Jumat, 07 Desember 2007

Eropa itu seperti perempuan cantik, tak terduga, sulit ditaklukkan.

Andrei B.
Aaah ini bagian yang paling mendebarkan, memasuki ruangan imigrasian, sebelum menuju bagage claim, ada empat loket imigrasi disana, gue berinisiatif mencari muka officialnya yang ramah, nihil. Wajah mereka sangar bin judes semua. Sebenernya memang benar apa yang dikatain Mbak Widie di comment postingan sebelumnya yang bilang ngapain takut kalo semua dokumen lengkap. Itu memang betul tapi gue takut akan ditanya masalah finansial. FYI di kantong gue cuma ada uang 10 dolar, no credit card, no traveler cheque, no money no honey laah. Tapi Alifa sudah memberikan sedikit trick.

1. Pura2 gak bisa bahasa Inggris aktif, jadi setiap dia tanya lo bisa mikir lama untuk mikirin jawaban yang “pintar”.

2. Jangan berlagak kayak Backpacker (karena gaji buruh di negara mereka lebih tinggi daripada uang backpacker negara dunia 3), jadi berlagaklah kayak orang kaya baru (mengingat pasport gue baru balik 2 halaman :p).

3. Pasang tampang bodoh, konon orang Jerman suka adu debat ma orang pinter.

4. Kalo ditanya tujuan kedatangan bilang dengan antusias tentang Jerman

5. Tidak perlu mengucapkan Assalamualikum.

Lima hal yang terus gue ingat2 sembari menunggu antrian dengan kegugupan luar biasa. Tiba giliran gue, si Official pria plontos besar mulai menatap tajam, gue mematung. Gugup sangat. Tangan gue sampe gemetaran ngasih berkas2 penting dan pasport.

Si plontos: Mengapa nama lengkap mu cuma Andrei?

Mussafir (mulai keringat dingin): Nngg... begitulah nama yang saya dapatkan dari Orang tua, Mister... (gue bingung, masa iya sih gue kudu curhat?)

Si plontos: Apa tujuan ke mari?

Mussafir (hapalan gue kabur entah kemana, yang gue ingat Cuma point 2): Bersenang2, liburan, menghabiskan uang. Ingin merasakan keindahan dan kebesaran negara Jerman, dan keramahan orang Jerman (gue menjawab ber api2 lupa sama point 1)

Si plontos mulai takjub dengan jawaban, dan CAP SAKTI keluar! Permit entry.

Si plontos: Bersenang2 lah anak muda! Rasakan keindahan dan keramahan orang Jerman!

Gue tersenyum mengumpat dalam hati; Yaah Polisi bandara anda sangat ramah.

Ternyata mudah ding, asal kita berlaku “semestinya”. Dan...dengan langkah buru2 gue melewati border terus jalan, dan terusss dengan langkah cepat, sesekali berputar memandang, melempar senyum tanpa henti. Perasaan yang membuncah dan ingin meledak. Apa lagi sewaktu Ransel sudah tersampir, dan berjalan tegap semangat. Ah gagah nian rasanya.



Ironis No.1

Tujuan pertama sebelum ke Perancis (Ngikutin workshop film) adalah pergi ke Belanda ke tempat Mr. Waldow yang ngundang gue. Selanjutnya tinggal ke base floor, ada kereta api menuju ke stasiun frankfurt. Sebelum ke sana gue pergi dulu ngambil ATM, bayang-bayang negara Eropa sudah di depan mata. gue memasukkan kartu ATM Lippo di ATM sana yang berlogo VISA. Dan hanya dalam hitungan menit keriangan berganti dengan kegugupan luar biasa. What The ....!!!

Gue disuruh memasukan kode pin 6 digit, punya gue 4 digit. Mampus!!!
Singkat cerita gue sudah terkulai lemas di kursi tunggu, duit 10 dolar gue waktu di exchange hanya 7 euro sekian sen. Hanya ini yang gue punya (gak sampe 70 ribu rupiah). Gue memandang sekitar di tengah hiruk pikuk bandara tersibuk ke dua di dunia, Semuanya orang2 berkulit putih, berambut terang, bahasa gak gue ngerti, semua tampak sibuk tak perduli, tiba2 gue merasa jadi Alien. Merasa sendirian, gak ada teman, gak ada yang gue kenal di ranah Jerman ini. HP yang gue bawa pun cuma kartu simpati minus pulsa. Gue bergegas ke luar Airport dan mengelilingi nya dengan bahu berat menyandang ransel 80 liter berniat ngoboy (hitch hiking), untuk pertama kalinya gue tiba2 merasakan kengerian yang sangat, begitu tahu bahwa bandara ini bukan berada di dalam kota, jauh di luar kota, yang ada hanya Jalan tol di sekeliling bandara dengan laju kendaraan luar biasa cepat.

Gue mematung miris menatap kenyataan di depan, dengan langit kelabu dan hawa dingin yang menggigit, dan perut yang mulai lapar. Sementara bayang2 indahnya eropa merayu insting petualang, gue malah terperangkap tanpa daya di Airport yang kini terasa bak penjara besi. Ironis nian.

Andrei B. / Author & Editor

Saat ini bekerja sebagai senior copywriter di perusahaan Consulting Creative di Jakarta

Coprights @ 2016, Blogger Template Designed By Templateism | Re-design By Andrei