Yangshuo
Guilin, China
I used to think its boring to spend a life in village, but now I'm not so sure
Wayag Island.
West Papua
Dangerously Beautiful
Ryokan.
Kyoto, Japan.
When luxury meet the pleasure
Paris
I wanna be the fountain of love from which you drink
every drop promising eternal passion

Kamis, 30 Maret 2017

If truth waits to be found

Andrei B.
Udara dingin menggigit pada bulan pertengahan November, adalah kesalahan terbesar bagi petualang yang tak tahan dingin untuk melancong ke negara yang memiliki musim dingin di penghujung tahun.
Jaket parasut beli di pasar malam tak kuasa melindungi pemiliknya yang bukan hanya kedinginan tapi juga kelelahan menyandang ransel yang hanya berukuran 30 liter. Tentu saja faktor umur juga nggak bisa dibohongi.

Udara di kota Guilin saat itu, benar-benar lebih dingin daripada saat saya pergi ke Jepang di awal tahun. Saya menyusuri pedestrian kota yang ramai, melewati taman kota yang ramai oleh sekumpulan orang dewasa yang tengah melakukan gerak taichi, disudut taman lain tampak beberapa orang tua yang asyik bermain catur, dan penjual kacang bergerobak tak henti-hentinya menawarkan dagangannya pada orang-orang yang lewat, daun-daun di pepohonan taman mulai berjatuhan.
Melewati taman kota, dikejauhan saya melihat dua pagoda kembar yang menjulang ditengah-tengah sungai.

Bangunan pagoda yang berada di tengah-tengah danau Shanlu atau Shan Hu dalam bahasa China. Pagoda kembar ini unik dan indah. Pagoda kembar tersebut adalah pagoda matahari yang terbuat dari tembaga dengan 9 menara dan tinggi 41 meter. Sedangkan satunya lagi disebut pagoda bulan yang terbuat dari kayu dengan 7 menara dan tinggi 35 meter.

Saya mengambil tempat terbaik untuk diam mengamati twin pagoda tersebut, mencoba menikmati senja yang turun ditemani kacang rebus yang tadi dibeli, udara memang tambah dingin, seharusnya saya langsung mencari hotel yang sudah di booking saja tadi. Namun masalah traveling ke negeri yang masyarakatnya sedikit yang bisa berbahasa Inggris, tentu saja menjadi masalah klasik, tidak banyak orang yang mengerti maksud saya.

Twin pagoda menyala indah, saya masih saja termenung di tempat yang sama, kacang rebus habis tak bersisa. Sepasang kekasih mengagetkan lamunan saya, mereka meminta bantuan untuk difoto berlatar twin pagoda.

Saya mengiyakan dan melengos sebal, dengan pose mereka yang saling merangkul dan memeluk mesra. Enak ya Bro.. dingin-dingin gini pelukan, sigh!.

Saya hampir saja melupakan sesuatu hal, begitu mereka pamit dan berterima kasih atas bantuan jepretan amatir saya. Karena mereka adalah orang Cina yang mampu berbahasa Inggris. Buru-buru saya mengeluarkan secarik kertas alamat hostel tempat saya akan menginap nanti, berharap jika pun mereka tidak tahu tempatnya, mereka bisa bantu saya untuk menterjemahkannya kepada orang lokal.

Luckily hostel tersebut malah bersebelahan dengan hotel tempat tinggal mereka. Aman kalo gitu.
Sebelum kami beranjak pergi, sepasang kekasih tersebut mengajak saya untuk mampir dulu ke kedai makan untuk santap malam. Mereka ternyata adalah sepasang suami istri yang tengah melakukan honey moon trip. Mereka sendiri berasal dari Hongkong.

Di kedai makan yang terletak dikeramaian taman kota, kami menikmati salah satu makanan khas Guilin yaitu steam Ikan sungai Li yang benar-benar lezat karena kelembutan daging dan gurih rasanya.

Lelaki bernama Wu menceritakan banyak tentang kota Guilin, sebelum menikah ia memang sempat ke kota ini bersama teman kuliahnya, singkat cerita kota ini didirikan oleh Kaisar Shihuangdi pada tahun 214 SM, Kota Guilin berlokasi di bagian timur laut Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi, Tiongkok barat daya.

