Jumat, 15 Februari 2008

When the dream come true...

Andrei B.
Selain karena udah punya rencana sendiri ke depan untuk perjalanan, saya juga khawatir kalo lama2 berdiam disini (di tempat Mbak Nunu) bisa2 saya jadi betah dan gak bisa jalan sesuai rencana, makanya hari ke dua pagi harinya, saya sudah berkemas. Mengatakan kalo jadwal workshop saya emang tinggal beberapa hari kedepan. Si peri kecil tampak manyun, dan menggandeng tangan saya manja, seolah gak pengen saya pergi. Saya mengeluarkan 2 waffle (makanan khas belgia) yang kemaren saya beli, untuk si kecil dan mengatakan pada mereka kalo Om mau pergi sekolah, bener saja selanjutnya mereka sudah asyik dengan waffle mereka, saya langsung bergegas pergi di lepas oleh Mbak Nunu. Kali ini saya berencana pergi ke Brussel dulu, banyak hal yang menarik disana.

Kereta langsung membawa saya pergi ke Brussel, sesampainya disana atmosfer serasa udah berubah, karena warga sini memakai bahasa Perancis beda dengan sewaktu di Antwerpen yang masih memakai bahasa Belanda. Saya langsung membaur dengan keramaian menuju grand palace, yang tiap tahun di gelar pesta bunga pada musim seminya. Grand place disana adalah tempat berdirinya bangunan2 tua yang artistik, banyak sekali turis2 yang datang berkelompok (Dari Jepang pastinya) yang tampak tak hentinya berfoto dan berpose sana-sini, Aaah saya juga gak mau ketinggalan kalo masalah narsis2 an gini. Saya langsung minta seseorang untuk mengabadikan photo saya di Grand Place

Selepas itu saya langsung berjalan menuju satu landmark yang terkenal di kota ini, namanya Mannekin piss, patung sosok anak kecil yang lagi pipis. Dan sesampainya di tempat itu, yang hanya berjarak beberapa meter dari Grand Place, saya hanya mengerutkan dahi. Landmark yang satu ini, gak ada apa2 nya, hanya patung biasa. Apa menariknya?. Aah sudah laah yang penting photo dulu :p

Satu lagi yang menjadi Landmark kota Belgia adalah Atomium, jadi bangunan yang berupa partikel2 atom yang saling berhubungan, di dalamnya ada restoran, tempat bermain dan partikel yang menghubungkan atom satu dengan lainnya adalah lift yang konon adalah lift tercepat di dunia, saya sendiri tidak begitu berminat masuk kesana dan hanya mengabadikan diri di depan Atomium yang arsitek nya bernama sama dengan saya Andre Waterkeyn

Puas photo session saya langsung berangkat kembali menuju stasiun Bruxelles Midi, untuk langsung menuju negara perancis. Ternyata ada beberapa kereta yang akan membawa saya menuju Paris, dari kereta yang mengharuskan saya berganti2 di setiap kota, atau yang paling mahal sekalipun, straight ke Paris. Saya dilema, lantaran mengetahui kereta paling mahal itu namanya Thalys Ekpress kereta nomer 2 tercepat didunia, yang hanya membutuh kan waktu kurang dari 2 jam menuju jantung Paris (kalo naik Bis butuh waktu 5 Jam lebih). Dengan tanpa perhitungan dan niat mencoba pengalaman baru, akhirnya uang 40 euro melayang. Entah kenapa baru kali ini saya ngerasa gak rela keluar uang banyak, mungkin karena saya udah tau gimana capeknya kerja kali yaah? Salut sama Ortu saya yang kerja banting tulang untuk membesarkan anak bandelnya ini. Begitu saya udah di peron nya saya langsung berhadapan dengan kereta canggih itu, beeuuh ada euforia yang sulit di jelaskan, apalagi begitu udah duduk di kursi empuknya dan dilayani bak raja oleh pegawai nya (sumpah rasanya lain loh, klo kita dilayani dengan takzim oleh orang kulit putih, serasa jadi orang terhormat banget :p), kereta meluncur dengan kecepatan luar biasa di jendela saya cuma bisa ngeliat pemandangan yang berkelebat dan canggihnya di dalam kereta tampak seperti biasa, tidak ada guncangan, seolah kereta tidak bergerak. Sumpah saya yang di Indonesia terbiasa naik kereta Ekonomi dengan guncangan sana-sini dan ancaman copet tiap saat, kini pas naik kereta bergengsi di Eropa, Thalys, jadi merasa....apa yaaah? Sulit dijelaskan perasaan ini pokoknya. Kereeen Abisss!.


