Senin, 19 November 2007

Backpacker Yang Menangis...

Andrei B.
KLIA Airport, Malaysia
Nama Maskapai penerbangan nya bukan lah maskapai yang sudah mentereng, baru kali ini gue tau ada maskapai penerbangan Royal Brunei. Nah pesawat nasional kerajaan Brunei inilah yang akan membawa gue menuju impian masa kecil. Pergi ke Eropa!.

Entah sudah berapa kali gue dibuat kagum dengan canggihnya airport KLIA yang sempat menjadi The Best International Airport. Gate satu dengan Gate lainnya terhubung dengan kereta listrik. Belum lagi Interiornya yang canggih dan futuristik namun masih memadukan unsur hijau alami pepohonan yang tumbuh di luar kaca airport. Impressif!

Gue masih menanti, di Tiket itu jelas, sebelum gue terbang ke Frankfurt Airport gue bakal transit di Brunei Darussalam dan itu tau gak, gue harus nunggu selama 5 jam di sana. But, Who cares, yang penting gue nyampe ke Eropa. Toh gue juga belum pernah ke Brunei ini.

Setelah menunggu kurang lebih 2 jam, finally gue udah boarding dalam pesawat Royal Brunei, hanya pesawat boeing biasa yang akan mengantarkan ke negara Brunei. Nah dari sana nanti baru akan naik pesawat Air Bus yang canggih.

Kesan pertama gue sewaktu persiapan take off di dalam pesawat, ada hal yang lumayan unik, pesawat Royal Brunei sebelum take off di perdengarkan doa-doa untuk berpergian, jadi sekitar 2 menit penumpang nya akan mendengar pengajian ayat2 Qur’an. Gue yang duduk di jendela menatap penuh gejolak ketika pesawat take off, aneh saja rasanya setelah melewati banyak kota dan negara gue akan terbang kembali ke Kalimantan yang notabene tempat gue dilahirkan.

Bandar Seri Begawan Airport, Brunei Darusalam
2,5 jam kemudian gue udah sampai di Bandar Seri Begawan Airport, Negara ke tiga dalam perjalanan menuju Eropa. Turun dari pesawat melalui terowongan kaca, gw diberi label berupa sticker bulat orange bertuliskan “Transit” dan menunggu di airport yang tidak terlalu besar dan tidak juga kecil tapi sungguh2 high class dari arsitekturnya, penataan cahaya nya yang menimbulkan efek emas, benar2 nyaman.

Gue lagi2 mencoba menelpon rumah di Banjarmasin, meminta restu. Sebenarnya itu sudah gue lakuin, tapi lantaran keluarga banyak yang gak percaya kalo gue bakal pergi ke Eropa, hanya meng iyakan santai seolah mendengarkan khayalan gue seperti biasa. Sayang nya pulsa gue udah gak cukup lagi buat nelpon, nantilah pikir gue kalo udah sampe di Eropa sekalian.

Sudah lebih dari 4 jam gue melenakan diri lelah di kursi empuk, di sekitar gue tampak puluhan orang dari Indonesia yang sedang pulang dari Umroh mereka, kesempatan yang baik untuk menghilangkan kerinduan pada kampung halaman, kami saling bertukar cerita. Mereka yang mengetahui rencana keberangkatan gue ke Eropa mendengarkan dengan antusias, bahkan ketika gue mengatakan pergi kesana adalah impian masa kecil dan pergi sendiri untuk mengenal dunia, serentak mereka terpukau “Subhanallah” ucap mereka, tak jarang beberapa dari mereka tampak menitikkan air mata, “Hey? Whats going on?” pikir gue. Memang begitulah mereka2 yang setelah datang dari tanah suci, menjadi terlalu sensitif. Namun selanjutnya mereka memanjatkan doa untuk gue agar bisa selamat dalam perjalanan nanti, setelah itu beberapa dari mereka memberikan gue banyak sekali makanan untuk bekal perjalanan gue nanti, ada Roti coklat, Energen 3 pack, bahkan beberapa bungkus rokok.

Sumpah...gue saat itu miris banget, mata gue jadi panas menahan air mata. Tiba2 gue jadi takut pergi meninggalkan Kalimantan sejauh nanti. Pria setengah baya yang berpakaian serba putih memegang pundak gue.

“Jangan takut, Tuhan bersamamu, saya yakin ada yang ingin Tuhan sampaikan untukmu” ucap pria itu di angguk serempak oleh rombongan umroh, ngebuat gue hampir membuat air mata ini mengalir. Terima kasih, setidaknya gue merasa kuat sekarang, sayup2 dalam isak sedih yang tertahan gue mendengar informasi kalo penumpang jurusan Frankfurt airport diharuskan bersiap2. mereka semua memandang penuh haru, gue tau gue harus tersenyum di depan mereka. Seolah mengatakan, tenanglah...saya pasti akan menaklukan Eropa, dan akan kembali lagi dengan selamat. Sekali lagi Terima Kasih, saya pergi sekarang. Dan jujur saja langkah ini terasa berat sekalii, sungguh... saya sebenarnya gentar.

Dan ketika akan memasuki pesawat boeing Royal Brunei tersebut, gue berbalik dan mengatakan sesuatu pada pulau ini, hanya untuk pamit ke tanah leluhur, tanah yang telah memberikan gue banyak “isi” walau semua kenangan itu ada nun jauh di bagian selatan Kalimantan, namun di pulau besar inilah gue memiliki cita-cita ini, terbang ke Eropa dan menjelajahinya tandas.

dan tanpa bisa ditahan lagi gue mengeluarkan air mata, menangis getih. Akhirnya gue akan pergi menyongsong impian...

"Kalimantan, gue pamit..."

Andrei B. / Author & Editor

Saat ini bekerja sebagai senior copywriter di perusahaan Consulting Creative di Jakarta

Coprights @ 2016, Blogger Template Designed By Templateism | Re-design By Andrei