Selasa, 22 Januari 2008

a Pathetic worker!

Andrei B.
Jam setengah 7 alarm berbunyi, saya terbangun buru-buru masuk kamar mandi showeran air panas sambil membuka mulut meminum air yang ke luar dari shower. FYI air disini udah bisa diminum langsung dari keran nya. Di dapur saya ngeliat bekal roti yang disiapkan untuk saya bawa buat makan siang nanti. Buru2 saya mengeluarkan sepeda dari garasi rumah dengan memakai sendal gunung dan sweater Fila, saya gak boleh terlambat di hari pertama saya masuk kerja. Dan asal tau saja pagi itu adalah pagi terdingin yang pernah saya rasakan, saya mengayuh sepeda saya cepat biar badan panas. Beberapa menit saya sudah merasa jemari kaki saya beku, paha keram, sesak napas pula. Maklum gak terbiasa, andai sepeda motor shogun di kampung saya di bawa kesini ceritanya bakal lain :p

Perjalanan 20 KM melewati 3 kali jembatan tinggi yang memerlukan tenaga dan kesabaran exstra di tambah pula kebingungan saya dengan cara orang Belanda bersepeda, bagaimana mereka bisa bersepeda secepat itu dengan sedikit kayuhan? Ambil contoh saya harus 7 kali mengayuh sepeda untuk sampai ke titik A tapi orang sini hanya dengan 3 kali kayuhan sudah sampai pada titik A dengan kecepatan yang sama dengan saya. Padahal jangan tanya merek sepeda yang saya pinjam dari Mr. Wall, Gazelle (sepeda mahal dan prestisius) tapi entah sudah berapa kali orang tua atau anak kecil membalap saya dengan santai padahal saya sudah forsir tenaga gila-gila an untuk mengayuh. Ini masih misteri bagi saya.

Gak heran ekspektasi saya tentang waktu sampai di perusahaan itu meleset, saya telat 15 menit. saya gugup bukan main, bukan karena telatnya tapi begitu masuk ke perusahaan tersebut orang2 tampak asyik kerja tanpa menghiraukan satu sama lain, dan asal tahu saja disini gak ada satpam ato mandor kerja. Saya inisiatip (baca: memberanikan diri) untuk nanya ke lelaki setengah baya yang lagi asyik dengan mesin cetaknya yang berisik. Orang itu memang ramah, tapi...

Begitu saya tanya pake bahasa inggris, dia mematikan mesinnya dan keluarlah suara nya yang bisa bikin peralatan TOA gulung tikar, suaranya asli nyaring banget. Bikin semua pekerja disana ikut kaget lalu memperhatikan saya seolah menangkap mata2. udah gitu dia bilang:
“Ik niet engels spreaken!!” (gue gak bisa bahasa Inggris!!). Mampuss!.

Jangan tanya bagaimana perasaan saya saat itu di tengah para pekerja percetakan yang kini mengelilingi saya, Gugup dan malu abis!. Seolah di arak penduduk desa keliling kampung habis ketauan maling ayam. Untung ada pemuda seumuran yang mendekati saya dan berbicara bahasa inggris. Dan mempertemukan saya dengan Mr. Rob kepala administrasi setempat.

Singkat kata saya di pekerjakan sama dengan Peter pemuda seumuran saya tadi, tugasnya gak berat cuma bolongin kertas, menimbang, mencatat laporan. Trus siang nya ke lantai 2 di bagian IT membantu kerjaan disana jadi “Traffic Man” untuk berkas2 laporan dari satu cubicle ke cubicle lain.

Pertama kali kerja saya kalah cekatan dan gesit dengan pekerja lain, gak heran saya jadi cepat letih karena ngejar target. Jam 12 waktu istirahat siang setengah jam, pekerja yang ada saat itu berubah jadi rileks, gak ada lagi atmosfer serius seperti pagi tadi. Mereka asyik makan siang dan saya jadi punya kesempatan ngobrol dengan Peter, seorang Mahasiswa Rijk university yang ambil kerja sampingan. Bukan mahasiswa biasa, dia lagi tahap akhir untuk dapetin gelar Master nya. Bukan main.

Mr. Rob lalu menemui saya, untung dia gak tanya tentang keterlambatan masuk kerja, dia mengajak saya berkeliling perusahaan. Di mulai dari Ruang IT, percetakan, dapur yang serba otomatis, dan ruang hiburan (ada meja biliar, dart game, snack dan botol2 Bir serta Wine di meja bartender nya) Rob yang berwajah bijak dengan senyum hangat nya itu mengatakan kalo gue bebas menggunakan peralatan dan gratis menikmati segala makanan kecil dan minuman disini. “Disini semua rata, tidak ada kelas sosial. Jadi jangan merasa inferior” ucapnya makna.

Waktu berlalu dengan cepat jam 2 istirahat lagi 15 menit, saya benar2 kewalahan waktu jadi “Traffic Man” semua serba Rush panggilan dan permintaan datang tanpa henti. Gak heran jam 4 waktu pulang tenaga buat bersepeda pulang ke rumah udah terforsir habis. Nyampe ke rumah bencana ke dua datang, si Kei menyambut saya dengan serangan pistol airnya, saya cuma berjalan gontai menuju kamar saya dan ambruk di kasur empuk. Panggilan untuk makan malam udah gak saya hiraukan lagi. Saya capeeeek banget. Dan besok harus bangun paling gak lebih dini dari tadi pagi supaya tidak terlambat. Oh Tuhan!

Berhentilah bermimpi berkerja di luar negeri kalo gak punya skill sodara-sodara ku, ternyata kerja di luar negeri itu tidak seindah yang dibayangkan...


Andrei B. / Author & Editor

Saat ini bekerja sebagai senior copywriter di perusahaan Consulting Creative di Jakarta

Coprights @ 2016, Blogger Template Designed By Templateism | Re-design By Andrei