Yangshuo
Guilin, China
I used to think its boring to spend a life in village, but now I'm not so sure
Wayag Island.
West Papua
Dangerously Beautiful
Ryokan.
Kyoto, Japan.
When luxury meet the pleasure
Paris
I wanna be the fountain of love from which you drink
every drop promising eternal passion

Minggu, 21 Februari 2016

A laddy who always painting the sky

Andrei B.
Surat itu saya temukan di buku harian tempat dimana biasa saya menuliskan catatan perjalanan, surat berwarna merah menyala. Ia pasti menyelipkannya diam-diam. Itu pun saya ketahui dua tahun kemudian, ketika saya memutuskan untuk pensiun dalam dunia penulisan dan petualangan. 

Surat merah dari si gadis lincah.


Didalamnya ada fotonya, memegang tulisan yang selesai ia buat.
Saat itu, saya memang sedang dalam tahap istirahat dari kegiatan menulis maupun jalan-jalan, ada sebuah kesadaran melihat teman-teman seusia saya yang menjalani fase berumah tangga dan berkarier. Sedang saya? Saya masih saja berkutat dengan catatan perjalanan dan berselimutkan atap penjuru negeri kala itu.

Sebelum berangkat ke kantor, saya menyempatkan diri mencari surat tersebut dan lalu membawanya ke kantor. Niat saya membacanya di kantor, selalu terhalang oleh pekerjaan yang menumpuk, belum lagi omelan dan instruksi atasan yang kadang membuat stamina saya terjun bebas.

Sebut saja si Boss, selaku atasan tempat saya bekerja di bidang advertising yang galaknya minta ampun. Kadang menjadi copywriter di suatu perusahaan kerja di Yogyakarta bisa dibilang menuntut kita berkerja dibawah tekanan deadline yang luar biasa ketat.

Kenyataan bahwa seharusnya surat berwarna merah tersebut saya buka tadi pagi, masih bertahan di tempatnya, di sudut meja diantara tugas-tugas ber-label deadline. Saya urung membukanya tadi pagi, begitu atasan saya, memergoki saya yang sumringah bersiap membaca surat darinya.

Saya sendiri jujur saja, bukan ini keinginan saya menjalani hidup... bekerja di bawah tekanan. Sementara insting petualangan saya masih membara.

Beranda facebook yang memuat kabar kelahiran anak dari teman-teman saya ataupun status engaged yang berubah menjadi married, seolah menjadi hantu-hantu masa depan dan tali temali yang kencang mengikat saya dibalik meja kerja.

“Kalo hidup kamu gak mapan? Jangan ngimpi buat ngelamar anak orang? Mau kamu kasih  makan apa? Ransel?” Ucap Boss yang tahu latar belakang saya.

Berbagai undangan talkshow, menjadi pembicara, sampai penerbit yang terus  menagih buku terbaru lewat email, selalu sukses saya pindahkan dari inbox ke trash.

Yah... sudah cukup.


Jam menunjukkan pukul 6 sore, kantor sudah mulai sepi. Boss mendapati saya yang masih di ruang kerja. Ia mengangguk dan menghampiri saya sembari tersenyum.

“Nah, begini kan lebih oke, face the reality! Kerja keras, gak usah banyak mimpi tinggi-tinggi! Dengar ya Rei, saya tahu kamu sudah banyak keliling negara, sedang saya ini paling banter juga pergi ke Bali, tapi lihat saya sekarang? Saya jadi Boss, dan saya yakin duit saya lebih banyak dari kamu, yang hobby nya buang-buang uang buat jalan-jalan. Gak guna!”

Si Boss menepuk bahu saya, sambil berucap:

“Oh ya, gak ada uang lembur loh, walau kamu kerja sampe larut malam pun”

Saya mengangguk-angguk, dan bernapas lega ketika boss pergi meninggalkan ruangan kerja, saya memeriksa internet download manager saya.

“Yeaah tinggal 10 menit lagi Miyabi beraksi”.

*

Ektase itu bernama masa lalu

Hujan turun sesaat saya membuka jendela kamar kost, lagu-lagu love song memories menjadi pengantar yang pas untuk rebah menghilangkan penat.

Buru-buru saya bangun, tersadar jika saya melupakan sesuatu. Yaah surat darinya. Dari Ling.

