Minggu, 09 Maret 2008

Merah mudanya senja dan matahari yang hilang

Andrei B.

Andrei: Kita memang harus pulang sekarang Julls

Julls: Tapi kamu bilang kan kemaren terserah kapan saja aku mau pulangnya?, iya kan?

Andrei : Iya emang bener, tapi...

Julls: Kenapa? Kedatangan tamu
Istimewa kah?


Andrei: Iya!

Julls: Sudah saya duga, pacar kamu ya?

Andrei: ........... (mencari kalimat bijak)

Julls: ya sudah, terserah deh, kita pulang! (memotong tanpa ampun)

Saya hanya bisa menahan malu, di liatin Mith sama Aurore, (makanya saya bisa dapetin foto di atas, ini Mith yg ambil)


Sebelum pulang kita foto session dulu sama tuan rumah, seraya memeluk bersahabat. Dua hari yang menyenangkan! Saya dan Julls benar2 bersyukur bertemu mereka, melewati keseharian yang nyaman dan menyenangkan. Nanti kalo ada umur panjang saya pasti akan main kesini lagi. Ke kota kecil yang bersahabat. Merci beaucoup Tours, Au revoir!





Asal kamu tahu saja


Di dalam kereta wajah Julls meranggut gak jelas, bikin suasana gak enak.

“Julls, pulang ini mau ngapain? Banyak tugas kampus di jurusan mu?”

Hening gak nyahut

“Julls, kmu kalo cemberut mukamu....”

“Jelek!” Potong Julls

“Gak ternyata lebih cantik klo kamu cemberut Julls”

“Eh?” Julls mengedik

“iyah! Mending kamu cemberut aja terus, biar keliatan cantik” goda saya, Julls melengos sebal namun tak urung jua menyunggingkan senyum nya

“Aaah taktik lama selalu berhasil” pikir saya

“Julls...”

“Hmm...?”

“Nanti kamu aku kenalin sama Anne, dia Cuma temen kok”

“Yee siapa yang nanya, emang apa urusan saya kamu pacaran atau gak ama dia?”

“Gak, asal kamu tahu saja”

Hening

“Julls...kamu sudah punya pacar?”

Julls menatap saya

“Menurut kamu?” wajah nya berubah sendu

“Hmm...bagus lah!”

“Apa nya? Aku kan belum ngomong udah punya apa belum”

“Gak jadi nanya deh Julls, udah tau jawabannya”

“Bagus kalo gitu” Julls masih sook cool gak mau kalah sama saya

Hening

“Saya belum punya Rei”

“Emang apa urusan saya kamu udah punya pacar apa belum?” balas saya

“Gak, asal kamu tahu saja” Julls gak mau kalah membalas

Hening lagi, hanya bunyi derak kereta yang terdengar membawa kami pulang ke Lyon dalam senja hari yang memikat diantara bunga2 yang akan bersemi indah, Saya menyandar lemas di bangku empuk kereta seraya merebahkan kepala saya di bahu Julls sambil mendengarkan nya bersenandung lagu sendunya Norah Jones. Hmm... Senja yang menyenangkan.

Anne Van Netherland

Kembali pulang ke Lyon!, beberapa saat setelah itu suasana kampus kembali menggeliat setelah liburan, semuanya tampak bersemangat sekali. Anak2 kelas banyak yang saling bercerita kemana saja liburan tadi, Seperti Jonathan yang mengajak Rily ke negara nya Austria (PDKT rupanya pria flamboyan ini), atau rombongan nya Mike dan Ben yang pergi ke pulau Ibiza di Spanyol, Party abis2an (bisa saya liat dari foto2 mereka yang gila2 an), Dan...saya menoleh ke sekeliling. Mana si Cewek sejuta tipu muslihat itu? Kemana si Ling? Mau saya hina2 dia ntar, ngaku2 nya pergi ke kota Annecy bareng Eduardo, padahal Cowok itu tengah sibuk mengerjakan proyek akhir nya. Ketauan Bohong dia kali ini, bisa saya Skak Mat nanti! Hehehe!