Yang menarik dari perkenalan saya adalah ketika mengetahui nama pasangannya tersebut bernama sama dengan si Gadis Lincah, Ling. Memang bagi orang Cina nama Ling ini pasaran betul. Padahal nama gw juga pasaran

Di tengah perjalanan pulang menikmati malam, saya yang berjalan agak menjauh dari mereka, beberapa kali ditawari perempuan-perempun penghibur, walau sama-sama nggak ngerti bahasa masing-masing, namun tentu saja saya gak bodo-bodo amat untuk tau maksud orang-orang yang mendekati saya walau hanya dengan 1 kata yang terucap oleh mereka: SEX Mister.. SEX.
Crap!

Saya menempati hostel bernama Green Forest, satu ruangan bersama beberapa backpacker yang datang dari Cina belahan lain.

Ada perasaan berdebar menyambut hari esok, saya sudah menemukan kemana saya akan pergi selanjutnya,menuju kota berpanorama indah, tempat dimana saya akan bertemu dengan jawaban, atau bisa saja nihil.

Selimut tebal dan kasur empuk belum mampu menutup mata saya lelap, pikiran saya masih berkecamuk.

Dimulai dari surat berwarna merah darinya, yang meninggalkan petunjuk untuk melihat uang Yuan bernomimal 20. Saya tahu tempat itu, tempat yang konon jadi inspirasi untuk scenery film Avatar dan Starwars episode III. Yangshuo adalah nama kota kecil itu.

Tiga tahun berselang setelah kedatangannya ke kota Yogyakarta, kini saya berbalik mengunjunginya, ada rahasia yang terurai satu persatu dan langkah kaki ini tidak serta merta dimulai dari kota ini, beberapa minggu yang lalu saya masih membaui aroma kamarnya di flat menjulang kota Hongkong. Entah dorongan dari mana yang membawa saya berakhir disini.

Mata gadis lincah itu, bahkan semyumannya betul-betul mewarisi dari Ibunya, Ibu yang saya temui dan menjamu saya dengan teh hangat dan kue tart telurnya. Perempuan berusia 65 tahun itu mulai bercerita banyak tentangnya, tentang anaknya.

Membayangkan lagi kisah mereka saat itu, membuat mata ini kembali berbunga, saya memaksakan diri untuk tidur, sebelum perasaan ini kembali gundah.

Bis yang saya tumpangi membawa saya berpergian 1,5 jam perjalanan menuju kota Yangshuo, kota kecil ini terletak di wilayah Provinsi Guangtxi, Yangshuo terletak di tepi sungai li, dan dikelilingi pegunungan kapur/ karst.

Ada yang mengatakan jika Yangshuo adalah tempat paling indah, hingga menjadi inspirasi bagi banyak lukisan-lukisan di Tiongkok.
Bis melewati julangan perbukitan karst, kabut masih belum hilang, seolah masuk kedalam dunia lain, udara dingin masuk melewati ventilasi udara menambah dingin bis yang bermuatan tidak lebih dari 10 penumpang.

Udara dingin ini membawa lamunan saya 2 tahun yang lalu, ke kota kecil di Kawaguchi Ko, Jepang. Setelah urung menaiki gunung Fuji, lantaran saran dari pemuda lokal, lalu berlanjut bersama gadis Geisha menuju Kyoto. Tanpa disadari senyum saya terkembang mengingat saat-saat itu, pada masa indah di negara yang tak akan ada puasnya untuk dijelajahi.

Kyoto, 2 tahun yang lalu.
Gadis Geisha yang memberi saya tumpangan itu bernama asli Mutsumi, setelah menemaninya singggah di prefektur Shiga, kini kami sudah sampai di Kyoto. Kota ini benar-benar favorit saya, persis seperti kota Yogya, kota budaya dan kota pelajar. Tempat dimana pagi hingga malam selalu dihidupkan oleh sukacita remaja kotanya.

"Eh Mutsumi bisa tolong carikan aku hostel murah di Kyoto?" Tanya saya
Mutsumi mengalihkan pandangan matanya sebentar, seraya tersenyum manis, 
"Udah tenang aja, nggak usah nginep, kalo sama saya aman, btw jangan panggil nama saya lengkap dong"
"Terus Mutsumi mau dipanggil apa?"
"Panggil aja Umi"
Saya mematung
.......
.......
Tiba-tiba saja terbayang Hadad Alwi berdendang bersama Sulis menyanyikan namanya.

Tsumi (saya tulis saja demikian, daripada malah tiap ngetik kebayang nyokap) menawarkan untuk stay di tempat temannya, ia bilang saya pasti suka dengannya, lantaran teman prianya itu memiliki passion yang sama dalam dunia film.