Saya masih menatap surat tersebut, yang lusuh dimakan waktu.

“Hai ganteng, apa kabar! (percayalah Rei, saya membiarkan panggilan ganteng ini karena sebelumnya saya tidak berhasil menahan muntah, sayang jika dihapus, sudah memakan korban!)

Saya tidak bisa menahan senyum. Entah mengapa, membaca paragraph pertama darinya saja sudah membawa saya terbang jauh, ke dunia yang penuh dengan hal yang tak tentu namun menyenangkan di dalamnya.

Paragraph awal itu hanya hiburan, saya seharusnya sudah menduganya.. karena paragraph berikut surat itu membuat saya terdiam lama.

Baru membaca setengah surat tersebut, memaksa saya untuk kembali mengingat-ingat kejadian dua tahun berselang. Lalu tertegun menemukan kebenaran dari isi surat tersebut.

Ia ternyata tidak bergurau...

Ini akan menjawab segala pertanyaan yang menghantui kami, menghantui saya dan Jules. Tentang hilangnya kabar Ling. Nomer handphone-nya sudah tidak lagi aktif, dan ketika Jules menanyai kampusnya tentang keberadaan Ling di Australia, ia sudah tidak lagi  melanjutkan kuliahnya. Bahkan Eduardo kekasihnya pun ternyata sudah lama tidak lagi bersama dengannya. Putus!

Entah mengapa saat itu perasaan saya nggak enak...

Jules, menyarankan untuk menjenguk keberadaan Ling di kota tinggalnya, dengan memperhitungkan jika kami sama-sama tinggal di Asia, tentunya lebih terjangkau dan dekat. Cih, dia kira, Asia itu seperti Eropa apa? 

Saat itu saya cuma bisa beralasan jika saya tidak tahu alamat rumahnya. 

Tiba-tiba saya teringat sesuatu, lalu bergegas membuka kembali inbox email pribadi. Dan benar, balasan dari Jules beberapa bulan yang lalu masih tersimpan, seolah menjawab kebimbangan saya.

Alamat rumah yang sempat ia tanyakan di administrasi kampus di Australia, Alamat rumah si gadis lincah. Ling.

...

Saya mengesampingkan jauh, hasrat untuk menemui Ling. Namun dengan ditemukannya surat merah dan informasi alamat rumahnya dari Jules. Mau tidak mau menggugah memori saya beberapa tahun lalu, tentang masa muda kami, tentang indahnya persahabatan, serta isi surat merah ini yang kembali meniupkan aroma perjalanan dengan penuh sukacita.

Kota Yogya masih hujan, di sudut kamar masih tergeletak berkas-berkas kantor yang harus segera di selesaikan... seolah kembali menyeret saya pada kenyataan.

Saya menghela napas panjang, dan mengangkat berkas yang menumpuk, mulai mencicil pekerjaan.

Berusaha sebisa mungkin menjadi pribadi waras dengan mengerjakan tugas-tugas kantor, masih di iringi Golden Love Song.

Dan lagu lama Peter Cetera mengalun menjadi dilema.

".. If you leave me now,
You'll take away the biggest part of me.
Baby please don't go.
And if you leave now
you'll take away the very heart of me"

**

Seminggu kemudian

Suara Boss seolah tercekat mendengar keinginan saya.

“Apa kamu bilang? Kamu pikir saya bakal kasih ijin kamu pergi seenaknya aja?!”

“Saya gak minta ijin Pak... saya mau berhenti kerja, resign.”

Si Bos tergugu, seolah hilang akal.

“Kamu mau kemana?”

“Cina daratan” ucap saya mantap. Sembari mengeluarkan surat pengunduran diri.

Sebelum saya pergi meninggalkan ruangan kerjanya, si Bos menghampiri saya, setelah mengeluarkan sesuatu dari laci meja kerjanya.

“Tolong ini di tanda tangani saja, titipan dari putri saya”

Si Bos mengeluarkan buku Travellous.

Saya mematung.

Si Bos setengah membisik “Putri saya bilang, twitter dia tolong di folbek”

....

....

Yogya tiba-tiba hujan lagi.