Sampai kelas berakhir saya sama sekali tidak menjumpai Ling, kemana anak itu?. Masa sang jawara bolos kuliah?. Gak apa2 laah syukur juga, berarti hari ini janji untuk bantuin proyek dia otomatis batal, dan saya bisa reuni siang ini dengan Anne tanpa masalah!. Hehehe

Saya menjumpai Anne di pusat kota, dia memeluk saya erat sekali. Melepas kerinduan dan membawakan keju spesial untuk saya. Sejenak kami bercerita melepas rindu, menanyakan keberadaan Peter teman saya di Belanda dulu, atau kabar ortu nya. Sampai bunyi batuk kecil mengagetkan kami, Oh ya saya hampir lupa kalau saya datang bersama Julls. Sigh!

Terjadilah pemandangan yang kontras antara Julls yang modis dan Anne yang nyante abis. Mungkin karena cocok akhirnya mereka berdua cepat sekali ngakrab, menyenangkan sekali siang yang berganti sore itu. Penuh keakraban

Sampai pada satu kesempatan Julls menanyakan kabar Ling,

“Ling baik2 saja kan?”

“Maksudmu?”

Julls mengernyitkan dahinya “Kamu gak tau?”

Saya menggeleng cepat, Anne mulai menyimak ikut merasakan sesuatu yang terlihat serius

Dan setelah mendengar apa yang terjadi, tanpa basa-basi saya langsung bersiap lari ke tempat Ling. Dan menoleh ke arah Anne, bingung antara mau ngajak dia atau nggak

“Kamu pergi saja Rei, gak apa2 aku di sini saja bareng Julls! Saya masih akan di kota ini kok” Anne menghapus segala keraguan saya.

Blues day Ling

Saya kali ini sudah duduk di bangku meja belajarnya Ling, Ling sendiri masih tertidur dengan gelisah, saya memperhatikan di meja nya yang berserakan dan asbak yang dipenuhi rokok. Saya kemudian beringsut duduk di bibir ranjang. Memperhatikannya tidur, dan jelas terlihat masih ada sisa air mata yang belum mengering di pipinya. Saya tergetar melihatnya.

“Kamu kenapa Ling? kamu ada masalah ama Eduardo?” saya hanya bisa menggumam, seraya menyentuh keningnya yang hangat. Ling sedikit bergerak mengintip dari sudut mata nya, melihat saya. Dan melanjutkan istirahatnya, dengan pura2 masih tertidur. Saya kembali merapikan rambut poni acaknya, mengelusnya.

“Ling, kalo ada masalah cerita yah? Jangan di pendam sendiri, ngeliat kamu gini saya ikutan sakit Ling"

Ling membisu, ia hanya menggigit bibir bawah nya, menahan gejolak perasaan nya. Saya gak tau mesti ngomong apa lagi.

“Ling... gimana kepergian mu ke kota indah yang kamu bilang? Ke kota Annecy? Ke kota seribu bunga dengan danau indah di pusat kota?”

Ling masih memejam kan matanya, badan nya naik turun seirama napasnya yang memburu seolah menahan sesuatu dalam dirinya

Hening.......
........
........

“Ling...saya kangen kamu...”

Ling masih membisu

“Aku penasaran sama kota indah yang kamu bilang, aku pengen kesana, kamu mau kan nemenin saya kesana nanti? Ke kota Annecy?”

Ling pelan mengangguk, dalam matanya yang masih terpejam

“Cuma kita berdua aja yah?”

Ling mengangguk cepat, dan pemandangan haru terlihat di depan saya, si lincah itu tanpa sadar mengeluarkan air mata nya, ia menangis. Untuk pertama kalinya saya menyaksikan bagaimana Ling yang selalu membawa keceriaan dalam hidup saya mengeluarkan air mata. Saya menggenggam tangannya.

“Bawa aku kesana ya Rei...” Ling bersuara lirih menahan sesak, dalam air matanya yang terus mengalir.

“Iya, tanpa kamu minta sekalipun” jawab saya tegas
Ling saat itu pun menangis sejadinya, bersamaan dengan malam yang menjelang.

***





Dan bagi saya, hari itu....

kota Lyon, kehilangan Mataharinya....

Andrei B. / Author & Editor

Saat ini bekerja sebagai senior copywriter di perusahaan Consulting Creative di Jakarta

Coprights @ 2016, Blogger Template Designed By Templateism | Re-design By Andrei