Senin, 10 Desember 2007

Apa yang didengar tidak sama dengan yang dirasakan, percayalah!

Andrei B.
Sudah berlalu 3 jam dari kedatangan. Dada masih aja naik turun gak karuan, gugup!. Akhirnya dengan bijak gue memutuskan untuk duduk di ruang tunggu, diam disana, beradaptasi dulu. Memulai bercakap dengan orang sekitar untuk lebih menguasai diri dalam keadaan shock culture. Waktu terus berjalan dari pagi, siang lalu menuju sore yang kelabu. Dan perut gue sekarang lapar...

Gue masih inget, dengan cemilan2 yang di kasih rombongan haji sewaktu transit di Brunei kmaren. Roti yang sudah mulai mengering dan selai nanas mini. Gue mengoleskan di tengah keramaian. Mengunyah lamat2 biar kerasa kenyang. Tinggal bikin Susu Energen, gue mengeluarkan gelas plastik.

Di kafe sebelah, gue melihat harga secangkir kopi saja seharga 4 euro. Kalo air panas nya aja berapa ya?, gue nekat bertanya sambil nenteng gelas plastik yang sudah berisi energen.

Pria gemuk klimis penjaga cafe yang gue tanya langsung ngelongo, seolah2 baru kali ini ada pelanggan yang nanya, “berapa harga secangkir air panas?”. Dipandang aneh gitu gue langsung balik badan, tapi si gemuk langsung memanggil dan mengambil gelas di tangan, berikutnya susu energen sudah mengepul di tangan, begitu gue tanya harga nya, si pria gemuk hanya geleng2 kepala, “Ambil saja!” Katanya. Alhamdulillah masih ada orang baik. Sebelum gue pergi, pria gemuk mengajukan pertanyaan;

Pria Gemuk (penasaran): “Dari mana asalmu?”
Mussafir (diplomatis): “Banjarmasin!” gue langsung balik badan, kabur! (takut berubah pikiran).

Bayangkan kini gue punya sebungkus roti kering dan selai, serta segelas penuh susu energen panas. Menimatinya di tengah hiruk pikuk kesibukan bandara canggih dan di kelilingi tatapan aneh orang2 sekitar.

Polisi Bandara No.2
Sedang asyik2 nya menikmati makan, polisi bandara menghampiri untuk kedua kali (apa di sini gak boleh makan roti kering berselai?), singkat cerita polisi itu menanyakan apa gue ada masalah? Karena dia liat gue tampak uring2 an. Gue berkelit, mengatakan kalo penjemput gue gak kunjung datang. Si polisi bandara muda (kira2 berumur 26 an) tersenyum sambil mengangsurkan HP nya

“Teleponlah...”

“Tapi penjemput saya di Belanda Mister”

Polisi Bandara masih memamerkan senyumnya dan mengangguk meyakinkan gue memakai HP nya. Gue gamang menerimanya. Berikutnya gue menelpon orang satu2 nya yang gue kenal di Eropa ini. Selanjutnya sim sala bim, gue dapat pengetahuan tentang western union. Yaah mereka akan mengirimkan uang lewat jasa tersebut. Gue menutup telpon dengan kegembiraan luar biasa, polisi bandara ikut tersenyum, gue terharu sekali menatap polisi bandara satu ini. Jujur saja gue pengen nangis bahagia. Gue selamat!.

Gue mengangsurkan roti kering yang tinggal beberapa, si polisi menerima nya, duduk disamping gue, ikut mengoleskan roti2 kering yang tersisa. Kami menikmati roti bersama2, bercakap2 dengan Inggrisnya yang patah2 namun selalu di iringi senyum manis tulusnya. Roti kering yang kami makan saat itu tiba2 berubah menjadi roti terlezat di dunia.

hanya beberapa saat saja kebersamaan kami, polisi bandara itu kini pergi setelah memperlihatkan foto di dompetnya seorang gadis yang baru saja ia nikahi. Seorang gadis Asia.

Loket Western Union sudah tutup, jadi malam itu saya melewatkan dengan makan roti kering lagi, dan tidur menanti esok pagi di kursi tunggu. Yaah hari pertama saya mendarat di Eropa adalah bermalam di Frankfurt Airport!.

Tidak apa2 saya sudah capek sekali secara fisik dan mental,

jadi Selamat malam semuanya. :)

Andrei B. / Author & Editor

Saat ini bekerja sebagai senior copywriter di perusahaan Consulting Creative di Jakarta

Coprights @ 2016, Blogger Template Designed By Templateism | Re-design By Andrei