?”
Eduardo menatap dengan senyuman khas nya, “Bukan untuk pamit, tapi untuk membawanya bersama saya”
“Eh?”

Eduardo kini menatap langit yang masih menumpahkan hujan, angin dingin meriapkan rambutnya yang mulai panjang. “Kamu sendiri dengan Julls, bagaimana? Kalian akan bersama?”

“Hmm..complicated”

Eduardo menepuk bahu saya makna, namun matanya masih tak lepas memandang titik hujan yang jatuh. “Rei sadar gak sih kalo umur kita ini udah tua, aku, kamu, Ling dan Julls kita semua sudah dalam tahapan waktu yang tidak muda lagi. Jujur saja saya menikmati kebersamaan kita selama ini, dan saya gak ingin menghilangkan kedekatan ini. Makanya saya ingin bawa Ling selepas workshop ini bersama saya, tinggal bersama”

Saya tertegun, “Yaa bagus deh, kalian kan saling mencinta”
“Saya gak tau bagaimana perasaan Ling sesunguhnya sama saya, tapi saya mencintainya, saya mau bawa dia, saya mau hidup sama dia”

Hening menyelimuti

“Rei…”
“Hmmm?”
“Bawalah Julls ke Indonesia, Kita akan bersama2 lagi nantinya”
“Gak tahulah, gak semudah itu…”
Hujan sudah mulai mereda, saya berkemas dan melambai meninggalkan Eduardo.
“Rei!”
“Ya?” saya berbalik.
“Australia dan Indonesia gak jauh, saya akan bawa Ling kesana, tinggal disana bersama, bertetangga dengan negara mu, bukankah gak lebih dari 5 jam kalo saya dan ling terbang menemui mu dan Julls nantinya”

Saya tertegun, dan menggeleng kaku.

***

Akhir pekan depan adalah hari terakhir kami di kampus ini, dan itu artinya saya harus mengemas ransel saya untuk pulang ke rumah, pulang ke Indonesia. Suasana sudah mulai berubah dalam hari2 mendekati kepulangan, Ibu nya Coline bahkan sudah menyiapkan oleh2 buat ibu saya, sedang Jean dan Leonard kini banyak menghabiskan waktu dengan saya, entah kita bertiga pergi keliling Lyon, atau main ke sekolahnya Leonard sekedar ngeliat gebetannya.

Malam itu, ketika satu persatu barang di kamar saya bereskan, untuk di kemas rapi dalam ransel, beberapa barang saya paket. Coline masuk ke dalam kamar saya, ia nya melihat dan mengerti betul apa yang saya rasakan, Yaa, di hadapan saya lemari yang selalu di penuhi baju2 dan pernak-pernik alat2 film kini kosong melompong, dan perabotan serta majalah2 saya sudah rapi semua ke dalam kotak. Ada rasa miris melihat keadaan kamar itu. Kamar yang menemani saya dalam banyak suka dan duka, saya masih ingat ramainya kamar ini yang dipenuhi Jean, Leonard, serta Ling dan Julls dulu yang ribut main PS atau main Truth or Dare. Serta rasanya baru kemarin benda itu saya taruh disana, saya mengambil benda berkaca yang biasa saya taruh di sisi kanan atas rak meja belajar, Foto berbingkai kaca si gadis kota hujan. Sepertinya kali ini kamu gak kuajak pulang, kamu di sini aja ya? Saya gak sangup bawa kamu pulang, setidaknya sepenggal mozaik mu ada di kota ini. Mungkin setelah saya pulang kamu bakal di taruh di gudang dan lapuk di makan usia, semoga cinta saya ke kamu juga ikut terlapuk.

“Gak apa2 Rei, biarin aja di tinggal disini, biar foto itu jadi saksi bisu tentang kamu, yang membawanya dari negeri yang jauuh sekali” Coline tersenyum makna.

***

Kampus mulai ramai, kelas Film saat itu lagi meriah2 nya, kita udah gak perduli lagi dengan euforia Final Big Four, yang ada kita malah saling tuker alamat rumah kita di negara masing2, agar suatu saat nanti kita bisa saling berkunjung. Ada sedih dan duka disana, kita udah kayak keluarga kecil, awal2 nya kita emang saling saingan, saling kelompok2 an, tapi akhir2 nya kita semua malah jadi satu, gak ada lagi batasan siapa si bodoh, siapa si kaya atau apapun. Makanya hari terakhir di kelas miris banget. Sesudah acara kelas kita ngadain farewell party di Bar kecil di downtown, Ling malam itu mabuk berat sampai saya sepulang dari sana harus memapahnya, dalam mabuk nya Ling tanpa sadar banyak mengungkapkan sesuatu, tentang semuanya, hal2 yang terjadi selama ini, sampai tentang perasaan nya.
Bulan membulat penuh, dan iringan piano klasik dari Bar sebelah seolah melagukan perasaan saya dan Ling saat itu. Perasaan yang sebenarnya lama terendap, dan menjadi suatu rahasia.

“Mungkin begini saja memang lebih baik Ling…, karena dengan begini kita selamanya tidak akan pernah padam!”.



Dan untuk si pendiam dengan mata beningnya,
kita lihat apa kah besok angin akan meniup kita padam.

Andrei B. / Author & Editor

Saat ini bekerja sebagai senior copywriter di perusahaan Consulting Creative di Jakarta

Coprights @ 2016, Blogger Template Designed By Templateism | Re-design By Andrei