Mobil yang dikemudikan Tsumi, berbelok menuju sebuah flat bertingkat, aroma segar kota Kyoto saya hirup dalam-dalam, saya melempar jauh pemandangan indah kota. Bunyi lonceng sepeda dan semilir angin sore melayangkan imajinasi membayangkan petualangan alam yang menantang untuk dijelajahi.

Pesan di HP saya berbunyi, dan saya tersenyum membaca isinya. Setelah sekian tahun lamanya, besok saya akan berjumpa kembali dengannya, menyambut tantangan alam negeri Sakura. Bersama si Gadis bermata bening indah.

Minggu, 21 Februari 2016

A laddy who always painting the sky

Andrei B.
Surat itu saya temukan di buku harian tempat dimana biasa saya menuliskan catatan perjalanan, surat berwarna merah menyala. Ia pasti menyelipkannya diam-diam. Itu pun saya ketahui dua tahun kemudian, ketika saya memutuskan untuk pensiun dalam dunia penulisan dan petualangan. 

Surat merah dari si gadis lincah.


Didalamnya ada fotonya, memegang tulisan yang selesai ia buat.
Saat itu, saya memang sedang dalam tahap istirahat dari kegiatan menulis maupun jalan-jalan, ada sebuah kesadaran melihat teman-teman seusia saya yang menjalani fase berumah tangga dan berkarier. Sedang saya? Saya masih saja berkutat dengan catatan perjalanan dan berselimutkan atap penjuru negeri kala itu.

Sebelum berangkat ke kantor, saya menyempatkan diri mencari surat tersebut dan lalu membawanya ke kantor. Niat saya membacanya di kantor, selalu terhalang oleh pekerjaan yang menumpuk, belum lagi omelan dan instruksi atasan yang kadang membuat stamina saya terjun bebas.

Sebut saja si Boss, selaku atasan tempat saya bekerja di bidang advertising yang galaknya minta ampun. Kadang menjadi copywriter di suatu perusahaan kerja di Yogyakarta bisa dibilang menuntut kita berkerja dibawah tekanan deadline yang luar biasa ketat.

Kenyataan bahwa seharusnya surat berwarna merah tersebut saya buka tadi pagi, masih bertahan di tempatnya, di sudut meja diantara tugas-tugas ber-label deadline. Saya urung membukanya tadi pagi, begitu atasan saya, memergoki saya yang sumringah bersiap membaca surat darinya.

Saya sendiri jujur saja, bukan ini keinginan saya menjalani hidup... bekerja di bawah tekanan. Sementara insting petualangan saya masih membara.

Beranda facebook yang memuat kabar kelahiran anak dari teman-teman saya ataupun status engaged yang berubah menjadi married, seolah menjadi hantu-hantu masa depan dan tali temali yang kencang mengikat saya dibalik meja kerja.

“Kalo hidup kamu gak mapan? Jangan ngimpi buat ngelamar anak orang? Mau kamu kasih  makan apa? Ransel?” Ucap Boss yang tahu latar belakang saya.

Berbagai undangan talkshow, menjadi pembicara, sampai penerbit yang terus  menagih buku terbaru lewat email, selalu sukses saya pindahkan dari inbox ke trash.

Yah... sudah cukup.


Jam menunjukkan pukul 6 sore, kantor sudah mulai sepi. Boss mendapati saya yang masih di ruang kerja. Ia mengangguk dan menghampiri saya sembari tersenyum.

“Nah, begini kan lebih oke, face the reality! Kerja keras, gak usah banyak mimpi tinggi-tinggi! Dengar ya Rei, saya tahu kamu sudah banyak keliling negara, sedang saya ini paling banter juga pergi ke Bali, tapi lihat saya sekarang? Saya jadi Boss, dan saya yakin duit saya lebih banyak dari kamu, yang hobby nya buang-buang uang buat jalan-jalan. Gak guna!”

Si Boss menepuk bahu saya, sambil berucap:

“Oh ya, gak ada uang lembur loh, walau kamu kerja sampe larut malam pun”

Saya mengangguk-angguk, dan bernapas lega ketika boss pergi meninggalkan ruangan kerja, saya memeriksa internet download manager saya.

“Yeaah tinggal 10 menit lagi Miyabi beraksi”.

