Senin, 21 April 2008

Untuk harga diri mu!

Andrei B.

Benar saja dugaan saya Jim mengajak untuk bermalam di rumah salah satu temannya di Laussane, jelas saya menolak mentah2 setelah melihat peristiwa tidak meng enakan di dalam mobil kala Julls tidur, dan parahnya Julls langsung mengangguk semangat, dan berbisik kepada saya betapa beruntungnya kami. Saya simalakama lantaran mau ngomongin kejadian itu, takut dibilang fitnah (parahnya dikatakan cemburu) lagipula saya juga masih belum tau garis batas kelayakkan sebuah relasi orang barat, kalo hanya menyentuh seperti itu apakah sudah termasuk pelecehan seksual apa gak?. Makanya ketika tadi mampir ke sebuah toko, untuk Julls buang air kecil sembari ganti bajunya yang basah karena keringat, demi menjaga suatu hal saya mengambil inisiatif penolakan dengan mengatakan pada Jim bahwa kami sudah menemukan tempat untuk bermalam nantinya. Julls yang baru selesai ganti baju mengernyitkan dahinya, bertanya.

“kamu yakin?”

Saya mengangguk pasti, tampak jelas Jim saat itu menampakkan kekecewaan nya. Sekitar jam 6 sore, kami sampai di kota Lausanne. Jim memaksa untuk mengantarkan kami ke tempat dimana kami akan tinggal.

“Gak perlu, cukup turunkan kami saja di kota, mudah bagi kami nanti untuk mencari tempat tinggalnya”

“Jadi kalian nanti akan tingggal di hostel?”

Saya pelan menggangguk, saya sudah tau reaksi apa yang akan di utarakan Jim

“Dari pada buang2 uang lebih baik, tinggal di tempat saya saja. Sudahlah tak perlu sungkan!”

“Yaah paling gak, klo di Hostel kami bisa lebih aman, dari gangguan, kan?” saya mencoba berdiplomasi

Julls menatap saya gak ngerti, karena perkataan saya tadi paradoks dengan esensi backpacker yang selama ini saya gaung2 kan, hemat dan menggunakan kesempatan sebaik2 nya.

Jim sedikit berfikir, Julls angkat suara, “Rei, bagus kan sudah untung dia menawarkan tempat tinggal, lagian kan kita bisa nambah temen!”

“Males aja!” saya mulai senewen, jujur saja penyakit saya untuk ngomong to the point selalu jadi kendala dalam mengambil sikap.

“Kamu tuh aneh deh!, katanya backpacker ngirit duit, tapi kenapa kamu malah pengen buang2 uang untuk nginep di hostel?!”

Saya serba salah, dan hanya membuang pandangan mata ke luar jendela, menatap pemandangan kota laussane yang baru saja kami masuki.

*

Beberapa menit kemudian, saya sudah berdiri di luar mobil Jim, menatap Julls yang masih di dalam mobil.

“Kalo cuma mau ke mini market, biar Julls tunggu disini saja” Jim menyarankan seraya menahan Julls, sedang Julls hanya mengiyakan, siasat saya untuk ngomong 4 mata ama Julls gagal, malah ngebuat saya makin sewot.

Sewaktu saya berbalik dan menuju ke mini market (entah apa juga yang mau saya beli). Dari kejauhan saya masih liat gimana hiper aktif nya Jim menggoda Julls, Aaarrgggh!, saya langsung berbalik, kembali menuju mobil, membuka pintu depan mobil tempat duduk Julls, lalu menarik Julls keluar, seraya mengucapkan terima kasih pada Jim. Julls bingung dengan sikap saya, ada sedikit penolakan darinya, bahkan tangannya yang saya cengkram pun masih gak saya lepas, walau dia kadang berontak. Jim memundurkan mobilnya, berbicara pada saya

“hey ada apa?, mau kemana?”

“Kita mau lanjut bertualang, yang jelas kami sudah punya rencana sendiri, jadi maaf kita gak bisa nginep ditempat kamu!”

“Hey, ayolaaah! Julls kasih pengertian ke dia!”

“Julls, kalo kamu masih mau tinggal sama dia, bersiap aja tubuh kamu dijamah ama dia, sama seperti sewaktu kamu tidur tadi”. Akhirnya saya ngomong juga.

Julls, terpaku, apalagi Jim. Ada jeda yang cukup lama sampai akhirnya Jim meng gas mobilnya meninggalkan kami, Julls memandang saya, berikutnya giliran Julls yang ngamuk2, jelas ia gak terima dapat perlakuan kayak gitu. Dan dalam hal ini baginya saya lah orang yang paling bertanggung jawab, udah tau partner backpacker nya digerayangin orang, kok malah cuek?.

Hal yang kayak gini yang bikin saya males kalo backpacker an ama cewek, selain karena resiko seperti tadi, juga karena Man from Mars and woman from Venus. Sigh!.

Di sebuah taman bermain, Julls melepas ransel nya. Duduk melepas lelah, sekaligus meredakan amarahnya. Sejenak ia merebahkan tubuhnya di taman, menutup wajah nya dengan Jaket wol kuningnya, yaaah anak itu menangis. Saya jadi tambah salah tingkah sekarang sewaktu duduk di sampingnya.

“Julls maaf yah…”

“Rei…kalo nanti ada orang yang ganggu saya, apa kamu masih tetep akan diam kayak tadi?”

Oouugh, bener2 menohok. Jujur saja ini hanya akibat kesalahan interpretasi apakah layak atau tidak hubungan relasi di negara barat berinteraksi kayak tadi. Makanya jadi bingung ambil sikap. Itu poin yang saya jelaskan ke Julls saat itu.

“Saya emang lahir dan besar di negara barat, tapi hati saya sejatinya ada di timur Rei”

“Kamu masih ingin melanjutkan perjalanan ini dengan Backpacker? Kalo gak kita bisa naik kereta saja” tawar saya

Julls lama terdiam, lalu ia mengintip dari jaket wolnya, menatap saya

“Kamu mau bersumpah, akan terus jaga saya?”

Saya mengangguk pasti “Percayalah, kali ini saya pun rela mati demi harga diri kamu Julls”

Julls bangkit dari tidurnya, menyapukan sisa air matanya lalu tersenyum menatap saya

“Terima kasih, asal kamu tahu, hanya itu yang paling di inginkan wanita dari perkataan seorang lelaki Rei”

Andrei B. / Author & Editor

Saat ini bekerja sebagai senior copywriter di perusahaan Consulting Creative di Jakarta

Coprights @ 2016, Blogger Template Designed By Templateism | Re-design By Andrei