Kamis, 24 Juli 2008

Keriangan dan kegalauan masa muda

Andrei B.
Masih dalam lembah di Lucerne, Kita memutuskan untuk beristirahat sejenak di lembah tersebut, saya sendiri cukup lelap tertidur saat itu di pangkuan Julls, sampai hari menunjukkan jam 2 siang, kami menjelajah sepanjang sungai mencari tempat2 indah, kadang kita beristirahat sejenak mengamati indahnya pemandangan lembah tersebut. Tempat yang benar2 indah membuat kami enggan beranjak pergi. Sesekali kami menyusuri lembah dengan berjalan di air danau, sambil bergenggaman tangan, tak lupa kami menyempatkan diri bermain lempar loncat batu di air, yaitu melempar batu ke danau dan melihat sejauh mana batu yang kita lempar memantul di air.






Tentu saja Julls ga bisa menang melawan saya, wong saya waktu kecil suka main permainan ini kok di kampung. Hohoho....

Puas menikmati lembah indah kami pergi ke kota untuk mencari hostel, kali ini kami tidak berkemah lagi, lantaran saya melihat Julls agak kurang tidur akhir2 ini, mungkin ia belum biasa berkemah, memang ini diluar rencana backpacker yang saya rencanakan, tapi saya takut Julls jatuh sakit. Selain itu juga kami agaknya perlu mencari internet untuk mengecek imel2 yang masuk.

Hostel tempat kami menginap di kelilingi banyak pohon dan bertingkat dua semalamnya seharga Sfr 27 semalam, mahal euy! Tapi lumayan fasilitas i-net available untuk dipakai, dan good thing nya yaa akhirnya kita bisa mandi air panas, Aaah segernya....

Selain mengecek dan memposting Blog, hal yang saya nanti2 tentu saja imel dari Ling, walau kami terpisah, kita tetap kontak2 an. Jadi info2 kampus tetap apdet.

Merindu di kota yang dingin
Malam harinya selepas makan malam, kami bercakap di beranda hostel, langit di Lucerne benar2 indah kala malam, bintang2 nya jelas terlihat. Julls mampu menebak berbagai rasi yang terukir di langit gelap. Dan ketika obrolan kami sampai pada rindunya pada sebuah rumah, tiba2 saja saya teringat sama Ibu saya di rumah, sedang apa beliau sekarang?

Dalam malam yang berbalut kerinduan, Julls merebahkan kepalanya di pundak saya seraya menekuk ke dua kakinya.

“Rei...kalo nanti kita berpisah dan pulang ke negara masing2, apa kamu akan rindu sama saya?”

“Yaa, saya pasti merindukan mu. Hmmm...gak kebayang hubungan apa yang sudah kita bina ini ya? Beruntung dalam sebagian umur ini kita ketemu ya?, coba bayangin kamu dari London dan saya dari Banjarmasin, ini bukan sebuah kebetulan kalo saya bilang”

“Karena itu Rei, saya ikut kamu traveling seperti ini, supaya nanti klo pulang, kamu masih ingat saya”

Saya terdiam... kalo udah bicara masa depan gini, perasaan jadi kelu mikirnya. Apalagi umur udah gak remaja lagi. FYI saya dan Julls beda umurnya cuma setahun, dia lebih muda daripada saya.

“Nanti kamu kalo udah pulang mau kerja dimana?” tanya saya

“Yang jelas sekarang ini saya punya gallery seni yang saya buka bareng temen2, dan kedepannya mungkin saya mau meluaskan kemampuan saya di bidang Fine Art, cukup menjanjikan, apalagi saya sudah punya nama, kalo kamu Rei?”

“Kalo kerja di bidang seni di Indonesia, sepertinya masih belum menjanjikan Julls, ga tau nanti saya mau kerja dimana? Bisa jadi saya nanti pengangguran, seperti jutaan sarjana di negara saya, mungkin pas tua buka usaha kecil2 an di kampung sambil ingat2 masa2 remaja dulu, dan ingat kamu yang mungkin kelak jadi seniman terkenal atau mikirin kamu nanti udah punya anak berapa, Hehehe”

“iiihh apaan sih, pesimis amat?”
“Nggak! Kata siapa? Aku cuma sembari memaparkan realita saja kok”
“Ayolaah Rei, kerja di luar negeri saja kalo begitu ketempat yang menghargai kemampuan mu”

“Kamu enak Julls, saya ini lahir dan besar di kampung dimana unsur kekerabatan dan kekeluargaan sangat erat sekali, kamu tau gak kalo....” saya sempet tersendat, tanpa terasa mata saya panas, ada air mata yang mulai menepi.

“Kamu tau gak Julls, saya gak kuat baca Imel dari Ibu saya yang bilang kalo beliau kangen sekali sama saya...”

“Jadi saya gak bisa bayangin kalo kelak saya akan hidup di negara orang dan ngebiarin Ibu saya sendiri dalam masa tua nya di kampung... lebih baik saya kelak hidup sederhana dari pada harus ngebiarin Ibu saya kesepian dalam masa tuanya”

Kalimat terakhir itu bikin saya nangis (bahkan pas ngetik tulisan untuk blog ini saja hidung saya langsung mampet, menahan air mata yang gak bisa berhenti mengalir)

Julls merangkul saya, saya gak mau liat Julls dengan mata basah, demi Tuhan saya merindukan Ibu saya.

(Ibu...saya kangen, semoga Ibu sehat disana....)

Saya menangis dalam diam, Julls menggenggam tangan saya...

“Rei saya gak peduli gimana masa depan kamu, dan seberapa jauh kelak kita terpisah, saya janji kelak suatu saat nanti saya akan mengetuk pintu rumah mu nun jauh disana, saya akan kesana entah sejauh mana kamu nantinya Rei..”

Saya cuma terdiam, saya gak tau musti ngomong apa lagi, hati ini sudah berkecamuk dalam perasaan yang tidak menentu, sampai ketika saya berani membalas genggaman tangannya, barulah saya menatapnya

.......

“Datang lah Julls, Ibu saya pasti akan senang menemui mu”

Julls mengangguk cepat dalam senyuman nya yang basah oleh air matanya, entah ia ikut menangis karena apa? Mungkin menangis membayangkan masa depan saya yang masih tidak menentu.
***




P.S. : Makasih buat Ivana yang kasih award ini ke saya, meaning a lot :), saya lanjutkan award blog ini buat Blog Brother saya: Cipu, Ijal dan Arvartara





Andrei B. / Author & Editor

Saat ini bekerja sebagai senior copywriter di perusahaan Consulting Creative di Jakarta

Coprights @ 2016, Blogger Template Designed By Templateism | Re-design By Andrei