*

Ektase itu bernama masa lalu

Hujan turun sesaat saya membuka jendela kamar kost, lagu-lagu love song memories menjadi pengantar yang pas untuk rebah menghilangkan penat.

Buru-buru saya bangun, tersadar jika saya melupakan sesuatu. Yaah surat darinya. Dari Ling.

Saya masih menatap surat tersebut, yang lusuh dimakan waktu.

“Hai ganteng, apa kabar! (percayalah Rei, saya membiarkan panggilan ganteng ini karena sebelumnya saya tidak berhasil menahan muntah, sayang jika dihapus, sudah memakan korban!)

Saya tidak bisa menahan senyum. Entah mengapa, membaca paragraph pertama darinya saja sudah membawa saya terbang jauh, ke dunia yang penuh dengan hal yang tak tentu namun menyenangkan di dalamnya.

Paragraph awal itu hanya hiburan, saya seharusnya sudah menduganya.. karena paragraph berikut surat itu membuat saya terdiam lama.

Baru membaca setengah surat tersebut, memaksa saya untuk kembali mengingat-ingat kejadian dua tahun berselang. Lalu tertegun menemukan kebenaran dari isi surat tersebut.

Ia ternyata tidak bergurau...

Ini akan menjawab segala pertanyaan yang menghantui kami, menghantui saya dan Jules. Tentang hilangnya kabar Ling. Nomer handphone-nya sudah tidak lagi aktif, dan ketika Jules menanyai kampusnya tentang keberadaan Ling di Australia, ia sudah tidak lagi  melanjutkan kuliahnya. Bahkan Eduardo kekasihnya pun ternyata sudah lama tidak lagi bersama dengannya. Putus!

Entah mengapa saat itu perasaan saya nggak enak...

Jules, menyarankan untuk menjenguk keberadaan Ling di kota tinggalnya, dengan memperhitungkan jika kami sama-sama tinggal di Asia, tentunya lebih terjangkau dan dekat. Cih, dia kira, Asia itu seperti Eropa apa? 

Saat itu saya cuma bisa beralasan jika saya tidak tahu alamat rumahnya. 

Tiba-tiba saya teringat sesuatu, lalu bergegas membuka kembali inbox email pribadi. Dan benar, balasan dari Jules beberapa bulan yang lalu masih tersimpan, seolah menjawab kebimbangan saya.

Alamat rumah yang sempat ia tanyakan di administrasi kampus di Australia, Alamat rumah si gadis lincah. Ling.

...

Saya mengesampingkan jauh, hasrat untuk menemui Ling. Namun dengan ditemukannya surat merah dan informasi alamat rumahnya dari Jules. Mau tidak mau menggugah memori saya beberapa tahun lalu, tentang masa muda kami, tentang indahnya persahabatan, serta isi surat merah ini yang kembali meniupkan aroma perjalanan dengan penuh sukacita.

Kota Yogya masih hujan, di sudut kamar masih tergeletak berkas-berkas kantor yang harus segera di selesaikan... seolah kembali menyeret saya pada kenyataan.

Saya menghela napas panjang, dan mengangkat berkas yang menumpuk, mulai mencicil pekerjaan.

Berusaha sebisa mungkin menjadi pribadi waras dengan mengerjakan tugas-tugas kantor, masih di iringi Golden Love Song.

Dan lagu lama Peter Cetera mengalun menjadi dilema.

".. If you leave me now,
You'll take away the biggest part of me.
Baby please don't go.
And if you leave now
you'll take away the very heart of me"

**

Seminggu kemudian

Suara Boss seolah tercekat mendengar keinginan saya.

“Apa kamu bilang? Kamu pikir saya bakal kasih ijin kamu pergi seenaknya aja?!”

“Saya gak minta ijin Pak... saya mau berhenti kerja, resign.”

Si Bos tergugu, seolah hilang akal.

“Kamu mau kemana?”

“Cina daratan” ucap saya mantap. Sembari mengeluarkan surat pengunduran diri.

Sebelum saya pergi meninggalkan ruangan kerjanya, si Bos menghampiri saya, setelah mengeluarkan sesuatu dari laci meja kerjanya.

“Tolong ini di tanda tangani saja, titipan dari putri saya”

Si Bos mengeluarkan buku Travellous.

Saya mematung.

Si Bos setengah membisik “Putri saya bilang, twitter dia tolong di folbek”

....

....

Yogya tiba-tiba hujan lagi.

Coprights @ 2016, Blogger Template Designed By Templateism | Re-design By Andrei