Paris Jet' Aime (Paris, Aku jatuh cinta)
Sesampainya di stasiun Paris nord, dan langsung keluar membaur dalam dinamika metro Paris. Kiblat mode dunia, tempat banyak sejarah dunia tercipta, tempat bersemayam Monalisa, tempat yang konon romantis sedunia, dan tempat segala kemungkinan bisa terjadi. FYI kota ini sukses buat saya minder, dari Jerman, Belanda dan Belgia saya datang, jujur saja kota ini dipenuhi orang2 cantik dan tampan, dimana2 saya melepas pandangan yang terlihat orang2 modis, orang2 keren, saya langsung ke toilet, ganti pakaian, menyemprotkan parfum, dan memberi efek basah pada rambut. Sumpah baru kali ini saya ngerasa jadi Korban Mode, dan pesona Paris sudah menjatuhkan sikap idealis saya sebagai Backpacker yang anti kemapanan. Kalo di umpamakan Paris itu disetiap jalan2 nya adalah laksana Catwalk yang dipenuhi orang2 keren dengan busana masa kini dan busana trend setter akan datang. Perumpamaan yang membuat saya ingin selalu tampil elegan. Saya langsung menuju kereta Metro yang akan membawa saya ke Eifel Tower. Di dalam metro dan di jalan2 saya melangkah, bukannya saya Ge-er tapi banyak sekali cewek2 keren menghamburkan senyum tanpa ampun ke arah saya, Aaaah kota ini menyambut saya dengan baik rupanya. Di dalam metro ada pemandangan yang menarik hati saya, seorang anak muda, kulit putih tampak takzim membaca dalam hati Al-quran mini yang ia pegang, Subhanallah! Saya sempet mikir negara ini rasis (karena denger2 orang jilbaban aja dilarang di sekolah2 dan kantor2), pemuda itu tampak asyik sekali membaca dan melemparkan senyuman bersahabatnya ke arah saya, begitu ia sadar saya dari tadi memperhatikannya terus. Agaknya Paris memberikan sudut pandang yang eksotik dengan saya.

Kali ini saya sudah turun dari kereta metro dan berjalan dalam sub stasiun yang berliku untuk keluar dari stasiun bawah tanah ini, saat itu jam menunjukkan pukul 8 malam. Saya dari tadi tak henti2 nya bergetar, keringat dingin, saya terus berjalan dan berjalan, menaiki tangga dan sampai di luar stasiun, bergegas saya menanyai orang dimana letak menara terkenal itu. Namun begitu saya ingin menanyakan, yang terlihat adalah semua orang di depan saya memandang ke sisi kiri saya dalam satu ekpresi: Takjub!.

“Jangan...jangan....”, saya memutar perlahan ke sisi kiri dan, Deg! Jantung saya seolah berhenti berdetak. Eifel Tower tampak menyala indah di depan saya. Subhanallah!!! Indah sekali. Saya langsung lemess dan terpaku di tempat. Dari puluhan tahun yang lalu, di kota kecil di selatan kalimantan saya memimpikan untuk pergi ke Paris untuk melihat anggunnya menara Eifel, dan kini....saya langsung meneteskan air mata. Ya Tuhan, engkau mengabulkan impian kecil saya, dengan gemetar saya mendekati Eifel di balkoni. Tanpa basa-basi saya langsung turun dari Balkoni menghambur mendekati Eifel, seolah berlari ke pelukan Ibu yang telah lama menanti. Eifel 10 kali lipat lebih Indah dari yang saya bayangkan. Setiap setengah jam sekali lampu nya menyala kerlip-kerlip di setiap lekuk bajanya. Indah Nian!