Jumat, 26 Desember 2014

Pada negeri yang telah teruji

Andrei B.
Saya bermalam di salah satu rumah teman asli keturunan Aceh bernama  Darul Mahdi, salah satu pria ramah dengan prestasi akademis terdepan di univ. Syiah Kuala.

Darul dengan senang hati mengajak saya keliling kota dan menceritakan banyak sejarah negeri rencong hingga menemani saya ke pulau Weh menikmati pantai cantik dan pergi ke titik Nol kilometer, hingga menyelam di surga bawah lautnya di Iboih. Benar-benar pengalaman yang menyenangkan.

Sepulangnya dari pulau Weh, keesokan paginya cuaca memang tengah mendung. Saya di jemput Oleh Lulu di pagi hari yang basah oleh gerimis yang mulai turun.

Dara Aceh dengan senyum manis itu yang mengenalkan saya pada kuliner Aceh di pagi hari. Adalah kelezatan nasi gurih Pak Rasyid yang berada di sekitar mesjid raya Baiturrahman yang benar-benar menggugah selera berikut teh tarik yang melengkapi pagi itu.

Kami bertukar cerita, alih-alih bercerita tentang bencana besar Tsunami yang orang-orang luar aceh selalu bertanya, ia bercerita tentang impiannya meraih gelar Master suatu saat nanti di benua Amerika. Dari tangannya yang terkepal dan semangat yang tak mampu ia sembunyikan ketika bercerita, saya yakin Lulu akan meraih impiannya tanpa kesulitan.

Thanks Lulu buat traktirannya. Nanti traktir saya lagi di benua Amerika ya :)

Setelah puas menikmati segelas kopi solong dan berpisah dengan Lulu. Saya segera menepikan becak bermotor, berminat menuju kampung Lampulo, kecamatan Kuta Alam, demi melihat jejak peristiwa bersejarah. Tsunami Aceh.

Saya meihat ramainya kapal penangkap ikan yang bersandar di pelabuhan Lampulo, terik panas kota banda Aceh jauh lebih panas dari Kota saya di Banjar, ini sudah kedua kalinya saya berganti kaos baju.

Becak yang saya tumpangi memasuki gang-gang perumahan penduduk hingga saya akhirnya tepat berdiri di di kapal bersejarah tersebut. Saya cukup terkesima melihat cukup besarnya kapal tersebut yang berada di atas puing-puing rumah penduduk. Kapal dengan berat sekitar 65 ton dan panjang badan kapal sekitar 25 meter.

.............

Air laut saat itu sudah mencapai leher orang dewasa. Keluarga Ibu Siah dan tetangga-tetangganya di desa lampulo sudah pasrah menjemput ajal. Bahkan ia melihat tetangganya sudah histeris melihat mayat-mayat yang hanyut diterjang tsunami.

Ucapan saling meminta maaf dan doa-doa pertanda ikhlas di ucap diantara deru bising arus tsunami.

Saat itu mereka meyakini terjadinya kiamat. Ditengah kepasrahan di terjang tsunami yang makin meninggi.. tiba-tiba sebuah bahtera datang.

Orang-orang berteriak “Ayo cepat naik kapal!“

Semua orang bersusah payah menaiki bahtera, tak sedikit yang gagal lalu hanyut dilibas arus. Mereka bertahan di atas kapal sembari merapal doa-doa.

Dan itulah kisah bahtera tak berawak.. penyelamat yang tiba-tiba datang dari tepi laut melintasi kota sejauh 3 KM. Untuk menyelamatkan 59 orang di desa Lampulo.

Saat air surut, yang tersisa di sekitar mereka hanyalah puing-puing reruntuhan, dan mesjid Baiturrahman di kejauhan yang sendirian tegak berdiri, di tengah sunyi kota banda Aceh yang hancur.

Tuhan menunjukkan kuasanya bagi umat yang mau belajar dari kejadian-kejadian.

Teman-teman,
Datanglah ke negeri ramah nan tabah, yang keyakinannya telah teruji oleh waktu dan bencana.
#Memperingati10tahunTsunami





Untuk Darul Mahdi dan Lulu, Terima kasih atas keramahan dan kebaikan kalian.
May The force be with you :)

Coprights @ 2016, Blogger Template Designed By Templateism | Re-design By Andrei