Saya kini berada di taman yang tepat menghadap Eifel tower, banyak sekali anak muda nya yang berada di taman itu, lagi pacaran, main musik dan membaur dengan turis yang datang. Saya merebahkan diri di taman dan melihat Eifel yang menjulang tinggi, saya menikmati Eifel dengan roti yang saya beli di Belgia dan sebotol Coca Cola, malam itu sempurna sekali, dengan langit cerah, orang2 yang bersahabat. Hanya hawa dingin yang sesekali bertiup, saya agak ragu begitu ingin mengeluarkan sleeping bag untuk menghangatkan diri saya, takut dikira mau tidur disitu, soalnya ada larangan untuk bermalam di taman itu.
Aaah sudah lah yang penting hangat, jadilah saya memakai sleeping bag di taman itu sambil duduk menikmati indah malam dan melamunkan diri tentang Dia, si gadis manis di kota hujan, saya lalu merebahkan diri berbantalkan tas ransel saya. Aaah seandainya kamu disini sekarang. Yaah paling tidak suatu saat nanti saya akan memperlihatkan keindahan ini untuk mu. Semoga...., Aaah letih sekali saya sekarang.


Udara dingin, dan kicauan merpati membangunkan saya, tampaknya saya tertidur. Dan Oh My God! Saya langsung Shock! Begitu saya bangun hari sudah pagi!. Dan di sekeliling saya, tidak ada satupun orang yang terlihat. Saya hanya sendirian di taman ini, di jalan ini, di pagi ini. Hanya saya dan Menara Eifel yang tidak lagi menyala di tempat ini. My God!!!.

Saya menatap Eifel, “Agaknya kamu sengaja ingin berbicara dengan ku pribadi Heh?” saya tersenyum simpul, dan bergegas mengemasi ransel. Sekali lagi saya tidak habis pikir dengan rencana Tuhan buat saya, bayangkan di Paris ini, di tempat terkenal ini, tidak ada siapa pun yang terlihat, hanya saya dan Eifel. Luar biasa!





Setelah menunggu lama, untunglah ada orang yang lari pagi, jadi saya bisa mengabadikan diri di depan Eifel.





Setelah photo session, saya langsung bergerak menuju museum tempat Monalisa, Louvre nama museum itu. Setelah sebelumnya sempet mampir di Arch d'triumph






Louvre
adalah museum berbentuk aneh dengan Piramida kacanya, kontras sekali dengan bangunan tua (berarsitektur citarasa tinggi) disekelilingnya, FYI ternyata lukisan Monalisa itu lukisan kecil. Gak gede2 amat. Rugi bandar!.

Padahal rencana nya selepas ini saya mau lihat Kastil Notredame, tapi saya baru ingat gara2 ketiduran tadi, saya seharusnya pagi ini sudah ada di kota Lyon. Untuk ngumpul di kampus Ecole Lumiere II bersama para undangan2 dari negara lain. Makanya saya langsung bergegas menuju stasiun untuk langsung ke kota terbesar ke dua di Perancis, Lyon.

“Baiklah....sahabat saya pergi dulu ya...” sambil memandang Eifel dari kejauhan, dan melangkah menuju pertempuran sebenarnya bertemu seniman berbagai disiplin ilmu dari penjuru dunia di kota Lyon.

Au Revoir Paris!

Andrei B. / Author & Editor

Saat ini bekerja sebagai senior copywriter di perusahaan Consulting Creative di Jakarta

Coprights @ 2016, Blogger Template Designed By Templateism | Re-design By Andrei